70

86 14 5
                                        

Selamat ngesad guys!

__________________________________________________


Bangsal tua yang di dalamnya hanya diterangi cahaya matahari yang memaksa menerobos masuk ke dalam menerangi ruangan bagian dalam, namun bagi Halilintar, tempat ini adalah satu-satunya tempat di mana cahaya masih ada. Di tengah ruangan yang berdebu dan dipenuhi barang-barang rongsokan, Halilintar duduk bersila di atas tanah yang dingin.

Di hadapannya, terdapat susunan batu bata yang berselerakan, beberapa batang kayu lapuk, dan potongan kain usang yang digantung sedemikian rupa hingga membentuk sebuah tenda kecil olehnya. Ia tersenyum puas melihat hasil tangannya.

"Ufan, jangan taruh batunya di situ nanti rumahnya roboh!" Halilintar berseru kecil bila tahu Taufan yang bisa saja merusak rumah yang ia siapkan.

"Iya ih," jawab Taufan sembari meletakkan semula batu yang ia pegang.

Di sudut lain, ia melihat Gempa sedang menghamparkan kain usang sebagai alas tempat duduk mereka, sementara Blaze dan Ice sedang berebut potongan kayu. Thorn dan Solar duduk di dekatnya, sedikit membantu menghiasi tenda yang sudah siap dengan beberapa bunga yang dipetik tanpa izin di taman.

"Kak Hali, nanti kalau rumahnya udah jadi, kita tidur sini bareng ya?" suara lembut Gempa terngiang di telinganya.

"Iya, Kak! Selesai ini kita main juga!" sahut Thorn sambil memeluk kakinya.

Tawa mereka memenuhi ruangan. Suara canda gurau itu begitu nyata, begitu hangat hingga Halilintar bisa merasakan getaran kegembiraan di dadanya. Mereka bermain dengan seru, saling mengejar di antara pilar kayu bangsal, bersembunyi di balik tumpukan kain, dan berbagi memori di bawah atap bangsal yang bocor. Mereka melakukannya secara sembunyi-sembunyi, karena Oma dan Opa selalu melarang mereka mendekati tempat kotor ini.

"Hahaha, tangkap aku kalau bisa, Kak!" Taufan berlari melintasinya.

Halilintar mengulurkan tangan, mencoba menangkap ujung baju Taufan yang berkibar. "Dapat!"

Srak.

Tangannya hanya menangkap udara kosong.

Seketika, tawa yang memenuhi ruangan itu senyap. Kehangatan yang tadi menyelimuti kulitnya berganti menjadi hawa dingin yang menusuk tulang. Halilintar mengerjapkan matanya, dan perlahan-lahan, bayangan adik-adiknya memudar seperti asap yang tertiup angin.

Tawa Taufan hilang. Senyum Gempa lenyap. Sosok Blaze, Ice, Thorn, dan Solar menguap begitu saja.

Halilintar tersentak. Ia melihat sekeliling dengan napas memburu. Tidak ada siapa-siapa. Bangsal tua itu kembali pada wujud aslinya yang suasananya sunyi dan gelap. Rumah dari batu bata itu hanyalah tumpukan tak berbentuk. Kain-kain yang ia anggap selimut hanyalah kain putih penutup barang yang sudah berjamur.

Ia menunduk melihat tangannya yang gemetar. Tidak ada Taufan yang ia tangkap. Tidak ada adik-adik yang menemaninya bermain.

Realita menghantamnya dengan telak. Sudah beberapa bulan ia terkurung di bangsal ini sendirian. Tidak ada yang datang, bahkan tidak ada yang bicara padanya. Pintu bangsal itu digembok dari luar, dan ia dibiarkan terkurung di sana. Walau sesekali Oma akan datang membawa bersama nasi kosong juga air sejuk.

Di sini ia sendirian. Oma dan Opanya mengurungnya di bangsal tua ini hanya karna tak mahu melihat wajahnya di rumah.

Halilintar memeluk lututnya erat-erat, menyembunyikan wajahnya di sana. Air mata jatuh membasahi tanah yang berdebu. Penderitaan ini begitu nyata, hingga ilusinya pun tak sanggup lagi bertahan lama untuk menipunya.

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang