46

126 20 2
                                        

Happy reading guys!

__________________________________________________

"Apa lo bilang?!" Ice yang biasanya paling malas berdebat, mendadak melotot mendengar panggilan 'gemuk' dari mulut Lintar. "Gue ga gemuk ya, cuma berisi!"

"Berisi apaan? Pipi lo udah kayak bakpao buatan Gempa," balas Lintar dengan nada ketus, tapi ada binar jahil di matanya yang tajam. Ia kemudian melirik Gempa yang baru saja duduk di sampingnya. "Masakan lo... lumayan enak. Ga seburuk jagung bakar sisa Thorn waktu itu."

Gempa tersenyum lebar, rasa tegangnya benar-benar sirna. "Makasih, Kak Lintar. Nanti kalau Kakak keluar lagi, bilang aja mau makan apa. Bakal Gempa masakin kok."

Lintar terdiam sebentar, lalu bergumam pelan sambil mengalihkan pandangan ke arah piringnya. "Soto... gue pengen soto ayam yang pedasnya nendang. Si Hali itu cengeng, makan pedas dikit aja langsung sakit perut. Lemah."

Taufan langsung menyambar, "Wah, bener banget! Kak Hali kalau makan seblak level satu aja udah udah ga tahan. Berarti kalau nanti kita kompetisi makan pedas, gue ajaknya Kak Lintar aja ya!"

Amato yang sejak tadi hanya menyimak, akhirnya berdehem pelan. "Lintar," panggilnya.

Lintar menoleh, tatapannya yang angkuh sedikit masih terpampang saat bertemu mata dengan sang ayah. "Kenapa?"

"Terima kasih," ujar Amato tulus. "Terima kasih sudah menjaga Halilintar selama belasan tahun ini saat Ayah nggak ada di sampingnya. Ayah tahu itu berat buat kamu."

Suasana meja makan mendadak hening lagi. Lintar tertegun, tangannya yang memegang bonggol jagung berhenti di udara. Ia tidak terbiasa dengan ucapan terima kasih, apalagi dari sosok otoritas seperti Ayah. Selama ini, dia menganggap dirinya sebagai 'monster' yang hanya muncul untuk menghancurkan.

"Gue cuma... ya, itu emang kerjaan gue," jawab Lintar pendek, suaranya sedikit parau. Ia segera menunduk, menyembunyikan wajahnya yang mulai memerah karena malu. "Udah ah, ga usah melow-melow. Gue mau balik tidur."

"Yah, kok cepet banget?" rengek Thorn sambil memegang lengan jaket yang dipakai Lintar. "Thorn masih mau nanya-nanya!"

Lintar melirik Thorn, lalu menghela napas panjang, napas yang terdengar sangat mirip dengan Halilintar saat sedang lelah menghadapi tingkah adik-adiknya. "Besok-besok lagi. Capek gue ngadepin kalian yang berisik."

Perlahan, tubuh itu kembali menegang. Mata Lintar terpejam rapat selama beberapa detik. Saat ia membukanya kembali, tatapan tajam nan angkuh itu telah hilang, digantikan oleh tatapan teduh dan sedikit bingung milik Halilintar.

Halilintar mengerjapkan mata, melihat sekeliling meja makan yang kini menatapnya dengan senyum lebar. "Gue kenapa berdiri?" tanya Halilintar bingung.

"Udah, Kak! Lo tau ga Kak, tadi dia barusan ngatain Ice gemuk!" lapor Blaze sambil tertawa puas.

Halilintar mengusap wajahnya, merasa malu sekaligus lega. "Maaf ya, dia emang bicaranya asal ceplos."

"Gapapa, Kak Hali," ucap Gempa sambil menuangkan air minum untuk kakaknya. "Justru sekarang kita jadi tahu, ternyata Kak Lintar itu... cuma versi Kak Hali yang lebih jujur dan suka makan."

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang