Happy reading guys!
__________________________________________________
Halilintar berjalan tanpa arah yang jelas. Langkahnya perlahan dan tidak stabil. Nafasnya masih belum pulih sepenuhnya. Tangannya sesekali menggigil, seolah-olah tubuhnya sendiri masih cuba memproses apa yang baru sahaja berlaku.
Lorong belakang sekolah itu kini sunyi semula. Bunyi langkah kaki Halilintar bergema lemah di sepanjang laluan menuju taman belakang.
Angin sepoi-sepoi bertiup, membawa sedikit kesejukan yang kontras dengan kekacauan yang baru saja terjadi. Daun-daun bergerak perlahan, seakan-akan tidak peduli dengan apa yang berlaku di dunia manusia.
Halilintar berhenti di satu sudut yang agak terpencil. Dia memegang kepalanya dengan mata terpejam rapat.
“Gue… apa yang gue udah lakuin…” Suaranya bergetar.
Suasana yang sunyi menyelimuti dirinya sebelum tidak lama kemudian seseorang datang.
“Halilintar.” Suara itu datang dari belakang.
Halilintar yang tertunduk tersentak. Tubuhnya kaku seketika sebelum dia perlahan-lahan berpaling.
Di belakang, Ayahnya berdiri tidak jauh darinya. Di sebelahnya, Gibran turut berada di situ, wajahnya serius, tidak menunjukkan sebarang emosi berlebihan tetapi matanya jelas memerhati dengan teliti.
Halilintar menelan air liur. “...ayah.” Suaranya perlahan.
Amato melangkah mendekat, satu langkah… kemudian berhenti beberapa meter di hadapannya. Tidak terlalu dekat dan tidak juga jauh, jarak ini cukup untuknya berbicara dengan Halilintar tanpa menekannya.
“Duduklah,” kata Amato dengan nada tenang.
Halilintar tidak bergerak pada awalnya. Namun akhirnya, dia perlahan-lahan melabuhkan dirinya di bangku kayu berhampiran. Tangannya masih menggigil dengan kepalanya tertunduk karena masih takut untuk menatap sesiapa.
Amato berdiri beberapa saat, memandang anaknya dalam diam sebelum akhirnya membuka bicara.
“Ayah udah tahu.”
Halilintar mengangkat wajahnya sedikit dengan ekspresi tertanya-tanya, “...tahu apa?”
Amato menarik nafas perlahan. “Tentang Lintar.”
Perkataan itu seolah-olah membeku di udara. Halilintar yang mendengar itu jelas terkaku. Matanya membesar sedikit.
“...apa maksud ayah?”
Gibran yang sejak tadi diam, hanya mengalihkan pandangan ke sisi, memberi ruang kepada Amato untuk meneruskan.
Amato memandang tepat ke arah Halilintar. Suaranya tetap tenang agar tidak langsung membuat Halilintar tertekan.
“Sejak beberapa waktu lepas…pada awalnya Ibumu perasan perubahan kamu, Hali. Cara bercakap, reaksi kamu, bahkan situasi-situasi tertentu yang ga konsisten. Ibumu bagitahu Ayah tapi Ayah yang masih ga percaya juga langsung mencari bukti dan sampai akhirnya menemui mereka berdua, Leisya dan Miss Leila, wali kelasmu."
Halilintar lantas menatap Amato bila nama yang tidak asing itu terdengar, dia menggeleng perlahan. "Maksud Ayah, Tante Leisya? Bukannya Tante udah... tiada?" Suaranya lemah mengatakan itu.
Amato menggelengkan kepala, ia menyambung semula tanpa mengalihkan pandangan. "Leisya masih hidup. Ayah juga ga tau sebelum Gibran yang bagitau semuanya." Amato menatap Gibran di sebelah kemudian memandang semula Halilintar. "Sebenarnya, Leisya sempat diselamatkan oleh Gibran."
ANDA SEDANG MEMBACA
SISA HUJAN LUKA [end]
FanfictionCtass! Ctass! Ctass! "Ayah, sakit Yah, badan Hali sakit..hiks..hiks!" Bugh! "Akhh!" Suara jeritan kesakitan terkeluar begitu sahaja dari mulut anak kecil itu. Dirinya ditendang oleh orang yang dia sayang tanpa terbesit sedikit pun rasa bersalah dala...
![SISA HUJAN LUKA [end]](https://img.wattpad.com/cover/379880814-64-k984467.jpg)