Happy reading guys!
__________________________________________________
Doktor Ardi menyandarkan punggungnya ke kursi, membiarkan suasana ruangan kembali riuh oleh celotehan Blaze dan Taufan yang makin berani menggoda Lintar. Namun, di balik sikap santainya, mata Doktor Ardi tidak sedetik pun lepas dari gerak-gerik Lintar. Ia sedang melakukan observasi mendalam tanpa membuat sang subjek sadar.
Ia memperhatikan bagaimana Lintar duduk. Meskipun bahunya sudah sedikit merosot, kaki kirinya tetap dalam posisi "siap tumpu", sebuah postur tubuh seseorang yang siap melompat atau menerjang dalam hitungan detik jika ada bahaya mendadak. Lintar tidak duduk menyandar seperti Halilintar, dia duduk di ujung sofa, seolah-olah kursi empuk itu adalah tempat yang asing baginya.
Lalu, ada hal kecil lain yang menarik perhatian sang doktor. Setiap kali pintu di luar sana terbuka oleh Amato atau Gibran, netra ruby itu sering melihat ke arah bunyi tersebut dan tangan kanannya akan refleks mengepal di atas lutut sebelum ia kembali berpura-pura sibuk dengan biskuitnya.
"Lintar," panggil Doktor Ardi lembut, memecah fokus Lintar yang sedang menatap sinis ke arah Solar. "Boleh saya tanya sesuatu? Bukan tentang Halilintar, tapi kamu."
Lintar menoleh, matanya menyipit penuh selidik. "Apa?"
Doktor Ardi menegakkan badan. "Setiap kali kamu makan, kamu selalu menyisakan satu biskuit di tanganmu, tapi nggak segera memakannya. Kamu terus memeganginya sampai biskuit itu hampir hancur. Kenapa?"
Pertanyaan itu membuat ruangan mendadak hening. Amato dan Aisyah baru menyadari hal tersebut. Benar saja, di tangan kanan Lintar ada satu keping biskuit yang sudah retak karena dicengkeram terlalu kuat, namun ia tidak kunjung memasukkannya ke mulut.
Lintar tertegun. Ia melihat tangannya sendiri, lalu mendengus kasar seolah baru menyadari perbuatannya. "Bukan urusan lo."
Doktor Ardi tersenyum tipis, sebuah senyum yang penuh empati. "Bukan karena kamu takut biskuitnya habis, kan? Tapi karena jauh di dalam sana, kamu merasa harus selalu punya cadangan. Kamu merasa dunia ini nggak pernah memberi kepastian bahwa besok akan ada makanan atau rasa aman lagi, jadi kamu menyimpannya untuk bertahan hidup."
Lintar terdiam. Sorot matanya yang tajam menatap lekat pria di depannya. Ia meletakkan biskuit yang sudah hancur itu kembali ke meja dengan kasar. "Lo sok tahu, Tua Bangka."
"Memang," sahut Doktor Ardi tenang. "Tapi saya juga memperhatikan cara kamu melirik Gempa setiap kali dia bergerak. Saya sadar kalau kamu terus memastikan jarak antara kamu dan dia tetap dekat. Kamu bertindak seolah kamu ingin melindunginya, bahkan di ruangan yang selamat ini."
Aisyah turut memerhatikan Lintar. Ia melihat bagaimana Lintar, sosok yang terlihat begitu kasar dan pemberontak, ternyata memiliki mekanisme pertahanan yang begitu melelahkan. Dia tidak pernah benar-benar tidur, malah dia selalu berjaga.
"Lintar," kali ini Aisyah yang berbicara, suaranya lembut dan bergetar. "Biskuit di toples itu masih banyak. Di rumah juga masih banyak makanan. Kamu nggak perlu simpan untuk nanti. Kalau habis, Ibu akan buatkan lagi."
Lintar menatap ibunya. Netranya kembali menatap toples yang penuh isi biskuit.
"Gue ga butuh dikasihani," bisik Lintar, namun suaranya tidak lagi sekeras tadi.
Doktor Ardi mencatat satu hal kecil dalam benaknya, iaitu Lintar adalah manifestasi dari kewaspadaan Halilintar yang ekstrem. Dia tidak hanya melindungi dari serangan fisik, tapi juga dari ketakutan akan kehilangan.
Doktor Ardi mengangguk pelan, seolah sedang menyusun potongan teka-teki yang mulai terlihat bentuknya. Ia kemudian berdehem kecil, menarik perhatian Lintar kembali.
"Lintar, ada satu hal lagi yang saya lihat. Kamu selalu menolak biskuit yang disodorkan langsung ke tanganmu, tapi kamu akan mengambilnya sendiri kalau diletakkan di meja. Kenapa? Apa kamu nggak percaya dari pemberian orang lain?"
Lintar mendengus, tangannya yang tadi mengepal kini mulai memilin ujung jaket merahnya, sebuah gerakan bawah sadar yang menunjukkan kegelisahan. "Gue lebih suka ambil sendiri daripada nunggu dikasih terus tiba-tiba dipukul."
Amato yang mendengar itu merasa dadanya sesak. Kalimat singkat Lintar menjelaskan betapa dalamnya rasa tidak aman yang selama ini menghantui Halilintar.
"Tapi di sini nggak ada yang mau pukul kamu, Kak," sahut Taufan pelan. Ia mencoba menggeser duduknya sedikit lebih dekat ke arah Lintar. "Lihat, tangan gue cuma mau kasih jempol." Taufan nyengir menatap Lintar dengan jempol terangkat ke atas.
Lintar melirik Taufan dengan tajam, namun kali ini ada secercah binar jenaka yang tertangkap oleh radar Doktor Ardi. "Ngapain bagi jempol, mending bagi gue uang."
Doktor Ardi tertawa kecil. "Sifatmu yang sangat waspada ini sebenarnya sangat melelahkan, bukan? Kamu bertindak seolah-olah seluruh dunia adalah musuh, bahkan saat ibumu sendiri menawarkan kasih sayang."
Doktor Ardi kemudian melakukan sesuatu yang cukup berisiko. Ia mengeluarkan sebuah jam saku dari sakunya dan membiarkannya berayun pelan di depan matanya sendiri, bukan untuk menghipnotis, tapi untuk melihat reaksi sensorik Lintar.
Benar saja, pupil mata Lintar mengecil, mengikuti gerakan jam itu dengan sangat fokus. Otot lehernya menegang.
"Kamu benci suara detak jam yang terlalu keras, ya?" tanya Doktor Ardi tiba-tiba.
Lintar tersentak, ia membuang muka dengan kasar. "Berisik."
"Menarik," gumam Doktor Ardi sembari mencatat sesuatu di bukunya. 'Sensory Overload: Pasien lebih nyaman dengan keheningan.'
"Lintar," panggil Doktor Ardi lagi, kali ini dengan nada yang jauh lebih serius. "Kamu bilang kamu menjaga mereka agar nggak ada yang menangis. Tapi, pernah kamu berpikir siapa yang menjaga kamu saat kamu lelah berjaga?"
Pertanyaan itu membuat Lintar membeku. Tangannya yang tadinya ingin mengambil biskuit lagi terhenti di udara. Ia menatap Doktor Ardi dengan pandangan yang sulit diartikan iaitu campuran antara amarah, kebingungan, dan kesepian yang teramat dalam.
"Gue ga butuh dijaga," desis Lintar, namun kali ini suaranya bergetar. "Gue adalah penjaga. Penjaga ga boleh dijaga. Kalau gue ga ada... bagaimana dengan Hali?"
Aisyah tidak tahan lagi. Ia bangkit dari duduknya dan perlahan mendekati Lintar. Meskipun ia tahu Lintar mungkin akan bereaksi kasar, naluri keibuannya tetap melebihinya. Ia mengulurkan tangan, ragu sejenak, lalu mendaratkan telapak tangannya dengan sangat lembut di puncak kepala Lintar.
Lintar tersentak hebat. Seolah ada listrik statis kecil memercik dari tangan Aisyah mengalir lembut. Lalu tangan itu mengusap rambut Halilintar dengan kasih sayang yang tulus.
"Penjaga juga boleh istirahat, Lintar. Biar hari ini, Ayah dan Ibu yang jaga kamu. Kamu makan saja biskuitnya sampai kenyang," ucap Aisyah.
Lintar terdiam seketika, i tidak membalas, tidak juga membentak. Ia hanya diam mematung di bawah usapan tangan ibunya, matanya menatap kosong ke arah toples biskuit, sementara setetes air mata... yang entah milik Halilintar atau miliknya sendiri, jatuh membasahi pipinya.
__________________________________________________
Tbc...
ANDA SEDANG MEMBACA
SISA HUJAN LUKA [end]
Fiksi PenggemarCtass! Ctass! Ctass! "Ayah, sakit Yah, badan Hali sakit..hiks..hiks!" Bugh! "Akhh!" Suara jeritan kesakitan terkeluar begitu sahaja dari mulut anak kecil itu. Dirinya ditendang oleh orang yang dia sayang tanpa terbesit sedikit pun rasa bersalah dala...
![SISA HUJAN LUKA [end]](https://img.wattpad.com/cover/379880814-64-k984467.jpg)