Happy reading guys!
__________________________________________________
Seperti malam biasanya, semua anggota keluarga sudah berkumpul untuk makan malam bersama. Aisyah dan Amato duduk berdampingan di ujung meja, sementara Taufan dan yang lainnya sudah sibuk mengambil lauk pauk. Manakala, Halilintar duduk diantara Thorn dan Blaze.
Setelah beberapa menit makan, Halilintar akhirnya membuka suara. Matanya langsung tertuju pada Gempa yang duduk di seberangnya.
"Gem... gimana keadaan Miyo? Kata dokter apa tadi?" tanya Halilintar dengan suara pelan namun jelas terdengar di seluruh ruangan yang sedikit hening.
Pertanyaan itu membuat semua orang menoleh serentak. Solar menghentikan suapan sendoknya, alisnya bertaut bingung.
"Miyo? Hamster kesayangan Gempa itu? Ada apa dengan dia, Kak?" tanya Solar langsung. Ia sama sekali tidak mengetahui kejadian sore tadi, begitu juga dengan yang lainnya selain Taufan dan Gempa.
Gempa menelan makanannya terlebih dahulu sebelum menjawab. "Itu tadi sore, Kak Hali lagi main sama Miyo di kamar aku. Terus tangannya nggak sengaja nyenggol bucu meja, jadi Miyo jatuh ke lantai. Makanya kami langsung bawa ke klinik hewan."
"Jatuh? Parah sampai harus dibawa ke dokter?" tanya Aisyah. "Lalu gimana hasilnya?"
"Syukurlah nggak ada patah tulang, Bu. Cuma memar di kaki belakangnya. Dokter bilang cuma perlu istirahat dan diobatin seminggu, nanti sembuh sendiri," jelas Gempa sambil tersenyum tipis mencoba menenangkan mereka semua.
"Kok bisa sampai jatuh gitu?" tanya Blaze yang duduk di samping Halilintar. "Kak Hali mainnya kasar ya?"
"Enggak enggak!" bantah Gempa cepat-cepat. "Ini benar-benar kecelakaan. Kak Hali juga sampai panik banget, bahkan tadi mukanya pucat sekali pas kita mau berangkat."
Mendengar penjelasan Gempa, beban berat yang selama ini menghimpit dada Halilintar perlahan terangkat. Napasnya yang tadinya tertahan kini bisa dihembus lega. Setidaknya, adik-adiknya tidak menyalahkannya, dan Miyo juga tidak mengalami luka yang parah. Rasa bersalah yang memenuhi hatinya mulai sedikit memudar.
"Syukurlah..." gumam Halilintar pelan, senyum kecil terukir di bibirnya. Beban di dadanya kini terasa jauh lebih ringan.
Namun, ketenangan itu segera terpecah ketika Amato meletakkan sendoknya dengan pelan dan menatap seluruh anak-anaknya dengan senyum tipis.
"Ngomong-ngomong, Ayah ada kabar baik ni," ujar Amato membuat semua mata tertuju padanya. "Oma dan Opa akan datang besok pagi. Mereka mau tinggal di sini selama beberapa hari."
"Beneran, Yah?!" seru Taufan dengan wajah berbinar dn dibalas anggukan oleh Amato. "Asyik! Lama banget ga ketemu Oma dan Opa!"
"Oma pasti bawa banyak makanan lagi ya?" tambah Ice.
"Yeay Oma datang!" Thorn di sebelah berseru dengan sangat senang.
Namun, di antara mereka, hanya Halilintar yang terdiam. Senyum di bibirnya perlahan memudar, dan jantungnya kembali berdegup kencang dengan rasa cemas yang tak bisa dijelaskan. Ia langsung teringat kembali waktu dulu, di mana tatapan penuh kebencian Oma yang hanya ia rasakan.
ANDA SEDANG MEMBACA
SISA HUJAN LUKA [end]
FanfictionCtass! Ctass! Ctass! "Ayah, sakit Yah, badan Hali sakit..hiks..hiks!" Bugh! "Akhh!" Suara jeritan kesakitan terkeluar begitu sahaja dari mulut anak kecil itu. Dirinya ditendang oleh orang yang dia sayang tanpa terbesit sedikit pun rasa bersalah dala...
![SISA HUJAN LUKA [end]](https://img.wattpad.com/cover/379880814-64-k984467.jpg)