Happy reading guys!
__________________________________________________
"Tunggu saja nanti gue buktiin kalo gue ga maruk!" geram Lintar kesal sebelum akhirnya mengambil alih kendali tubuh sepenuhnya.
Begitu kendali berpindah. Seperti kebiasaannya, Lintar tidak pernah puas dengan penampilan milik Halilintar. Ia langsung membuka tiga kancing atas kemejanya sampai terlihat sedikit bagian dada, lalu menggulung kedua lengan baju sampai ke siku. Tangannya mengacak-acak rambut yang hingga berdiri tidak beraturan, memberikan kesan galak dan sedikit urakan yang sangat khas dengan dirinya.
Setelah itu, Lintar langsung melangkah keluar kamar dengan langkah yang lebar dan cepat, jauh berbeda dengan gaya berjalan Halilintar yang pelan dan teratur. Ia berjalan menuju tangga dengan senyum yang tidak pernah hilang dari bibirnya, bayangan biskut coklat yang renyah dan manis sudah memenuhi seluruh isi kepalanya.
Namun, baru saja ia sampai di pertengahan tangga dan hendak membelokkan arah, tiba-tiba ada sosok yang juga berjalan cepat dari arah berlawanan.
Brak!
Kedua tubuh itu terserempak. Lintar sedikit terhuyung ke belakang, sedangkan orang yang menabraknya sampai terpental dan hampir jatuh ke lantai jika tidak cepat memegang pegangan tangga.
"Eh, hati-hati dong!" seru Lintar sambil membetulkan posisi tubuhnya.
"Maaf, Kak! Gue buru-buru tadi..." jawab suara itu.
Lintar menatap ke bawah, dan ternyata yang terserempak dengannya adalah Gempa. Adiknya itu sedang memegang beberapa buku dan kertas di tangannya, wajahnya terlihat sedikit panik karena hampir jatuh.
"Kemana lo mau pergi sampai lupa lihat jalan?" tanya Lintar sambil menuruni sisa tangga itu, kini berhenti tepat di hadapan Gempa.
Gempa mendongak, dan matanya langsung terbelalak. Ia menatap dari ujung rambut yang acak-acakan sampai kemeja yang terbuka dan lengan yang digulung, sebelum akhirnya tersenyum lebar.
"Wah, Kak Lintar keluar ya? Pantes saja kayak kenal," kata Gempa sambil terkekeh. "Gue mau naik ke kamar, ada tugas sekolah yang belum selesai. Tadi Ibu panggil-panggil, makanya gue jadi buru-buru."
"Yah, tugas lagi... membosankan banget hidup lo," komentar Lintar santai. "Sudah sana pergi, jangan sampai dimarahi Ibu nanti. Gue mau ke dapur dulu."
"Ke dapur? Mau makan lagi ya, Kak? Padahal siang tadi baru aja habis makan loh!" goda Gempa sambil tertawa, langsung membuat Lintar mendengus kesal.
"Eh, lo juga ya! Ikut-ikutan ngejek gue maruk juga?! Pergi sana sebelum gue beneran tendang lo!" ancam Lintar.
Gempa langsung tertawa lebih lebar, lalu melesat naik ke atas dengan cepat. "Hahaha, maaf Kak!" teriaknya sambil terus berlari.
Setelah melihat Gempa menghilang di ujung tangga, Lintar melanjutkan langkahnya dengan semangat menuju dapur. Pikiran cuma tertuju pada biskut coklat kegemarannya. Begitu sampai di dapur, ia langsung membuka lemari makanan satu per satu, membongkar semua kotak dan wadah dengan ceroboh, tidak peduli jika ada yang bergeser atau terbengkalai.
"Di mana ya... Ibu bilang simpan di sini kan?" gumamnya sambil terus mencari.
Ia membuka lemari bawah, bahkan sampai melihat ke dalam kulkas, tapi biskut yang dicarinya itu tetap tak juga ditemukan. Wajahnya perlahan berubah dari ceria menjadi kesal.
"Ya ampun, hilang kemana coba? Padahal tadi pagi masih ada!" geramnya pelan.
Saat Lintar masih sibuk membongkar isi lemari dengan wajah yang makin kesal, Aisyah yang kebetulan lewat di depan pintu dapur langsung berhenti dan memandang ke dalam. Ia tersenyum kecil melihat tingkah putranya itu, tahu betul bahwa yang keluar saat ini bukanlah Halilintar, melainkan Lintar.
ANDA SEDANG MEMBACA
SISA HUJAN LUKA [end]
Fiksi PenggemarCtass! Ctass! Ctass! "Ayah, sakit Yah, badan Hali sakit..hiks..hiks!" Bugh! "Akhh!" Suara jeritan kesakitan terkeluar begitu sahaja dari mulut anak kecil itu. Dirinya ditendang oleh orang yang dia sayang tanpa terbesit sedikit pun rasa bersalah dala...
![SISA HUJAN LUKA [end]](https://img.wattpad.com/cover/379880814-64-k984467.jpg)