Happy reading guys!
__________________________________________________
Setelah menelan obat dari Ibu dan meminum air hangat, Halilintar menyandarkan punggungnya dengan lemas. Rasa panas di perutnya perlahan mulai mereda, meski rasa mulasnya masih tertinggal sedikit. Di dalam kepalanya, suara tawa Lintar akhirnya mengecil dan digantikan oleh dengusan puas.
“Li, udahlah. Jangan manja. Anggap aja itu tes ketahanan fisik,” gumam Lintar pelan di dalam pikiran Halilintar.
“Tes fisik apanya? Lo yang kenyang, gue yang menderita!” balas Halilintar dalam hati dengan kesal.
Amato yang melihat putra sulungnya sudah agak mendingan, menepuk bahu Halilintar pelan. "Sudah baikan? Kalau masih sakit, kita tunda saja konsultasinya ke dokter Ardi."
Halilintar menggeleng mantap. "Nggak, Yah. Justru karena ulah Lintar ini, kita harus segera ke dokter. Aku mau tanya gimana caranya biar dia ga seenaknya pakai badanku."
Taufan yang masih terkikik di sampingnya menyahut, "Tapi seru juga sih, Kak. Jadi kita punya dua Kakak. Satu yang datar tapi kalem, satu lagi yang sangar tapi hobi nyogok biskuit. Ihh lucu!"
"Berisik lo, Taufan!" sahut Halilintar dan suara Lintar di kepalanya secara bersamaan, membuat Halilintar tersentak sendiri karena merasa pikirannya sangat sinkron dengan sosok disosiatifnya itu.
Aisyah tersenyum melihat anak-anaknya. "Ya sudah, kalau sudah kuat, ayo kita berangkat. Ayah sudah siapkan mobil di depan."
Sesi konsultasi dengan dr. Ardi berjalan cukup lama. Dokter menjelaskan bahwa sinkronisasi antara Halilintar dan Lintar sudah mulai membaik, namun mereka berdua harus belajar untuk saling menghargai wadah yang mereka tempati, terutama dalam urusan selera makan.
Keluar dari ruangan dokter, Halilintar tampak sedikit lebih tenang, meski wajahnya masih agak pucat. Lintar di dalam kepalanya pun mendadak diam, mungkin kena semprot oleh penjelasan dokter tadi soal kesehatan lambung.
"Gimana, Kak? Masih mulas?" tanya Gempa penuh perhatian saat mereka berjalan menuju parkiran.
"Sudah mendingan, tapi rasanya tenggorokan gue masih panas," gumam Halilintar. Ia menoleh ke arah sebuah kedai es krim di seberang jalan yang tampak sangat menggiurkan dengan poster es krim vanila susu yang dingin. "Yah... boleh mampir ke situ sebentar? Aku pengen es krim."
Amato tersenyum dan mengangguk. "Tentu saja."
Mereka pun singgah di kedai tersebut. Aroma susu dan manisnya gula langsung menyambut indra penciuman mereka. Halilintar memesan satu cup besar es krim vanila dengan topping cokelat leleh, berharap rasa dinginnya bisa memadamkan pedas yang ditinggalkan sambal sepuluh sendok milik Lintar.
"Aah... lega," desis Halilintar setelah suapan pertama menyentuh lidahnya. Rasa dingin yang lembut itu perlahan menjalar, memberikan kenyamanan instan pada perut dan kerongkongannya.
Sambil menikmati es krim, Halilintar duduk di kursi panjang kedai tersebut, dikelilingi oleh keenam adiknya. Suasana kedai yang sejuk membuat mereka semua merasa lebih santai setelah ketegangan di ruang dokter tadi.
Taufan, yang tidak bisa diam, menyenggol lengan Halilintar sambil menjilat es krim birunya. "Eh Kak Hali, selama absen sekolah ini, selain pergi ke dokter Ardi, kalian berdua ngapain aja di rumah? Pasti bosen banget kan cuma rebahan doang?"
Halilintar menyuap sesendok es krim lagi, tampak berpikir sejenak. "Nggak juga. Gue lebih banyak baca buku atau dengerin musik biar pikiran tenang. Tapi kalau si Lintar..." Halilintar menjeda kalimatnya, lalu mendengus geram. "Dia itu kalau lagi bosan, suka banget bongkar-pasang barang di kamar."
ANDA SEDANG MEMBACA
SISA HUJAN LUKA [end]
FanfictionCtass! Ctass! Ctass! "Ayah, sakit Yah, badan Hali sakit..hiks..hiks!" Bugh! "Akhh!" Suara jeritan kesakitan terkeluar begitu sahaja dari mulut anak kecil itu. Dirinya ditendang oleh orang yang dia sayang tanpa terbesit sedikit pun rasa bersalah dala...
![SISA HUJAN LUKA [end]](https://img.wattpad.com/cover/379880814-64-k984467.jpg)