51

86 14 2
                                        

Happy reading guys!

__________________________________________________




"Kak Hali! Kak Lintar! Kami pulang!" teriak Thorn sambil berlari menuju lantai atas. Ia bahkan tidak memedulikan tas sekolahnya yang hampir terjatuh dari bahu.

Thorn langsung menuju kamar Halilintar dan membuka pintunya dengan lebar. "Kakak, lihat nih Thorn bawa—" Kalimatnya terputus. Kamar itu kosong. Ranjangnya rapi, jaket merah yang selalu Halilintar pakai tidak ada di sana, dan juga suasana kamar terasa sunyi.

Thorn melongok ke bawah tangga dengan wajah cemas. "Ibu! Kak Hali mana? Kak Hali kok nggak ada di kamarnya?"

Aisyah yang sedang menyiapkan teh di dapur pun mendongak. "Loh? Tadi katanya mau jalan-jalan sebentar cari udara segar di taman depan kompleks. Masa belum pulang?"

Mendengar itu, Thorn langsung cemberut. "Yah... padahal Thorn sudah buru-buru pulang mau kasih lihat gambar bunga yang Thorn buat di sekolah tadi."

Tepat saat itu, terdengar suara langkah kaki dari arah teras depan. Pintu depan terbuka, menampakkan sosok Halilintar. Namun, ada yang berbeda. Cara berdirinya lebih santai, tatapan matanya tajam, dan auranya terasa lebih... dingin.

Di tangan kanannya, ia menjinjing sebuah kantong plastik kecil.

"Kak Hali!" panggil Blaze yang baru keluar dari dapur. "Dari mana aja?"

Sosok itu tidak langsung menjawab. Ia melirik Blaze sekilas, lalu beralih ke Thorn yang menatapnya dengan rasa penasaran yang tinggi. Ia mengangkat kantong plastik itu ke udara.

"Tadi gue lewat minimarket depan, dan pas banget gue lagi lapar," ucapnya dengan nada ketus khasnya.

Mata Thorn langsung berbinar. "Kak Lintar?! Ini Kak Lintar ya?"

Lintar mendengus, mencoba menyembunyikan rasa canggungnya saat dikerumuni saudara Halilintar. Ia berjalan menuju meja makan dan meletakkan kantong plastik itu. Di dalamnya, terlihat dua paket biskuit cokelat ukuran besar.

"Nih," gumam Lintar sambil menyodorkan satu paket biskuit ke arah Thorn. "Katanya lo mau bolos sekolah demi gue tadi pagi. Dasar bocah kurang kerjaan. Makan tuh biskuitnya."

Thorn menerima biskuit itu dengan tangan gemetar karena senang. "Wah! Kak Lintar beliin buat Thorn?"

"Jangan kegeeran. Gue beli dua karena gue juga mau makan," sahut Lintar cepat, tangannya dengan cekatan membuka paket biskuit yang satunya lagi. Ia mengambil sekeping biskuit cokelat dan mulai mengunyahnya dengan ekspresi yang meskipun berusaha terlihat galak, tetap saja terlihat lahap.

Taufan yang baru muncul dari belakang langsung tertawa melihat pemandangan itu. "Ciyee, perhatian banget sama adeknya sampai bela-belain jalan ke minimarket."

Lintar berhenti mengunyah sebentar, menatap Taufan dengan tajam. "Diem lo, Biru. Mau gue lempar biskuit ini ke muka lo?"

Bukannya takut, Taufan malah merangkul bahu Lintar. "Aduh, galaknya Kakak kita yang satu ini. Eh, tapi serius, kok lo bisa tahu Thorn mau biskuit?"

Lintar membuang muka, tapi telinganya sedikit memerah. "Gue denger semuanya dari dalem. Berisik tahu ga."

Ibu yang melihat interaksi itu dari ambang pintu dapur hanya bisa tersenyum haru. Ternyata, meskipun Lintar adalah sosok disosiatif daripada Halilintar, ia tetap memiliki hati yang sama lembutnya dengan Halilintar saat berada di tengah keluarga mereka.

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang