23

160 22 1
                                        

Happy reading guys!

__________________________________________________



Halilintar terbangun dari lelapnya yang singkat.

"ARKKHH!" Dia refleks menjerit, posisinya menjadi duduk karena tersentak.

Nafasnya memburu. Dadanya turun naik dengan cepat, seolah paru-parunya kehabisan udara. Tubuhnya basah dengan peluh dingin, rambutnya melekat di dahi karena basah.

Matanya liar menatap sekeliling, cuba memastikan di mana dia berada. Setelah itu dia menghembus napas panjang. Lega. Dia di kamarnya.

Sepatutnya dia tidak ingin melelapkan matanya tadi tapi karena kantuknya yang menyerang dia tertidur juga. Pada akhirnya tenggelam lagi dalam mimpi itu.

Tangannya bergetar saat dia menyentuh wajahnya. Matanya berkaca-kaca, tetapi dia enggan menangis lagi. Tidak. Dia sudah cukup lemah.

Setiap malam... mimpi itu selalu kembali.

Setiap malam... dia terperangkap semula dalam ingatan yang menghantuinya.

Dan dia tahu... sampai kapanpu  ingatan buruk itu tidak akan pernah hilang di dalam pikirannya.



Di luar kamar Halilintar...

Mereka saling berpandangan. Taufan menatap sendu ke arah kamar itu begitu juga dengan Gempa. Blaze dan Thorn hanya mampu mengernyit hairan dan tertanya-tanya. Jeritan itu... ia masih terngiang di telinga mereka. Manakala, Ice dan Solar terdiam.

"Kak Hali mimpi buruk?" bisik Thorn pada Gempa. Netra emerald itu menatap sang kakak, menanti jawapan.

Taufan mengepalkan tangannya. "Gue sudah ga tahan. Kita harus lakukan sesuatu."

"Tapi... kalau kak Hali tetap tidak membuka dirinya gimana?" tanyanya. Gempa menatap pintu kamar kakaknya dengan ekspresi sendu.

Taufan menghela nafas panjang sebelum menatap mereka bertiga dengan serius. "Kalau dia tetap tidak mahu bicara... maka kita akan mencari tahu sendiri."

Mereka berenam saling mengangguk. Sebab mereka tahu, Halilintar sedang menyembunyikan sesuatu. Mereka tidak mahu saudara mereka menanggung itu sendirian.

Dan mereka akan pastikan, kakak mereka kembali kepada mereka seperti sepuluh tahun yang lalu. Sosok kakak yang penyayang dan terbuka dengan keluarganya.



Selepas jeritan Halilintar menggema di rumah, suasana kembali sunyi.

Di dalam kamar utama, Amato duduk di tepi ranjang, matanya menatap kosong ke lantai. Wajahnya kelihatan sedih mendengar jeritan Halilintar yang tersirat kesakitan itu. Mereka mendengarnya.

Di sisi lain, Aisyah berdiri di tepi jendela, memandang bulan yang menggantung di langit malam.

Dalam hati mereka, ada satu perasaan yang sama, ketakutan. Mereka tidak bisa terus membiarkan anak mereka begitu. Dan menganggap bahawa semuanya baik-baik saja.

Aisyah akhirnya memecah keheningan. "Ini bukan pertama kalinya," suaranya lirih, hampir berbisik.

Amato mengangkat wajah, "apa maksudmu?"

Aisyah menggigit bibirnya, tangannya saling menggenggam erat, seakan cuba menahan perasaan yang berkecamuk dalam dadanya.

"Halilintar... anak itu sering alami mimpi buruk."

Amato terdiam.

"Aku sering dengar dia mengigau di malam hari. Kadang-kadang aku terdengar dia menangis."

Aisyah berpaling, menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca, "aku takut, Amato. Aku takut dia masih menyimpan sesuatu."

Amato menarik nafas dalam. "Trauma..." bisiknya pelan.

Aisyah mengangguk, "aku ga tahu apa yang anak kita sudah alami sebelum ni. Tapi aku yakin... sesuatu terjadi padanya."

Amato mengepal tangannya di atas paha. Aisyah benar. Dan yang membuatnya lebih frustasi... adalah mereka tidak tahu bagaimana untuk menolong anak mereka.

Aisyah duduk di samping Amato, suara lembutnya kembali bersuara. "Kau tahu... sejak Halilintar kembali setelah diculik dulu, aku selalu merasa ada sesuatu yang ga beres."

Amato menatapnya dalam, "kau juga merasakannya?"

Aisyah mengangguk, "dia masih Halilintar... tapi di saat yang sama, dia bukan Halilintar yang kita kenal."

"Dulu anak itu ceria, terbuka dengan kita. Malah, anak itu juga adalah sosok kakak yang sangat peduli pada Taufan dan yang lain. Tapi setelah dia kembali, dia berubah. Seolah-olah, apa yang dia sudah lalui sebelum ni sudah merubahnya," lirihnya. Netranya berkaca-kaca sejak tadi.

Amato menunduk, cuba mengingat. Ya, memang ada sesuatu yang berubah.

Halilintar lebih sering diam dan tertutup. Dia juga malah menatap mereka berdua dengan tajam kadang-kadang.

Tapi mereka menganggap itu hanyalah kesan sementara. Mereka mengira seiring waktu, Halilintar akan kembali seperti dulu.

Tapi ternyata... dia tidak pernah kembali.

Aisyah mengusap wajahnya, cuba menghapus air mata yang dari tadi deras mengalir di wajah lembutnya itu, "apa kita salah, Amato?"

Amato menoleh, "apa maksudmu?"

Aisyah menatapnya dengan mata penuh berkaca-kaca, "apa kita salah kerana ga pernah benar-benar bertanya tentang apa yang terjadi padanya dulu? apa kita salah kerana membiarkannya memendam semuanya sendirian?" lirihnya.

"Seharusnya kita ga biarkan dia berubah menjadi sosok yang bahkan ga bisa kita kenali sekarang."

Amato terdiam lama.

Lalu, dia menggenggam tangan Aisyah dengan erat, "kita bukan orang tua yang sempurna, Aisyah."

"Tapi kita masih boleh memperbaikinya."

Aisyah menatap suaminya, matanya berbinar penuh harap. "Lalu... apa yang harus kita lakukan?" tanyanya.

Amato menarik nafas panjang. "Aku bicara dengannya. Tapi kalaupun Hali ga ingin bicara, aku akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi padanya."



Di dalam kamar yang sunyi, Halilintar terbaring di katilnya. Matanya kosong, menatap langit-langit dengan pandangan kabur. Dada dan tenggorokannya terasa sakit dan sesak.

Dia masih boleh merasakan dan sangat jelas tersimpan di memorinya. Dia sangat membenci itu semua, suara-suara yang selalu menggema di kepalanya sukar untuk dia abaikan.

Air mata menggenang di sudut matanya. Tangannya bergetar saat dia mengangkatnya untuk menutupi wajahnya. Bulir mutiara itu lolos juga. Dia menangis. Dengan isakan yang tertahan bersama air mata yang tidak berhenti mengalir di wajahnya. Dan bahkan, sesiapa saja yang melihatnya pasti akan merasa sesak di dada melihat bagaimana kondisi sosok yang menyedihkan itu.



Taufan dan yang lain masih berdiri diam. Taufan menatap lamat pintu itu. Dia ingin mengetuk pintu kamar tersebut.. ingin memastikan saudaranya baik-baik saja.

Namun, sebelum dia sempat melakukannya, dia mendengar sesuatu. Begitu juga dengan yang lain. Isakan lirih yang tertahan. Mereka saling pandang dan kemudian tertunduk. Hati mereka rasa sesak dan sakit.

Halilintar menangis.

"Kak... seharusnya kau ga menanggung ini sendirian," lirih Taufan.

Tangannya terangkat, ingin mengetuk pintu. Tapi dia ragu. Apakah dia harus masuk? Dia mengepalkan tangannya. Tidak.

Dia tidak boleh membiarkan saudaranya itu terus tenggelam terlalu dalam pada rasa sakitnya. Mereka harus melakukan sesuatu untuk membawa Halilintar kembali ke permukaan dan melihat bersama betapa indahnya langit biru di atas.



__________________________________________________

Tbc...

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang