71

94 11 6
                                        

Happy reading guyss!

__________________________________________________


Pukul 11 malam, Amato masih berada di ruang kerjanya manakala yang lain sudah pergi ke kamar masing-masing. Tiba-tiba ponselnya bergetar di atas meja, menandakan ada panggilan masuk. Dia menatap layar skrin yang menampilkan nama rekan sekantornya.

"Halo, Radit? Ada perkembangan apa?" tanya Amato, berusaha menekan kegelisahan yang menyelimuti hatinya.

"Amato... aku tidak tahu harus bilang ini bagaimana," suara Radit di seberang sana terdengar sangat berat.

"Ada apa sebenarnya?" tanyanya penasaran.

"Tim forensik dan penyelidik baru saja keluar dari ruang bedah siasat. Mereka menemukan bukti yang sangat kuat. Sidik jari, bekas tekanan di area leher yang tidak wajar untuk serangan jantung, dan beberapa sampel mikro di lokasi kejadian. Semuanya mengarah pada... Halilintar."

Jantung Amato seolah berhenti berdetak. Dunia di sekelilingnya mendadak sunyi. "Radit, bisakah... bisakah kita bicarakan ini secara internal? Tolong, jangan buat laporan resminya dulu."

Hening sejenak di seberang telepon. Terdengar helaan napas panjang di seberang sana. "Itulah masalahnya, Amato. Aku terlambat. Pihak atasan, bahkan Kepala Komisaris sendiri, datang meninjau langsung saat proses bedah siasat tadi. Kasus kematian Ayahmu mendapat perhatian besar karna profil keluarga kalian. Atasan sudah memegang laporannya sekarang."

Amato mematung, ponselnya nyaris terlepas dari genggaman. "Pihak atasan... sudah tahu?"

"Iya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Amato. Prosedur penjemputan paksa kemungkinan akan segera diterbitkan. Aku meneleponmu sebagai teman, agar kamu bisa mempersiapkan mental keluargamu."

Panggilan itu terputus. Amato terduduk lemas di kursinya, menatap meja kerjanya dengan pandangan hancur. Rencana mereka untuk tidak melaporkan Halilintar pada pihak polisi malah hancur. Jika pihak atasan sudah turun tangan, jabatan Amato sekalipun tidak akan bisa melindungi putranya dari jeratan hukum.

Beberapa jam sebelum Radit menelepon Amato, Radit, yang saat itu sedang merapikan beberapa dokumen hasil penyelidikan awal, mengerutkan kening ketika melihat beberapa mobil hitam mewah terparkir di depan gedung.

Tak lama kemudian, derap langkah kaki terdengar menggema di sepanjang lorong. Radit mendongak dan seketika berdiri tegak. Di depan sana, ada Kepala Komisaris, pimpinan tertinggi di wilayah mereka berjalan dengan wajah serius, didampingi oleh beberapa polisi di belakang.

Rombongan itu melintas begitu saja di depan Radit, masuk ke dalam ruang observasi. Radit terpaku.

Ada apa Kepala Komisaris ke sini? pikirnya cemas.

Setelah rombongan itu masuk ke dalam, Radit segera menghampiri seorang polisi muda yang berjalan di barisan paling belakang, yang tampak baru saja selesai mengatur perimeter keamanan.

"Kamu," panggil Radit pelan, sambil menarik lengan polisi itu sedikit menjauh. "Ada apa ini? Kenapa pihak atasan datang ke sini?"

Polisi muda itu menoleh ke arah ruang bedah siasat dengan ekspresi bingung. Ia berbisik, "Aku juga kurang tahu pasti, Pak. Instruksinya turun sangat cepat. Katanya, pihak atasan ingin memantau langsung proses bedah siasat kasus ini."

"Memantau?" Radit mengulangi kata itu dengan rasa tidak enak di hatinya. "Tapi kasus ini awalnya dilaporkan sebagai serangan jantung biasa, kan? Kenapa harus dipantau pihak atasan?"

"Nah, itu dia masalahnya," polisi itu mengangkat bahunya sedikit. "Saya juga tidak tahu tujuannya buat apa, tapi yang jelas, mereka ingin kasus ini transparan tanpa campur tangan internal siapa pun."

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang