Happy reading guys!
__________________________________________________
Langit gelap dihiasi dengan taburan bintang, angin malam berhembus pelan membawa udara dingin yang menusuk hingga ke liang pori.
Halilintar berjalan sendirian di trotoar, kakinya melangkah santai dengan senyuman tipis menghiasi wajah tampannya itu. Seperti mendapatkan hadiah, wajahnya kelihatan gembira. Namun kemudian raut wajahnya kembali berekspresi datar semula.
Dia seharusnya langsung pulang ke rumah setelah sekolah seperti apa yang telah Ayahnya pesankan siang tadi. Tapi seperti biasa, dia lebih memilih menghabiskan masanya hingga malam tiba, menghabiskan waktu dengan berjalan tanpa tujuan pada pandangan orang lain.
Dan sekarang, dia berdiri di depan gerbang rumahnya. Kemudian berlalu melepasi gerbang tersebut setelah dia buka. Sesampainya di pintu depan, tangannya terulur untuk membuka pintu yang tidak berkunci itu.
Begitu masuk ke dalam rumah, aroma makanan langsung menyambutnya. Di meja makan, seluruh keluarganya sudah berkumpul. Amato, Aisyah, Taufan, Gempa, Blaze, Ice, Thorn dan Solar, semuanya ada di sana.
Mereka tengah menikmati makan malam bersama. Kelihatan mereka yang berborak dan disertai oleh candaan dari Taufan, Blaze dan Thorn yang mengundang tawa. Bahkan ketawa mereka kedengaran kuat hingga ke ruang tengah rumah. Ice yang lebih memilih menikmati makanannya hanya tersenyum menanggapi candaan mereka begitu juga dengan Solar yang terkadang ikut berbicara.
Halilintar kemudian memasuki area dapur. Mereka yang awalnya seronok bercerita kini menyadari kehadirannya. Aisyah yang melihat anak sulungnya itu mengulaskan senyum hangat di wajah cantiknya.
"Hali, ayo makan sama-sama," ucapnya dengan suaranya yang lembut khas seorang ibu.
Halilintar yang membelakangi mereka kini mengalihkan pandangannya ke arah Ibunya.
"Kalian makan saja, aku udah makan tadi di luar."
Mendengar itu Aisyah menganggukkan kepalanya.
"Kakak makan di mana? kok ga ngajak aku," tanya Taufan. Dia memandang wajah datar Halilintar.
Namun yang disoal malah tidak mengatakan apa-apa buat beberapa saat. Setelah itu dia meneguk habis air dalam gelas yang tadi dia ambil. Sambil itu, netranya melihat sekilas wajah adiknya, Taufan.
Tanpa menghiraukan Taufan, dia berjalan melewati mereka tanpa bicara, langsung menuju kamarnya di lantai atas. Taufan yang merasa diabaikan merenggut kesal.
Namun, sebelum Halilintar sempat naik tangga Amato memanggilnya.
"Halilintar."
Langkahnya terhenti.
Amato yang duduk di kursi, menatapnya anaknya yang satu ini. "Duduk. Kita perlu bicara."
Halilintar menghela napas, lalu menoleh. "Aku lelah."
Namun, Amato tidak menyerah. "Halilintar, duduk." Nada suaranya tidak meninggi, tapi sedikit tegas agar anak itu mendengarkannya.
Halilintar kemudian berjalan ke ruang dapur semula. Dengan enggan, dia berjalan ke meja makan dan duduk di kursi kosong yang berhadapan dengan ayahnya.
Aisyah terlihat cemas. Taufan dan saudara-saudaranya menatap Halilintar dengan berbagai ekspresi, khawatir, bingung, bahkan takut akan berlaku sesuatu.
Amato menatap putranya dalam-dalam. "Ayah mau tanya..." tanyanya sambil melihat intens anaknya. Dan terlihat Halilintar memandangnya, menanti apa yang ingin dibicarakan padanya.
"Apa kamu yang duluan mencari masalah dengan pelajar lain di sekolah?"
Halilintar tidak terkejut. Dia sudah menduga bahwa Ayahnya akan membicarakan ini.
"Dan, kalau kau mau tau," lanjut Amato, "kau hampir di DO dari sekolah dan bahkan akan disenarai hitam untuk memasuki sekolah lain."
Aisyah menunduk, jemarinya saling menggenggam erat di pangkuannya.
Halilintar kini menatap piring kosong di depannya. "Itu bukan masalah besar," jawabnya dengan berani.
"Bukan masalah besar?" Suara Amato sedikit tertanya dengan balasan anaknya itu. "Kau terlibat perkelahian, Halilintar, Kau bisa dikeluarkan dari sekolah."
"..."
"Apa kau mau jadi kedepannya? kau itu berprestasi di sekolah dan tidak lama lagi kalian akan lulusan," kata Amato. Dia masih memandang wajah anaknya yang masih diam.
"Dan satu lagi, apa yang membuatmu selalu pulang terlambat?"
Halilintar mengepalkan tangannya dan masih tidak menatap Ayahnya. "Kenapa Ayah selalu ikut campur?" ucapnya dingin.
Mendengar itu, Amato membalas dengan cepat, "karena aku ayahmu. Dan karena aku peduli."
Halilintar mendengus, mengalihkan pandangannya ke arah lain, "aku ga butuh itu."
"Kamu ga boleh begitu Hali, lagipun di luar sana sangat berbahaya bila malam hari," ujar Aisyah berharap Halilintar mendengarkannya.
"Sekarang ini, sudah banyak kes kehilangan orang di tempat ni." tambahnya.
"Iya Ibu, salah satu teman kelas kami ada yang hilang, tetapi sampai sekarang mereka ga ketemu juga oleh pihak polis," ucap Taufan yang tiba-tiba ikut pembicaraan mereka.
Blaze di sebelah Taufan pula menganggukkan kepala setuju. "Teman satu tim basket denganku juga hilang dan masih ga ditemui sampai sekarang," ucapnya.
Beberapa menit hening seketika. Setelah berdiam diri tadi, Amato kembali bersuara,
"pokoknya, mulai esok Ayah ga mau Hali pulang sampai larut malam lagi."
"..."
"Dan harus pulang bersama dengan yang lain, kamu mengerti Halilintar?"
Amato memandang Halilintar, namun apa yang dia dapati hanyalah keterdiaman anak itu. Mereka semua kini menatap Halilintar, menanti jawapan darinya.
"Aku ga mau," tolaknya mentah-mentah.
Tiba-tiba, suara sendok jatuh terdengar. Semua mata beralih ke Thorn, yang duduk di ujung meja.
Thorn menatap Halilintar dengan mata yang mulai berair. "Kak, kenapa kakak berubah?"
Halilintar diam. Dia menatap lamat wajah adik kelimanya.
"Dulu, kakak selalu bersama kami. Dulu, kak Hali selalu melindungi kami. Tapi sekarang?" suara Thorn mulai bergetar, "kakak bahkan tidak peduli pada kami lagi."
"Thorn–" Aisyah mencoba menenangkannya, tapi anak itu melanjutkan.
"Kak Hali ga berbicara dengan kami. Selalu menjauh. Bahkan saat kami mencoba mendekat, kakak selalu menghindar. Kakak nggak akan tahu betapa sakitnya itu?"
Gempa ikut bicara, suaranya terdengar tenang. "Kami hanya ingin tahu apa yang terjadi padamu, kak. Kami ga ingin kehilanganmu."
Halilintar merasa sesuatu menusuk dadanya.
Rasa bersalah.
Namun, alih-alih menjawab, dia hanya berdiri. "Aku lelah. Aku ingin tidur."
Dan tanpa menunggu jawaban, dia pergi ke kamarnya, meninggalkan keluarganya yang masih duduk terdiam. Mereka di sana menatap sendu atas itu.
__________________________________________________
Tbc...
ANDA SEDANG MEMBACA
SISA HUJAN LUKA [end]
FanfictionCtass! Ctass! Ctass! "Ayah, sakit Yah, badan Hali sakit..hiks..hiks!" Bugh! "Akhh!" Suara jeritan kesakitan terkeluar begitu sahaja dari mulut anak kecil itu. Dirinya ditendang oleh orang yang dia sayang tanpa terbesit sedikit pun rasa bersalah dala...
![SISA HUJAN LUKA [end]](https://img.wattpad.com/cover/379880814-64-k984467.jpg)