12

152 23 3
                                        

Happy reading guys!

__________________________________________________



Aisyah kembali ke klinik dengan wajah yang  sedih dan khawatir. Anak-anaknya langsung menyambutnya di depan pintu masuk dengan wajah tertanya-tanya. Mereka berharap ibu mereka membawa kabar baik, tetapi saat melihat ekspresi wajah Aisyah, mereka tahu harapan mereka pupus.

"Ibu, di mana kak Hali?" tanya Gempa. Dia melihat ke belakang ibunya, mencari keberadaan kakaknya itu.

Namun apa yang dia lihat hanyalah lorong yang kosong. Mendapati ketiadaan kakaknya dia mengerti keterdiaman ibunya.

Aisyah menggeleng lemah, matanya berkaca-kaca, "Maafkan ibu, ibu belum bisa menemukan kakak kamu. Tapi ibu janji, ibu akan usahakan okey?"

Anak-anak yang lain ikut tertunduk lesu. Solar kali ini meneteskan air mata, "Ibu, kak Hali pasti sedih sendirian. Kita harus temukan dia cepat!"

"Iya, kak Hali pasti butuh kita," tambah Blaze dengan suara bergetar.

Aisyah berlutut di hadapan anak-anaknya, mencoba menenangkan mereka meski hatinya sendiri terasa hancur. "Ibu tahu, sayang. Kita semua khawatir. Tapi percayalah, ibu akan lakukan apa saja untuk bawa Hali pulang."

Amato yang sejak tadi diam, tampak termenung di sudut ruangan. Tatapannya kosong, tapi di dalam hatinya bergolak dengan perasaan bersalah yang mendalam. Ia tahu, keputusannya meninggalkan Halilintar adalah kesalahan besar. Namun, egonya masih terlalu tinggi untuk mengakui itu.

"Ayah..." suara pelan Taufan memecah kesunyian, "kenapa Ayah tinggalkan kak Hali? Ayah bilang kita harus saling menjaga, tapi Ayah malah biarkan kak Hali sendirian."

Amato terkedu mendengar pertanyaan itu. Ia tak menjawab, hanya mengalihkan pandangan. Tapi pernyataan itu terus terngiang di telinganya.

Aisyah berdiri dan menatap Amato dengan tajam. "Amato, aku tak peduli apa alasanmu, tapi mulai sekarang kita harus bersatu untuk mencari Halilintar. Jika kau tidak mau membantu, aku akan melakukannya sendiri."

Ucapan Aisyah membuat Amato tersentak. Perlahan, ia mengangguk, "Aku akan bantu," katanya dengan suara pelan.

Anak-anak mereka tampak lega mendengar jawaban itu. Meski rasa sedih karena kehilangan Halilintar masih ada, setidaknya mereka kini punya harapan baru.



Di tempat lain, Halilintar terbangun dari tidur. Netra ruby miliknya melihat sekitar ruangan, namun dia tidak melihat sosok Aqsa.

"Paman Aqsa?"

Di luar ruangan, Aqsa berdiri bersama Leisya. Pria itu memberikan instruksi terakhir pada wanita tersebut.

"Pastikan dosisnya tetap seperti yang aku arahkan," perintahnya.

"T-tapi, tuan... tubuhnya mungkin tidak akan bertahan jika terus disuntik setiap hari," jawab Leisya dengan suara gemetar.

"Itu bukan urusanmu. Aku ingin hasilnya. Jika kau gagal, ingat apa yang akan terjadi pada keluargamu," ancam Aqsa dengan tatapan tajam.

Leisya hanya bisa mengangguk patuh karena ancaman tersebut.

"Sekarang kau boleh pergi," ucap Aqsa pada wanita itu tanpa menoleh sedikit pun.



Sementara itu, di rumah, Aisyah berusaha menenangkan anak-anaknya. Malam semakin larut, tetapi ia tidak bisa tidur. Dalam hati, ia berdoa agar Halilintar baik-baik saja.

Tiba-tiba, ponselnya berdering. Dengan cepat ia mengangkatnya. "Halo?"

Di ujung telepon, terdengar suara yang terasa familiar. "Aisyah... ini aku, Aqsa."

Aisyah terdiam. Nama itu seperti petir di telinganya. "Apa yang kau mau, Aqsa?"

"Aku hanya ingin memberitahumu... anakmu, Halilintar, ada bersamaku. Tapi jangan khawatir, dia dalam keadaan aman."

"Aqsa! Apa yang kau lakukan pada anakku?!" teriak Aisyah, suaranya pecah oleh tangis.

Aqsa tertawa pelan, "Sebenarnya, aku hanya ingin memberi pelajaran pada Amato. Jangan khawatir, aku tidak akan menyakiti Halilintar... setidaknya, tidak secara langsung."

"Aqsa! Kumohon, lepaskan Halilintar! Dia tidak bersalah!" isak Aisyah.

"Baiklah kalau kau memaksa, akan akan tunaikan. Tapi, aku punya syarat. Jika kau dan Amato mau menuruti permintaanku, aku mungkin akan mempertimbangkannya. Sampai saat itu, nikmati waktu kalian tanpa dia," ujar Aqsa sebelum menutup telepon.

"... "

Aisyah terduduk lemas, air matanya terus mengalir. "Halilintar.. anak Ibu."



Suara pintu berderit membuatnya membuka mata perlahan. Dari balik pintu, muncul sosok Aqsa. Halilintar menoleh ke arah sosok itu yang sudah duduk di bangku sebelah katil yang dia duduki sekarang.

"Paman, Hali mau pulang." Halilintar akhirnya memberanikan diri untuk berkata, meskipun suaranya terdengar parau.

Aqsa duduk di kursi yang ada di samping ranjang, netranya menatap Halilintar. "Kau mau pulang Halilintar? Kenapa tidak di sini saja?" tanyanya, nada suaranya rendah bersamaan menatap lamat wajah anak itu.

Halilintar menggelengkan kepalanya. "Hali khawatir kalau mereka akan mencariku," lirihnya.

Aqsa menghela napas panjang, lalu bersandar di kursi. Dia menatap langit-langit kamar sejenak sebelum menurunkan pandangannya kembali ke Halilintar, "Baiklah, tetapi kau akan paman hantar pulang dua hari ke depannya."

"Loh? kenapa tidak esok?"

Aqsa mendekatkan dirinya ke Halilintar. "Karena kau masih belum sembuh." Netranya melihat reaksi Halilintar yang mulai beransur sedih.

"Tapi, Hali rindu mereka, ayah, ibu dan adek-adek," lirihnya.

Mendengar itu dia terdiam, beberapa saat kemudian, Aqsa berdiri dan melangkah keluar dari ruangan itu tanpa berkata apa-apa. Dia juga mengabaikan panggilan Halilintar. Tapi jelas, dia menyeringai karena sesuatu.


__________________________________________________

Tbh...

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang