Happy reading guys!
__________________________________________________
Suasana kembali sunyi setelah Lintar selesai bercerita. Angin sore masih terus berhembus pelan, tapi rasanya udara di sekitar pondok terasa semakin berat dan mencekam. Aisyah terdiam mematung, matanya berkaca-kaca menahan rasa sedih dan terkejut yang bercampur menjadi satu. Baru hari ini ia mengetahui tentang kondisi putranya.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Lintar juga tidak berkata apa-apa lagi, hanya menunduk memandang tanah setelah melepaskan beban yang selama ini disimpan sendirian.
Namun tiba-tiba, tubuh yang tadinya duduk santai itu berubah. Ekspresi wajah yang tadinya penuh serius perlahan memudar, digantikan dengan raut wajah datar khas Halilintar.
Biskuit di genggamannya ia simpan semula lalu membersihkan tangannya dari sisa makanan. Rambutnya yang acak-acakan perlahan ia rapikan dengan jari-jarinya, dan ia menutup kembali dua kancing baju yang dibuka oleh Lintar tadi, meninggalkan hanya satu kancing saja yang terbuka.
Halilintar mengangkat wajah, menatap Aisyah yang masih terkilan di hadapannya dengan tatapan yang lembut dan sedikit bersalah.
"Maafkan Hali ya, Bu..." ucapnya pelan, suaranya jauh lebih rendah dan lembut dibandingkan nada bicara Lintar. "Dia cuma terlalu emosi sampe bicara segitunya. Sebenarnya... ga separah yang dia katakan kok."
Aisyah tersentak dari lamunannya, menatap putranya dengan pandangan yang penuh kekhawatiran. "Hali... kamu dengar semua yang dia ceritakan tadi?"
Halilintar mengangguk perlahan, lalu menundukkan wajahnya. "Iya, Bu. Dia seringkali bicara begitu, tapi jangan percaya sama semua ucapannya ya. Dia emang suka melebih-lebihkan keadaanku."
Meskipun berkata begitu, Aisyah bisa melihat dengan jelas bahwa tangan Halilintar yang tergenggam erat di atas lututnya, dan tatapan matanya yang menyiratkan sesuatu, jelas menyimpan rahsia yang ingin disimpan erat.
"Kamu jangan bohong pada Ibu, Hali..." kata Aisyah dengan suara bergetar. "Ibu tahu ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari kami semua. Dan sekarang Ibu sudah tahu juga betapa beratnya peran Lintar selama ini."
Halilintar mendesah panjang, lalu mengangkat wajah kembali menatap ibunya. Senyum tipis terukir di bibirnya, senyum yang terlihat pasrah.
Halilintar terdiam mendengar kata-kata ibunya. Senyum tipis di bibirnya perlahan memudar, digantikan raut wajah yang sedikit ragu-ragu. Ia menunduk kembali, jari-jarinya bermain dengan ujung bajunya.
Melihat sikap putranya itu, hati Aisyah terasa semakin perih. Ia mendekatkan posisi duduknya hingga berhadapan langsung dengan Halilintar, lalu memegang kedua tangan putranya dengan erat.
"Hali..." panggil Aisyah dengan suara yang masih bergetar, netra coklatnya bertembung netra ruby Halilintar. "Kenapa sih kamu selalu berusaha menafikannya? Kenapa seolah-olah kamu nggak mau beritahu Ibu tentang semua ini? Padahal Ibu ini ibumu, orang yang melahirkan dan membesarkan kamu. Bukankah seharusnya kamu bisa berbagi segala hal dengan Ibu? Baik yang senang maupun yang susah?"
Halilintar mengangkat wajah, balas menatap Ibunya. Matanya kini berkaca-kaca menahan air mata yang sejak tadi ingin tumpah. Ia menggigit bibir bawahnya, seolah sedang berjuang melawan perasaannya sendiri.
"Bukan begitu, Bu..." jawabnya pelan. "Bukan karena Hali ga mau bilang ke Ibu. Tapi... Hali takut."
"Takut apa, sayang? Ibu nggak akan marah, Ibu nggak akan menjauh dari kamu apapun yang terjadi. Ibu cuma ingin membantu, ingin meringankan beban yang kamu pikul sendirian," ujar Aisyah lembut, jari-jarinya mengusap punggung tangan Halilintar dengan sayang.
ANDA SEDANG MEMBACA
SISA HUJAN LUKA [end]
FanfictionCtass! Ctass! Ctass! "Ayah, sakit Yah, badan Hali sakit..hiks..hiks!" Bugh! "Akhh!" Suara jeritan kesakitan terkeluar begitu sahaja dari mulut anak kecil itu. Dirinya ditendang oleh orang yang dia sayang tanpa terbesit sedikit pun rasa bersalah dala...
![SISA HUJAN LUKA [end]](https://img.wattpad.com/cover/379880814-64-k984467.jpg)