27

152 24 1
                                        

Happy reading guys!

__________________________________________________

Pantai Pasir Biru terletak cukup jauh dari kota, tapi pemandangannya yang sangat indah telah memukau para pengunjung yang melihatnya. Malah, tempat ini hampir setiap hari dikunjung ramai orang.

Air laut membentang luas, berkilauan di bawah sinar matahari. Pasirnya putih bersih, dengan pepohonan kelapa yang melambai tertiup angin di tepi pantai yang tidak terdedah air laut.

Begitu mereka tiba, Taufan dan yang lain langsung berlarian ke pantai dengan tawa riang.

Solar sibuk berselfie, sementara Thorn sudah melompat ke air, bermain dengan Taufan dan Blaze serta Ice yang sudah membawa pelampung bentuk ikan jerung bersamanya.

Di tempat yang teduh, Aisyah sibuk menyiapkan makanan mereka dan dibantu oleh Gempa, sementara Amato berdiri di tepi pantai, memperhatikan anak-anaknya yang sibuk bermain air laut.

Namun, di tengah semua kesibukan itu… Halilintar tetap diam hanya memerhati. Dia duduk sendirian di bawah pohon, menatap laut dengan ekspresi kosong. Bahkan di tengah keluarganya sendiri, dia masih berdiam diri.

Setelah beberapa saat, Amato berjalan mendekat kearahnya. Dia duduk di samping Halilintar, tanpa mengatakan apa pun. Mereka hanya diam, menikmati suara deburan ombak.
Beberapa menit berlalu sebelum Amato akhirnya berbicara.

"Kalau Hali mau tahu, pantai selalu buat Ayah merasa tenang."

Halilintar tidak menanggapi.

Amato melanjutkan karena pasti anak itu mendengarnya, "dulu, saat Ayah masih remaja, Ayah sering duduk di tepi pantai seperti ini, melihat pantai membuat Ayah menjadi lebih tenang."

Halilintar meliriknya sekilas, tapi tetap diam.

"Kadang-kadang, Ayah merasa dunia terlalu berat untuk ditanggung," lanjut Amato. "Tapi saat Ayah menatap laut, Ayah sadar betapa kecilnya diri ini dibandingkan dengan dunia di luar sana."

"Dan entah kenapa, itu membuatkan Ayah merasa pikiran yang sebelumnya kacau menjadi lebih ringan seperti tiada masalah."

Halilintar akhirnya membuka bicara, suaranya terdengar pelan. "Lalu… apa gunanya?" soalnya.

Amato tersenyum tipis. "Gunanya? Mungkin hanya untuk mengingatkan diri sendiri bahwa kita tidak sendirian."

Halilintar menunduk, memainkan pasir di tangannya. Amato di sebelah hanya menatapnya lembut.

"Kau merasa seperti itu?" tanyanya lembut.

"Dulu, waktu aku di sana."

Halilintar menggigit bibirnya, tapi tidak terus melanjutkannya. Namun, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dia akhirnya sedikit terbuka. Dan bagi Amato, itu sudah cukup sebagai awal mereka mendekatkan diri dengan anak itu.

Sore itu, terlihat enam anak remaja yang asyik bermain air. Tak lama kemudian, saudara kembar itu menyeret Halilintar ke dalam air. Halilintar yang sudah terbaring nyaman di bawah pohonpun terpaksa menuruti adik-adiknya.

"Ayo, Kak! Sekali ini saja!" rengek Thorn, menarik tangannya.

"Kami ga akan lepaskan kalau kakak ga ikut!" tambah Gempa.

Halilintar menghela napas panjang. Tapi melihat wajah penuh harap mereka, dia akhirnya menyerah. Dia melepas sepatunya dan masuk ke air.

Awalnya, dia hanya berdiri diam, membiarkan air menyentuh kulitnya. Tapi kemudian, Taufan menyipratkan air ke arahnya.

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang