Happy reading guys!
__________________________________________________
Mobil yang mereka kenderain akhirnya berhenti di depan rumah setelah perjalanan yang panjang. Pintu mobil belakang terbuka dari dalam.
"Akhirnya sampai juga!" seru Blaze. Ia meregangkan tubuhnya begitu keluar dari mobil.
"Huhuhu, pinggangku," keluh Taufan. Dapat ia rasakan pinggangnya sakit karena duduk terlalu lama.
Solar meregangkan badannya manakala Thorn masih dengan kantuknya, mulutnya menguap lebar. Ice?
"Ice, udah sampai," ucap Gempa. Dia menggoyangkan badan saudaranya itu agar bangun dari perbaringannya, dan itu berjaya walau sedikit beberapa kali cobaan.
"Kak Hali kok kebo banget bangunnya," ucap Solar yang tengah membangunkan Halilintar.
"Letih kelihatannya." Aisyah menatap anak sulungnya yang masih dibuai mimpi.
Aisyah tersenyum kecil tangannya terulur untuk membuka pintu rumah. "Ayo masuk, sekalian bawa barang-barang di mobil," arahnya pada yang lain. "Hali biar ibu aja yang bangunin, kamu kemas-kemas gih."
"Baik ibu."
"Kok masih ga bangun-bangun?" gumam Aisyah.
Dia menjenguk ke dalam, memastikan anak itu baik-baik saja atau tidak. Tangannya menyentuh dahi Halilintar. "Ah pantes lemes, anak ibu demam hmm?" ucapnya bila tahu Halilintar mulai membuka mata.
Netra Halilintar melihat ke sekitar, "ini di mana lagi?" tanyanya yang masih tidak sadar dengan kehadiran ibunya di sebelah.
Halilintar lantas menatap ke sebelah kala sebuah tangan mendarat ke bahunya. "Hali bangun yuk, udah sampai di rumah loh," ajak Aisyah.
Halilintar yang baru bangun mengangguk saja sebelum keluar dari kereta. Perlahan Aisyah menuntun Halilintar yang baru bangun. Khawatir anak itu terserembab tangga bila melihat sendiri cara jalan Halilintar kayak orang mabuk.
"Pegangan di pagar. Terus itu istirihat, kalau udah istirihat mandi." Aisyah menatap Halilintar yang menaiki tangga.
Setelah memasuki rumah, semua orang langsung beristirihat. Aisyah pergi ke dapur untuk mengecek persediaan makanan, takut-takut nanti tiada makan malam mereka nanti.
Kembali pada Halilintar, sesampainya di kamar, dia segera merebahkan dirinya ke kasur. Bantal di dekatnya ia ambil lalu tidak lama terdengar teriakan tertahan dari Halilintar.
"Lintar anjing!" makinya dengan kuat tapi teredam oleh bantal yang ia tempelkan ke mukanya.
Halilintar beralih menatap ke atas, tangannya ia biar menutupi matanya. Dia pikir seminggu ini ia dapat habiskan waktu bersama keluarganya namun moment itu harus hancur karena campur tangan dari Lintar. Dia menyesal karena tidur waktu itu.
Halilintar bangun dari baringnya, tangannya mengusap wajahnya dengan kasar. Tanpa pikir lama ia langsung menyambar tuala lalu ke kamar mandi.
Selesai saja membersihkan badan, Halilintar langsung mengemas barang-barangnya. Sebentar saja, lagian barang yang dibawanya juga sedikit. Ia sekarang duduk di tepi ranjang. Karena teringatkan sesuatu ia segera mengecek kertas yang ada di ranselnya dan langsung membukanya.
"Makasih karna udah minjemin badan lo. Ternyata punya keluarga itu seru banget sumpah. Hah, jadi pengen kek kamu."
Halilintar menatap kesal apa yang ditulis oleh Lintar. Kertas itu ia ronyok sebelum dibuang ke tong sampah.
ANDA SEDANG MEMBACA
SISA HUJAN LUKA [end]
Fiksi PenggemarCtass! Ctass! Ctass! "Ayah, sakit Yah, badan Hali sakit..hiks..hiks!" Bugh! "Akhh!" Suara jeritan kesakitan terkeluar begitu sahaja dari mulut anak kecil itu. Dirinya ditendang oleh orang yang dia sayang tanpa terbesit sedikit pun rasa bersalah dala...
![SISA HUJAN LUKA [end]](https://img.wattpad.com/cover/379880814-64-k984467.jpg)