59

57 11 5
                                        

Happy reading guys!

__________________________________________________


Amato menghela napas panjang, raut wajahnya kini berubah menjadi serius. Ia menatap kedua orang tuanya dengan pandangan yang penuh harapan agar mereka bisa mengerti.

"Ma, Pa... bisa nggak, jangan samakan Hali dengan Kakak. Mereka dua orang yang berbeda, meskipun wajah mereka mirip. Hali itu cucu kalian, anak aku. Dia nggak bersalah atas apa yang pernah terjadi dengan Kakak dulu," ujar Amato dengan tegas namun tetap tahu letak sopannya.

"Gimana Mama bisa nggak menyamakannya, Amato? Tiap kali lihat wajahnya, Mama seolah melihat kembali Kakak kamu yang telah meninggalkan kita dengan teruk bahkan merosakkan nama keluarga. Dia sudah bawa banyak masalah ke dalam keluarga ini, dan sekarang Hali yang mirip persis dengannya hanya mengingatkan kita kembali pada semua kenangan pahit itu," bantah Oma yang masih dipenuhi rasa tidak suka.

"Tapi Hali nggak melakukan apa-apa, Ma! Dia hanya anak yang nggak berdosa. Dia nggak tahu apa-apa tentang ini, dan dia nggak pantas menerima perlakuan kayak gini hanya karena kemiripan wajah semata," kata Amato lagi mulai emosi.

Aisyah yang sejak tadi diam pun ikut berbicara dengan lembut, "Iya, Ma, Pa. Coba lihat saja, Hali itu anak yang baik, penurut dan sayang sekali pada adik-adiknya. Dia nggak memiliki sifat buruk yang kalian tuduhkan. Tolong beri dia kesempatan, perlakukan dia sama seperti cucu-cucu yang lain."

Opa yang sejak tadi mendengarkan akhirnya membuka suara, "Memang dia nggak bersalah, Amato, Aisyah. Tapi hati kami sudah sulit menerima. Kami nggak bisa memaksakan diri untuk menyukainya, meskipun dia cucu kami sendiri."

Suasana di ruang tamu seketika menjadi hening. Hanya terdengar suara kipas angin yang berputar perlahan, seolah ikut merasakan beban yang terasa berat di udara. Amato menundukkan kepalanya, tangan kanannya memijat pelipisnya yang mulai terasa pening. Sudah bertahun-tahun ia mencoba merubah pandangan orang tuanya, namun selalu berakhir dengan jawaban yang sama.

"Kalau begitu..." ucap Amato perlahan, suaranya terdengar berat dan penuh kekecewaan. "Kalau memang sampai begini perasaan kalian, setidaknya tolong jangan tunjukkan secara terang-terangan seperti tadi. Saat semua cucu disambut dengan pelukan dan senyum, sedangkan Hali dibiarkan begitu saja seolah nggak ada. Dia juga punya hati dan perasaan, Ma, Pa. Dia bisa terluka, dia bisa merasa nggak diinginkan, padahal dia nggak tahu kesalahan apa yang telah dia perbuat."

Amato sebenarnya menyadari sikap Mama dan Papanya tadi terhadap Halilintar.

Aisyah mengangguk setuju, matanya mulai berkaca-kaca menahan air mata. "Bayangkan saja, Ma, Pa. Jika kalian berada di posisinya. Hidup di satu rumah, tapi diperlakukan seperti orang asing, bahkan lebih buruk dari itu. Hali memang pendiam dan nggak pernah mengeluh, tapi bukan berarti dia nggak merasakan sakitnya. Setiap kali kalian datang, dia pasti akan diam saja dan menjauh, bukan karena dia nggak sayang, tapi karena dia sudah tahu bagaimana perlakuan yang akan dia dapatkan."

Oma dan Opa saling berpandangan. Untuk sesaat, raut wajah mereka melunak. Kata-kata anak dan menantu mereka memang benar dan masuk akal. Namun luka masa lalu yang ditinggalkan oleh anak sulung mereka masih terasa, dan melihat wajah Halilintar yang sama persis seolah mengulang kembali rasa sakit itu setiap kali mereka bertemu.

"Baiklah..." ucap Opa akhirnya dengan nada yang sedikit melembut. "Kami janji, kami akan berusaha. Kami nggak akan lagi mengabaikannya secara terang-terangan seperti tadi. Kami akan bersikap baik dan layak sebagai kakek dan nenek. Tapi Amato, Aisyah... tolong mengerti juga. Ini sudah batas kemampuan kami. Kami nggak bisa berjanji akan menyayanginya sama seperti cucu-cucu yang lain. Hati kami sudah tertutup rapat oleh kenangan itu."

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang