49

92 15 0
                                        

Happy reading guys!

__________________________________________________



Keheningan yang pekat menyelimuti ruangan itu. Hanya terdengar suara napas pendek Lintar yang tertahan. Tangan Aisyah masih mengusap lembut helai demi helai rambut putranya, memberikan kehangatan yang selama bertahun-tahun ini ditolak oleh tembok pertahanan di dalam diri Halilintar.

Lintar perlahan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bahunya yang tadinya tegang dan kaku, perlahan-lahan merosot. Ia tidak lagi tampak seperti predator yang waspada, melainkan seperti anak kecil yang akhirnya menemukan tempat persembunyian yang aman dari badai.

"Ibu..." bisik Lintar. Suaranya sangat tipis, hampir tenggelam dalam isak tangisnya sendiri yang mulai pecah. "Gelap... di sana gelap banget kalau gue ga jaga."

Amato mendekat lalu berlutut di depan sofa agar posisinya sejajar dengan putranya. Ia menggenggam tangan kiri Lintar yang gemetar. "Ayah sudah di sini, Lintar. Kamu nggak perlu lagi sendirian di kegelapan itu hanya untuk memastikan Hali tetap aman. Ayah dan yang lain ada di sini."

Taufan, Blaze, dan yang lainnya terdiam. Mereka melihat pemandangan yang menyayat hati, sosok yang kasar dan berbahaya, kini sedang hancur dalam tangisan.

Doktor Ardi memperhatikan dengan seksama. Ia melihat sebuah perubahan fisiologis. Napas Lintar yang tadinya memburu mulai melambat. Detak jantung yang terlihat dari denyut nadi di lehernya mulai stabil. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Tatapan mata Lintar yang tadinya tajam, perlahan-lahan meredup, beralih menjadi tatapan ruby yang  tenang.

"Lintar?" panggil Doktor Ardi pelan.

Sosok itu mengerjapkan mata beberapa kali. Ia merasakan tangan hangat di kepalanya dan genggaman kuat di tangannya. Ia mendongak, menatap Aisyah dan Amato dengan pandangan yang bingung.

"Ayah... Ibu..." ucapnya dengan wajah yang bingung. Bingung. Ditambah lagi masih ada sisa air mata di pipinya.

Ia merasakan sisa rasa manis cokelat di lidahnya dan melihat toples biskuit yang sudah berkurang isinya. Ia juga menyadari biskuit yang hancur di atas meja. Hanya beberapa keping ingatan yang samar-samar di benaknya.t

"Halilintar," Doktor Ardi memajukan tubuhnya. "Apa kamu merasa lebih ringan sekarang?"

Halilintar mengangguk pelan. Ia menarik napas panjang. "Terima kasih, Dok," ucap Halilintar tulus.

Namun, saat suasana mulai mencair, Solar tiba-tiba menyahut, "Jadi, Kak Hali ingat ga tadi minta uang ke Kak Taufan?"

Halilintar membelalakkan mata, wajahnya mendadak merah padam. "Hah? Gue... gue minta uang?"

Taufan tertawa lepas, diikuti oleh Blaze. "Iya! Katanya daripada kasih jempol mending kasih uang! Wah, Kak Lintar ternyata matre juga ya!"

"G-nggak mungkin! Itu bukan gue!" protes Halilintar sambil berusaha menutupi wajahnya yang memerah, membuat seluruh ruangan meledak dalam tawa, termasuk Amato dan Aisyah.

Doktor Ardi membiarkan tawa itu mengalir sejenak, memberikan ruang bagi ketegangan yang sedari tadi menggantung untuk luruh sepenuhnya. Ia menyesap teh hangatnya yang sudah mulai dingin, matanya beralih ke buku catatan kecil miliknya.

"Nah, Halilintar," panggil Doktor Ardi setelah tawa di ruangan itu mereda. "Sekarang kamu sudah kembali. Bagaimana perasaanmu? Apa kamu masih merasakan kehadiran Lintar di dalam sana?"

Halilintar terdiam sejenak. Ia memejamkan mata, mencoba menyelami alam bawah sadarnya sendiri.

"Dia ada," jawab Halilintar singkat. "Kalau gue sih udah sedikit ringan nih perasaan."

Aisyah mengusap bahu Halilintar dengan lembut. Mendengar bahwa sosok pelindung itu akhirnya bisa beristirahat membawa kelegaan di hatinya.

"Itu perkembangan yang bagus," ujar Doktor Ardi mantap.

Doktor Ardi kemudian menatap adik-adik Halilintar satu per satu. "Dan untuk kalian, bantuan kalian tadi sangat luar biasa. Penerimaan kalian terhadap Lintar adalah kunci utama. Jangan takuti dia, tapi rangkul dia seperti kalian merangkul Halilintar. Karena pada dasarnya, mereka adalah satu jiwa yang hanya terbagi karena luka."

"Siap, Dok! Nanti kalau dia keluar lagi, bakal gue kasih biskuit setruk!" seru Blaze semangat, yang langsung dihadiahi jitakan pelan dari Gempa.

"Jangan setruk juga, Blaze. Nanti Kak Hali yang nanggung sakit gigi," tegur Gempa sambil tersenyum.

Sesi konsultasi hari itu diakhiri dengan suasana yang jauh lebih ringan. Sebelum pulang, Doktor Ardi memberikan sebuah kotak kecil kepada Halilintar. Saat dibuka, isinya adalah sebuah jam pasir kecil dengan pasir berwarna merah terang.

"Gunakan ini kalau kamu merasa kamu gelisah," pesan Doktor Ardi. "Lihat butiran pasirnya yang jatuh dengan tenang."

Halilintar menerima kotak itu dengan tangan yang mantap. "Terima kasih, Dok."

Saat mereka berjalan keluar menuju mobil, matahari pagi sudah bersinar terik, menghangatkan halaman rumah Tante Leisya. Taufan langsung merangkul pundak Halilintar, Halilintar tidak menepisnya, meski ia tetap memasang wajah datarnya.

"Kak Hali, habis ini kita makan soto lagi yuk? Gue yang bayar deh, kan tadi Kak Lintar sudah minta uang!" goda Taufan sambil lari menjauh.

"TAUFAAAAN! SINI LO!" teriak Halilintar.



__________________________________________________

Tbc...

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang