72

61 11 1
                                        

Happy reading guys!

__________________________________________________



Cahaya oranye memunculkan diri disela-sela pepohonan. Tak lupa kicauan unggas saling bersahutan pertanda masa untuk memulai pagi hari.

Sesuai dengan janji Radit dan permohonan Aisyah, proses penjemputan Halilintar dilakukan sebelum fajar menyingsing agar jauh dari sorotan kamera media atau pandangan menghakimi dari tetangga sekitar.

Dua mobil polisi tanpa sirine berhenti tepat di depan pagar rumah. Ketika pintu rumah dibuka, Halilintar sudah berdiri di sana. Dia tidak terkejut, tidak juga berniat melarikan diri. Wajahnya datar, sedatar tatapan matanya yang kosong, seolah terserah dengan takdirnya yang sudah tertulis.

"Kak, please...Ufan mohon jangan pergi, Kak..." Taufan menahan lengan Hali erat-erat, air matanya sudah membanjiri wajahnya. Gempa dan yang lainnya berdiri di belakang dengan berharap Halilintar tidak mengikuti pihak polisi.

Halilintar memandang yang lain sebelum beralih pada Taufan, ia dengan perlahan melepaskan cengkeraman tangan Taufan dengan gerakan lembut, lalu menatap adik-adiknya satu per satu. "Jaga Ibu dan Ayah," ucapnya hampir berbisik.

Itu adalah kalimat terakhirnya sebelum dia membiarkan petugas memasangkan borgol di pergelangan tangannya dan membawanya masuk ke dalam mobil. Aisyah langsung pingsan di pelukan Amato saat mobil itu perlahan bergerak menjauh, membawa putra sulung mereka pergi.



Kasus ini bergulir begitu cepat karena dipantau langsung oleh atasan tertinggi. Amato yang menggunakan sisa-sisa pengaruh jabatannya, akhirnya berhasil mendapatkan izin khusus untuk menemui Halilintar secara tertutup dan ditemani oleh Radit di luar.

Amato mencengkeram tepi meja besi di depannya. Dinginnya ruangan itu terasa menusuk hingga ke tulang, tapi tak sebanding dengan rasa hancur yang berkecamuk di dalam dadanya. Di depannya, Halilintar hanya menunduk. Sepasang baju tahanan berwarna oranye itu terlihat terlalu longgar di tubuhnya yang tampak kian menyusut dalam dua minggu ini.

"Hali..." Amato membuka suara, serak dan gemetar. "Tatap Ayah, Nak. Tolong."

Perlahan, Halilintar mengangkat kepalanya. Namun, demi melihat sepasang manik mata itu, jantung Amato serasa dihantam godam besar. Kosong. Tidak ada binar kehidupan, tidak ada amarah, bahkan tidak ada ketakutan. Tatapan itu begitu asing. Rasanya seperti melihat sebuah cangkang kosong.

"Ayah sengaja minta waktu berdua denganmu," lanjut Amato, mencoba menahan air matanya agar tidak jatuh di depan sang putra. "Sebab... pihak hakim sudah mengeluarkan keputusan. Karena atasan langsung yang menekan kasus ini agar cepat selesai... mereka... mereka berniat menjatuhkan hukuman mati untukmu, Hali."

Amato sengaja memberi jeda, berharap ada reaksi. Pemberontakan, tangisan, atau setidaknya kilatan rasa takut dari pemuda di depannya.

Namun, Halilintar hanya mengedipkan mata pelan. Sudut bibirnya bahkan terangkat sedikit, membentuk sebuah senyuman tipis yang teramat getir-sebuah senyuman pasrah yang justru membuat Amato merinding.

"

Hukuman mati, ya?" bisik Halilintar. Suaranya datar, tanpa beban, seolah mereka hanya sedang membicarakan perkiraan cuaca besok pagi. "Baguslah kalau begitu. Memang itu yang pantas untuk pembunuh, kan, Yah?"

"Hali! Kenapa kamu bicara begitu?" Amato setengah membentak, frustrasi dengan sikap apatis putranya. "Ayah di sini berjuang untukmu, memikirkan segala cara agar kamu bisa lepas dari hukum ini! Ayah bisa sewa pengacara terbaik, Ayah bisa cari celah hukum, apa pun, Hali! Asalkan kamu mau bicara dan bantu Ayah!"

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang