Happy reading guys!
__________________________________________________
Jeritan kesakitan mengalun indah menjadi satu-satunya irama yang ada. Mayat-mayat dengan bentuk yang sudah tidak sempurna menjadi panorama juga darah yang mengalir di setiap tubuh menghiasi pemandangan tersebut.
Rasa sakit dan penderitaan yang ia terima dari Aqsa sampai kini terasa di setiap tubuhnya. Ugutan, paksaan dan manipulasi memakan dirinya untuk mendesak ia melakukan hal yang tidak berperikemanusiaan. Aqsa, orang itu menyakiti dan menghancurkan mental Halilintar.
Kenangan itu terlintas kembali di ingatannya. Lintar tersenyum. Matanya kembali fokus pada lelaki di hadapannya.
“Kayaknya seru…” bisiknya perlahan.
Seolah-olah kenangan itu bukan menyakitkan, tetapi menyeronokkan. Tangannya bergerak lagi, kali ini lebih kasar. Dia menolak pelajar itu jatuh ke lantai lalu menginjak dengan keras perut siswa tadi.
“Bangun,” katanya perlahan.
Pelajar itu terhuyung-hayang, ketakutan jelas di wajahnya sekarang. “Lo… lo siapa sebenarnya…?”
Lintar melangkah mendekat, perlahan… seperti pemangsa.
“Gue?” dia berhenti tepat di depan.
Senyumannya hilang. Diganti dengan wajah dingin.
“Gue itu dia dan dia adalah gue.”
"Ga jelas." Siswa itu cuba melarikan diri, namun Lintar lebih pantas memojokkannya semula.
Dia menarik kembali tubuh siswa itu dan menolak ke lantai dengan kuat. Lututnya menekan dada mangsa, mengunci pergerakan.
“Jangan… jangan…” suara pelajar itu mula pecah.
Lintar tunduk sedikit, berbisik di dekat telinganya, “Dulu… gue juga pernah cakap kek gitu.”
Dan tanpa ragu, Lintar melayangkan satu lagi pukulan. Kemudian satu lagi. Dan satu lagi.
Setiap pukulan bukan sekadar melepas dendam amarahnya tadi, tetapi bayangan masa lalu yang berulang melintas di pikirannya terus mengganggu, seolah melepas beban di bahunya.
Hal itu justru membuat siswa di bawahnya terlihat seperti Aqsa yang dulu pernah menyeksanya. Melihat itu, Lintar mengeluarkan benda besi yang ada di sebalik baju Halilintar dan lantas menusuknya tepat ke tulang pipi siswa itu.
Jeritan kesakitan menggema, siswa tadi meringkuk kesakitan dengan tangannya memegang pipinya. "Warghh... Saaakkiiitt!"
Lintar mendekat langsung menendang belakang kepala siswa tadi, menambahkan kesakitan yang belum habis. Dia berjongkok di depan siswa yang meringkuk kesakitan dan dengan tarikan kasar, Lintar melepas pisau yang menempel pada wajah siswa itu.
"Argghh!"
Lintar menatap pisaunya yang berlumuran darah lalu menatap lelaki di depannya. Lintar menarik nafas perlahan, seolah-olah sedang menikmati setiap detik yang berlaku di hadapannya.
Siswa itu sudah tidak mampu melawan. Tubuhnya lemah, nafasnya tersekat-sekat. Setiap kali dia cuba bergerak, hanya kesakitan yang menjawab.
Lintar yang duduk mencangkung di hadapannya, memandang dengan penuh minat. “Baru sikit loh…” katanya dengan ceria. “Lemah.”
Siswa itu menggigil, suaranya juga pecah. “T-tolong… gwe… gwe minta maap…” ucapnya kaku karena luka yang didapatnya.
Lintar tersenyum nipis.
“Maaf yah?” dia mengulang, seolah-olah perkataan itu asing. “Dulu gue juga pernah cakap benda sama tapi… ”
ANDA SEDANG MEMBACA
SISA HUJAN LUKA [end]
FanfictionCtass! Ctass! Ctass! "Ayah, sakit Yah, badan Hali sakit..hiks..hiks!" Bugh! "Akhh!" Suara jeritan kesakitan terkeluar begitu sahaja dari mulut anak kecil itu. Dirinya ditendang oleh orang yang dia sayang tanpa terbesit sedikit pun rasa bersalah dala...
![SISA HUJAN LUKA [end]](https://img.wattpad.com/cover/379880814-64-k984467.jpg)