36

149 17 2
                                        

Happy reading guys!

__________________________________________________

Kembali ke Amato dan Gibran...

Leisya yang dipikirkan telah tewas di tangan Aqsa ternyata masih bernyawa. Halilintar tidak tahu bahawa wanita itu masih ada, yang ia tahu terakhir kali dia melihat Leisya terbaring lemah dengan banyak darah membasahi tubuhnya.

Namun Leisya yang Halilintar sangka sudah tiada ternyata ada di sini, di depan Amato dan Gibran. Dan yang menyelamatkan Leisya adalah Gibran sendiri.

Leisya sendiri tidak dapat bayangkan bagaimana kondisinya waktu itu kalau saja Gibran tidak cepat membawa dirinya keluar dari mansion Aqsa. Mungkin tubuhnya sudah hancur terhempap bersama sisa-sisa runtuhan mansion Aqsa karena letupan yang diciptakan oleh Aqsa sendiri. Leisya sangat berhutang budi pada pria itu.

Mendengar bahawa Halilintar yang dulu pernah ia rawat berubah, Leisya tidak mampu menahan sebak. Anak yang dulu ceria kini menjadi tertutup karena trauma yang disimpannya. Jadi karena itu kini ia mencoba menolong mereka dengan menceritakan apa yang terjadi dahulu, bisa saja boleh membantu mereka mencari punca perubahan Halilintar.

"Satu hal lagi, Amato," kata Leisya yang menatap serius Amato. "Dulu ketika aku terseksa oleh Aqsa, aku menitipkan seseorang untuk menjaganya. Orang itu namanya Leila, adik aku yang juga dalam kawalan Aqsa. Jika kau ingin Halilintar sembuh, carilah dia, dia mungkin saja yang boleh meredam Lintar."

Amato tersentak. Dia teringat laporan pendaftaran sekolah Halilintar. Nama wali kelasnya... Leila Safira.

"Apa nama penuhnya Leila Safira?" soal Amato  yang teringat informasi yang ia dapat dari wali kelas lama anaknya.

"Benar, bagaimana kamu tau?"

"Dia mengajar di kelas Halilintar sekarang."

Gibran terkejut. "Itu bisa jadi manfaat Amato. Mungkin adiknya boleh membantu anakmu."

"Iya aku juga berpikir begitu. Adik aku pernah cerita bahawa Halilintar mempunyai kepribadian ganda. Dan seperti yang kau katakan, Amato, Lintar yang disebutkan anak kamu adalah kepribadian ganda Halilintar yang Leila pernah bilang ke aku."

"Kalau begitu, bisa kamu bilang ke adikmu? Aku ingin menemuinya," pinta Amato yang dibalas anggukan setuju oleh Leisya.

"Aku akan hubungi dia nanti. Buat masa sekarang adikku masih di sekolah."

"Baiklah." Amato mengangguk paham.


Amato berdiri begitu juga Gibran dan Leisya untuk berpamitan.

"Aku akan hubungi kamu setelah Leila sudah ada," katanya yang menghantar mereka berdua sampai ke pintu.

Setelah memasuki mobil, Amato memandang ke depan dengan diam. Ternyata dugaannya selama ini benar tentang sisi lain Halilintar.

"Ada apa Amato?" tanya Gibran heran melihat sahabatnya berdiam di tempat.

"Gaada cuman terpikirkan sesuatu." Amato menghidupkan enjin mobil sebelum berlalu dari sana.

Kembali di sekolah, di koridor, Halilintar dan Leila masih berdiri berhadapan. Halilintar teruja apabila dipertemukan lagi dengan wanita yang dulu ada bersamanya.

"Ternyata kamu tumbuh dengan baik yah," ucap Miss Leila dengan senyuman.

Dia teringat masa lalu remaja di depannya, di mana pilu hatinya melihat Halilintar yang masih balita berjuang melawan arahan Aqsa.

"Lintar gimana? Apa dia masih mengganggumu?"

Mendengar itu, helaan napaslah yang keluar. Jelas terlihat wajah jengkel di muka Halilintar, Miss Leila yang tahupun tertawa kecil. "Kayaknya Lintar masih gangguin kamu. Hali, kamu harus bawa berdamai dengannya."

"Gimana Tante, orangnya keras kepala banget," balasnya cepat.

"Kek kamu ga keras kepala aja."

"... "

Halilintar diam beberapa saat. Wajahnya berubah-ubah seolah-olah sedang berbicara dengan seseorang yang tidak terlihat. Leila di depan hanya memerhatikan dengan tenang. Dia sudah mengenal keadaan itu sejak dahulu.

“Hali?” panggilnya perlahan.

Halilintar mengangkat kepala, tetapi pandangannya sedikit berbeza. Senyuman sumringah muncul di bibirnya.

“Kenapa, Tante? Rindu sama aku?” katanya dengan nada yang lebih santai.

Leila menghela nafas kecil.
“Lintar… kamu muncul juga.”

Halilintar atau lebih tepatnya Lintar tersenyum sinis.

“Anak ini lemah banget Tante,” balasnya sambil menyandarkan tubuh ke dinding koridor.

Leila mendekat satu langkah.
“Dia bukan lemah. Dia cuma terluka.”

Lintar tertawa kecil.

“Terluka? Semua orang di dunia ini terluka, Tante. Bedanya, aku ga pura-pura tuh kuat kayak dia.”

Beberapa saat suasana menjadi sunyi. Angin petang yang masuk dari tingkap koridor membuat rambut Halilintar sedikit beralun.

Leila memandangnya dengan lembut.
“Lintar… kamu wujud untuk melindungi Halilintar, bukan untuk menguasai dia.”

Senyuman Lintar perlahan memudar.
“Aku melindungi dia,” katanya perlahan. “Kalau aku gaada… dia sudah lama hancur kerana Aqsa.”

Nama itu membuat suasana menjadi tegang.
Leila terdiam seketika. “Aqsa sudah tiada,” katanya lembut. “Kamu ga perlu terus hidup dalam bayang-bayang masa lalu.”

Lintar memalingkan wajah. “Bagi Tante mungkin sudah selesai. Tapi bagi kami… semuanya masih ada di sini.”
Dia mengetuk dadanya perlahan.

Tiba-tiba ekspresi wajah Halilintar berubah lagi. Matanya berkedip beberapa kali seperti baru tersedar dari mimpi.

“Hah…?” dia memegang kepalanya.

“Hali?” kata Leila cepat.

Halilintar memandangnya dengan wajah sedikit bingung. "Dia… muncul lagi kan?” tanyanya perlahan.

Miss Leila mengangguk sedikit. Halilintar menghela nafas panjang lalu duduk di bangku koridor.

“Aku penat, Tante…” katanya lirih. “Setiap kali aku cuba hidup normal… dia selalu muncul.”

Leila duduk di sebelahnya.

“Kamu ga perlu lawan dia, Hali.”

Halilintar mengerutkan dahi. “Maksudnya?”

“Kamu perlu menerima dia. Lintar adalah sebahagian daripada kamu.”

Halilintar terdiam lama. Di dalam hatinya, suara lain tiba-tiba muncul.

“Nah bener, dengar tuh Hali.”

Halilintar memejamkan mata. “Lintar… bisa diam ga…”

Beberapa saat berlalu dalam diam. Tiba-tiba langkah kaki terdengar dari hujung koridor. Seorang lelaki berhenti apabila melihat mereka.

“Halilintar?”

Halilintar membuka mata.

“Ayah…?”

Amato berdiri di sana bersama Gibran.

Namun pandangan Amato bukan hanya pada anaknya. Matanya perlahan beralih kepada wanita di sebelah Halilintar.

“Kamu Leila… Safira?”

Leila turut berdiri, sedikit terkejut. "Iya, itu saya. Dari mana kamu tahu namaku?”

Suasana menjadi sunyi. Gibran memandang mereka satu persatu. Nampaknya… semua jawapan untuk membantu Halilintar akhirnya mula terbuka.

__________________________________________________

Tbc...

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang