19

157 25 0
                                        

Happy reading guys!

__________________________________________________



Pagi di SMA Garuda berjalan seperti biasa. Murid-murid memenuhi lorong-lorong sekolah, beberapa sibuk mengobrol, beberapa lainnya terburu-buru menuju kelas.

Namun, suasana berbeda terasa di salah satu sudut lapangan belakang sekolah. Kerumunan murid terbentuk, mengelilingi dua sosok yang sedang berhadapan dengan tegang.

Di tengah lingkaran itu, Halilintar berdiri menatap dingin seorang siswa dan orang itu adalah Reza—salah satu anak berandalan yang terkenal sering mencari masalah.

"Lo sok jagoan, ya?" suara Reza terdengar seperti mengejek.

Halilintar tidak menjawab. Mata tajamnya tetap terfokus pada Reza, tanpa sedikit pun menunjukkan ekspresi.

"Gue dengar lo suka sok dingin dan susah didekati, huh?" Reza melangkah mendekat, mencoba memprovokasi. "Atau jangan-jangan, lo cuma pengecut yang ga berani melawan?"

Murid-murid di sekitar mulai berbisik, beberapa dari mereka bahkan mulai merekam dengan ponsel.

Taufan, Gempa, dan Thorn yang baru tiba langsung terkejut melihat Halilintar berada dalam situasi itu. Mereka mengetahui kabar ini dari teman sekelas mereka.

"Astaga, kak Hali!" seru Thorn, segera berusaha menerobos kerumunan.

Namun sebelum mereka bisa mendekat, tanpa peringatan, Reza menendang meja kayu yang terbiar di dekatnya hingga jatuh ke lantai dengan keras.

"Kalau lo memang lelaki, ayo lawan gue!" tantangnya dengan senyum mengejek yang masih kekal di wajahnya.

Halilintar diam tidak bergerak. Dia menatap Reza dengan tatapan kosong, lalu berjalan mendekat, langkahnya tenang namun membawa ancaman pada mangsanya.

Dan tanpa ada yang menduga—

Halilintar mengayunkan tinjunya dengan cepat!

Bugh!

Pukulan keras mendarat tepat di wajah Reza, membuatnya terhuyung ke belakang dan jatuh ke tanah.

Kerumunan langsung gempar.

"WOAH!"

"Dia beneran mukul! gila!"

Beberapa murid bersorak, sementara yang lain menahan napas, tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.

Namun Halilintar tidak berhenti di situ. Dia menarik kerah baju Reza, menatapnya dengan dingin.

"Lk cari masalah dengan orang yang salah," suaranya rendah dan mengancam. Netra rubynya sedikit menggelap memandang orang di depannya. Reza dapat melihat jika Halilintar sekarang tengah menyeringai padanya dan itu membuat bulu kuduknya menegak. Seram.

Namun sebelum situasi semakin memburuk—

"HALILINTAR! HENTIKAN!"

Suara keras itu berasal dari seorang guru, Pak Danang, yang datang dengan ekspresi marah.

Halilintar langsung melepaskan Reza dan berdiri tegak, tapi tatapan dinginnya tetap sama.

"Semua bubar! Halilintar, Reza, ikut saya ke ruang BK sekarang juga!"



Halilintar duduk di kursi di depan meja Pak Danang, disebelah terlihat Reza yang tengah duduk manis di tempatnya, sementara di sisi lain, Kepala Sekolah, Pak Surya, duduk dengan wajah serius.

Di luar ruangan, Taufan, Gempa, Blaze, dan Thorn menunggu Halilintar selesai.

Pak Surya menghela napas panjang. "Halilintar, ini bukan pertama kalinya kamu terlibat masalah di sekolah."

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang