Happy reading guys!
__________________________________________________
Aisyah menggeleng kecil melihat tingkah laku putranya itu. Lintar memang selalu punya nafsu makan yang luar biasa setiap kali muncul, sampai seringkali ia tidak sadar batas kemampuan tubuhnya sendiri.
"Sudah, sudah. Cukup itu saja makannya," kata Aisyah sambil menarik mangkuk sambal itu menjauh dari jangkauan Lintar.
Lintar yang tangannya sudah terulur hendak mengambil kembali sambal itu langsung menatap ibunya dengan wajah kecewa. "Eh, Bu! Masih ada banyak lagi loh. Ini kan enak banget, sayang kalau disisakan."
"Kamu ini, makan terus sampai kenyang banget. Lupa ya kalau tubuh ini bukan milik kamu seorang? Hali itu nggak tahan pedas, lupa ya? Kalau kamu makan terlalu banyak sambal nanti, besok pagi perutnya yang sakit, yang susah juga Hali nanti," tegur Aisyah.
Mendengar itu, Lintar langsung terdiam. Ia menatap sisa makanan di piringnya yang sudah hampir habis, baru menyadari bahwa ia sudah makan dua porsi lebih banyak dari biasanya.
"Oh ya... hampir lupa," gumamnya pelan, sedikit menundukkan kepala. "Hahaha, kebiasaan. Tiap kali keluar selalu rasa lapar banget, sampai lupa kalo tubuh ini punya Hali."
Amato tersenyum tipis melihat hal itu. "Untung Ibu cepat sadar, kalau nggak bisa-bisa kamu habiskan semua sambal di dapur."
"Ya sudahlah, makannya sudah cukup. Sisanya simpan buat makan besok. Sekarang kamu minum air putih yang banyak, biar nggak terlalu panas di dalam," tambah Aisyah sambil menyodorkan segelas air mineral ke hadapan Lintar.
Lintar menerima gelas itu dengan wajah sedikit cemberut, tapi ia tetap menurut. Ia minum air itu sampai habis dalam sekali tegukan.
"Iya deh, iya. Maaf ya, Bu. Nanti gue ingat-ingat lagi," ujarnya dengan nada manja yang membuat adik-adiknya tertawa kecil.
"Baguslah kalau begitu. Sekarang, selesai makan kamu istirahat ya. Besok pagi Oma dan Opa datang, kita semua harus siap-siap nanti," kata Aisyah.
Setelah selesai makan dan meletakkan peralatan makannya, Lintar langsung bangkit dari tempat duduknya dengan wajah ceria, bahkan sudah lupa apa yang dibilang padanya.
"Oke, makan sudah selesai. Sekarang waktunya nonton!" serunya antusias. Ia langsung melangkah menuju ruang televisi, diikuti oleh adik-adiknya yang semua ikut senang.
Mereka semua tahu, kesempatan untuk berkumpul dan menonton televisi bersama Lintar memang jarang terjadi. Biasanya saat Lintar muncul, ia lebih suka berkeliling atau melakukan hal-hal lain, bukan duduk diam menonton tv. Jadi malam ini, semuanya merasa ini adalah momen spesial.
Mereka berbaring dan duduk santai di atas karpet empuk dan sofa, saling berdesak-desakan agar didekat Kakak mereka. Lintar yang paling dekat dengan televisi dengan sigap mengambil remot kontrol. Tanpa bertanya atau meminta pendapat siapapun, ia langsung menekan tombol dan mencari saluran kesukaannya.
"Ini bagus nih! Baru keluar tahun lalu, ceritanya seru banget!" puji Lintar sambil tersenyum lebar, menikmati setiap adegan yang diputar.
Namun, antusiasnya Lintar berbanding terbalik dengan reaksi adik-adiknya.
"Ih, Kak! Ganti dong! Ini serem banget!" protes Taufan yang langsung menutup matanya dengan kedua tangan.
"Iya Kak! Darah-darahnya banyak banget, nggak enak dilihat!" tambah Gempa yang memalingkan wajah ke arah lain.
Ice dan Solar juga terlihat tidak nyaman. Sementara Thorn sudah bersembunyi di belakang tubuh Halilintar, matanya terpejam rapat-rapat.
"Kenapa sih mesti tontonan begini? Ga ada yang lain ya? Kita mau nonton kartun atau film komedi aja lah," ujar Solar yang juga mengerutkan hidung tidak suka.
ANDA SEDANG MEMBACA
SISA HUJAN LUKA [end]
FanfictionCtass! Ctass! Ctass! "Ayah, sakit Yah, badan Hali sakit..hiks..hiks!" Bugh! "Akhh!" Suara jeritan kesakitan terkeluar begitu sahaja dari mulut anak kecil itu. Dirinya ditendang oleh orang yang dia sayang tanpa terbesit sedikit pun rasa bersalah dala...
![SISA HUJAN LUKA [end]](https://img.wattpad.com/cover/379880814-64-k984467.jpg)