Happy reading guys!
__________________________________________________
Keheningan yang mencekam menyelimuti kamar itu setelah ledakan emosi Lintar. Halilintar masih terduduk di lantai, napasnya tersengal-sengal dengan tatapan mata yang kosong. Kata-kata Lintar terus berputar di kepalanya seperti kaset rusak, menghancurkan segala persepsi tentang dirinya yang selama ini ia bangun.
Di dalam kesadarannya, Lintar yang tadi meledak-ledak tiba-tiba menciut. Amarahnya seketika digantikan oleh rasa bersalah yang amat dalam. Ia menyadari bahwa ia baru saja menghancurkan satu hal yang paling ia jaga iaitu kewarasan Halilintar.
"Li... Hali... sori," bisik Lintar. Suaranya bergetar, kali ini benar-benar terdengar seperti isakan penyesalan. "Gue... gue ga bermaksud ngomong gitu. Gue tadi emosi... Hali, jawab gue, Li!"
Halilintar tidak menjawab. Ia tetap diam membatu, mencengkeram rambutnya begitu kuat hingga kulit kepalanya terasa pedih. Pikirannya benar-benar serabut, seperti benang kusut yang mustahil diurai. Ia mencoba mencari jejak memori tentang apa yang Lintar katakan, namun yang ia temukan hanyalah jalan buntu.
"Hali, dengerin gue! Gue cuma mau lo aman! Gue ga mau lo nanggung beban rasa bersalah itu, makanya gue simpen sendirian!" Lintar terus memohon di dalam sana, mencoba menyentuh kesadaran Halilintar yang mulai menjauh. "Li! Jangan diem kayak gini! Lo bikin gue takut!"
Namun, Halilintar tetap tidak bergeming. Baginya, suara Lintar sekarang terdengar seperti dengungan lebah yang mengganggu. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri. Ia merasa tangan yang ia gunakan untuk mengusap kepala Thorn, tangan yang ia gunakan untuk makan bersama keluarganya, adalah tangan yang pernah berlumuran darah dan hampir menghabisi nyawa orang.
"Diem, Tar. Gue capek," potong Halilintar singkat. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menenggelamkan diri dalam kegelapan agar tidak perlu memikirkan apa pun lagi.
Brak!
Pintu kamar akhirnya terbuka setelah Amato menggunakan kunci cadangan dengan terburu-buru. Aisyah, Gempa, dan Taufan menyusul di belakangnya dengan wajah yang pucat pasi. Mereka mengira akan menemukan kekacauan atau Halilintar yang sedang mengamuk, namun pemandangan di depan mereka justru terasa sangat tenang, terlalu tenang.
Halilintar tampak sedang berbaring di atas tempat tidur dengan posisi telentang dan matanya terpejam rapat. Lampu meja yang remang-remang membuat bayangan di wajahnya terlihat tirus dan pucat.
"Hali?" bisik Amato pelan, melangkah mendekati ranjang.
Tidak ada jawaban. Napas Halilintar terdengar berat dan teratur, seolah ia baru saja jatuh ke dalam tidur yang sangat lelap karena kelelahan.
"Syukurlah... dia sepertinya sudah tidur," desah Aisyah pelan, bahunya merosot lega. Ia berjalan mendekat, membenarkan posisi bantal Halilintar dan mengusap dahi putranya yang masih terasa dingin oleh keringat. "Mungkin dia tadi bicara sendiri sama Lintar sampai kecapekan."
Taufan dan Gempa saling pandang. Mereka masih ingat suara teriakan Halilintar yang terdengar tadi, namun melihat kakak mereka sudah terlelap, mereka pun tidak ingin mengganggu.
"Ayo, biarkan dia istirahat. Dia butuh ketenangan setelah semua kejadian hari ini," ujar Amato sambil menggiring anak-anaknya keluar kamar. "Gempa, matikan lampunya."
Klik.
Lampu meja dipadamkan, menyisakan kamar dalam kegelapan total. Pintu ditutup perlahan, meninggalkan kesunyian yang tebal.
ANDA SEDANG MEMBACA
SISA HUJAN LUKA [end]
Fan-FictionCtass! Ctass! Ctass! "Ayah, sakit Yah, badan Hali sakit..hiks..hiks!" Bugh! "Akhh!" Suara jeritan kesakitan terkeluar begitu sahaja dari mulut anak kecil itu. Dirinya ditendang oleh orang yang dia sayang tanpa terbesit sedikit pun rasa bersalah dala...
![SISA HUJAN LUKA [end]](https://img.wattpad.com/cover/379880814-64-k984467.jpg)