44

100 18 3
                                        

Happy reading guys!

__________________________________________________



Matahari pagi menyusup malu-malu di balik jendela ruang kepala sekolah yang kaku. Suasana di dalam ruangan itu terasa begitu dingin, kontras dengan udara luar yang mulai menghangat. Amato duduk tegak di salah satu kursi kayu, sementara Halilintar di sampingnya.

Di hadapan mereka, Pak kepsek menatap tumpukan berkas dengan dahi berkerut dalam. Di sisi lain ruangan, orang tua dari siswa yang menjadi korban sebaris dengan mereka walau berselang beberapa kerusi. Jelas terlihat jika dia seorang pria bertubuh besar dengan wajah merah padam, tampak tidak sabar untuk meledak.

"Ini bukan sekadar kenakalan remaja, Pak!" bentak ayah korban, memukul meja. "Anak saya masih di ICU! Wajahnya rosak gegara anak itu. Saya menuntut keadilan. Anak ini," ia menunjuk Halilintar dengan geram, "sesukanya, penjarakan karna bisa saja mengancam yang lain!"

Halilintar tersentak. Dia memejamkan mata rapat-rapat, mencoba meredam gejolak di batinnya. Tiba-tiba, sebuah ketukan lembut terdengar di pintu. Wali kelasnya masuk dengan langkah tenang, membawa sebuah map berwarna biru tua.

"Mohon maaf atas keterlambatan saya, Pak Kepala Sekolah," ujar Miss Leila dengan suara yang menyejukkan. Ia memberikan anggukan sopan kepada Amato, lalu menatap Halilintar dengan pandangan yang seolah berkata, 'Semua akan baik-baik saja.'

"Miss Leila, apakah anda punya laporan tambahan?" tanya Pak Kepsek.

"Benar, Pak. Saya di sini bukan hanya sebagai wali kelas, tapi juga sebagai saksi mata atas perkembangan psikologis Halilintar selama bertahun-tahun," Miss Leila membuka mapnya dan menyerahkan beberapa dokumen medis yang telah ditandatangani oleh Tante Leisya.

"Apa maksudnya ini? Dokumen medis?" tanya ayah korban dengan nada meremehkan.

"Pak," Amato akhirnya angkat bicara, suaranya rendah namun penuh wibawa. "Putra saya tidak berniat menyakiti siapapun. Dia menderita gangguan disosiatif akibat trauma masa kecil yang sangat berat. Kejadian di lorong itu dipicu oleh tindakan perundungan yang dilakukan putra Bapak terlebih dahulu dan itu membuat anak saya bereaksi sedemikian."

Miss Leila menambahkan, "Saya memiliki rekaman CCTV dari sudut lain yang menunjukkan bahwa sebelum perkelahian terjadi, anak bapak menyudutkan Halilintar di area tanpa pengawasan dan melakukan kontak fisik duluan. Halilintar tidak memulainya, dia hanya membela dirinya karena tekanan tersebut."

Ruangan mendadak hening. Pak Kepsek membaca hasil konsultasi dari Tante Leisya yang menjelaskan kondisi disosiatif secara klinis.

"Kami tidak meminta Bapak untuk memaklumi kekerasan," lanjut Miss Leila lembut namun tegas. "Tapi kami meminta keadilan untuk seorang anak yang sedang sakit. Halilintar butuh pengobatan, bukan jeruji besi atau pengusiran yang akan memperparah kondisinya."

Halilintar merasakan sebuah tangan hangat menggenggam tangannya, dia berpaling dan ternyata itu tangan Ayahnya.

Amato tersenyum, "Ada apa, Hali?" tanyanya bila melihat Halilintar yang terus diam dan tidak beraksi sejak tadi.

Pak Kepsek menghela napas panjang, lalu menatap ayah korban. "Mengingat bukti medis dan latar belakang kejadian ini, sekolah akan mengambil jalan tengah. Halilintar akan dikenakan skorsing selama masa pemulihan psikologisnya di bawah pengawasan ahli, dan pihak keluarga Bapak Amato telah bersedia menanggung seluruh biaya pengobatan korban hingga pulih total."

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang