Happy reading
__________________________________________________
Dua minggu menahan kekosongan raga, kini sang sulung keluarga telah benar-benar pergi menemui kedamaiannya sendiri. Di luar gedung penjara, cahaya matahari subuh perlahan menyembul di ufuk timur, membawa pagi yang baru, namun menyisakan luka yang tak akan pernah bisa disembuhkan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Sehari Sebelum Eksekusi...
Hujan deras mengguyur atap beton penjara, menyisakan suara gemercik air yang beradu dengan sunyinya sel isolasi. Di dalam ruangan sempit berukuran dua kali tiga meter itu, Halilintar duduk bersandar pada dinding semen yang lembap. Kedua lututnya ditekuk, dipeluk erat oleh sepasang lengan yang kini tampak begitu kurus. Baju tahanan jingga yang dikenakannya terasa longgar, seolah ikut kehilangan gairah bersama dengan tubuh pemiliknya.
Hanya ada satu celah ventilasi kecil di bagian atas sel. Dari sana, Halilintar bisa melihat bias cahaya bulan yang samar-samar menembus kegelapan. Besok adalah hari terakhirnya menghirup udara di dunia ini. Besok, seluruh beban berat yang menghimpit dadanya akan selesai.
Sebuah senyum tipis, teramat getir, terukir di bibirnya yang pecah-pecah. Menatap lurus ke arah gelapnya sel, Halilintar membiarkan air matanya luruh dalam kesunyian. Lidahnya kelu, namun jauh di dalam lubuk hatinya, dia mengharapkan sesuatu. Pandangannya beralih menatap ke atas.
"Kalau aja boleh ulang waktu..." bisiknya, bergetar menahan rindu yang teramat dalam pada kebahagiaan yang tak pernah ia rasakan. "Gue pengen banget punya keluarga yang sangat menyayangiku sejak kecil. Gue pengen bisa bermain, tertawa, berlari-lari, dan tumbuh bahagia bersama saudara-saudaraku..."
Dia memejamkan mata, memeluk erat impian semu itu hingga malam perlahan larut dan mengantarkannya pada subuh yang paling mematikan.
JELEK!
Sentakan kasar yang sempat meremukkan lehernya mendadak lenyap begitu saja. Suara benturan besi dan kegelapan total yang sempat merenggut kesadarannya memudar, digantikan oleh rasa ringan yang luar biasa. Rasa sakit yang membakar dadanya menguap, seolah seluruh beban dosa dan penderitaan jasmaninya telah luruh ke dasar bumi.
Perlahan, kelopak mata Halilintar terbuka.
Tidak ada kain hitam yang menutupi pandangannya. Tidak ada bau pengap ruang eksekusi. Di depannya terhampar sebuah dimensi yang serba putih. Bersih, suci, luas, dan tak berujung. Keheningan di tempat ini tidak lagi terasa mencekam seperti di dalam sel isolasi, melainkan sebuah ketenangan hakiki yang menidurkan segala rasa takut.
Saat dia melihat ke bawah, rantai besi yang membelenggu pergelangan tangan dan kakinya telah tiada, menyisakan kulitnya yang kini bersih tanpa luka.
Tiba-tiba, hamparan putih di atasnya bergerak, bergelombang seperti air tenang yang terusik. Cahaya benderang yang teramat menyilaukan muncul, memancarkan pendar oranye dan keemasan yang hangat dan megah.
Dari balik tirai cahaya itu, muncul sosok seperti wanita. Dia melayang anggun di udara, tepat di hadapan Halilintar. Wajah dan lekuk tubuhnya tidak terlihat jelas karena tertutup oleh pancaran sinar yang begitu pekat dan suci, namun kehadirannya memancarkan aura belas kasih yang membuat jiwa Halilintar bertekuk lutut.
Sosok itu tidak menggerakkan bibir, tetapi sebuah suara lembut yang teramat agung dan menggema perlahan, merambat langsung ke dalam sanubari Halilintar.
"Wahai jiwa yang telah menyelesaikan takdirnya dengan kepasrahan... perjalananmu di dunia lama yang penuh air mata telah usai."
Halilintar mendongak pelan. Maniknya yang sempat kosong kini perlahan kembali memancarkan kilau kehidupan. Dia menatap cahaya berkilauan itu, membiarkan kehangatan zat bercahaya di atasnya menyelimuti seluruh raganya yang lelah.
Sosok itu melayang turun sedikit lebih rendah, pendar cahayanya berayun lembut seiring dengan suaranya yang kembali bergema dengan tempo yang lambat dan penuh penekanan.
"Sebelum hari eksekusimu tiba, jiwamu yang terluka pernah menyampaikan sebuah permohonan yang teramat tulus kepada semesta. Sebuah kerinduan akan hangatnya pelukan. Ingatkah engkau, Halilintar?"
Mendengar ucapan itu, ingatan Halilintar langsung terlempar pada malam sebelum dia dihukum gantung. Harapan yang dia bisikkan di tengah tangis kesendiriannya ternyata menggema sampai ke semesta. Setetes air mata murni menetes di pipinya, jatuh dan menghilang di atas lantai putih tak berwujud.
"Semesta telah mendengar dan menimbang seluruh pengorbananmu," lanjut sosok bercahaya itu, mengulurkan tangannya yang bersinar terang.
Halilintar tersentak. Bibirnya sedikit terbuka, berniat merespons perkataan sosok agung di hadapannya. Ada gejolak rasa ingin tahu, ada rentetan kalimat yang ingin dia tanyakan tentang bagaimana nasib keluarganya yang ditinggalkan, atau ke mana sebenarnya jiwa ini akan pergi.
Namun, jangankan kata-kata, embusan napas pun tak mampu keluar dari tenggorokannya. Suaranya hilang total. Lidahnya terasa kelu, seolah semesta telah mengunci rapat haknya untuk berucap di dimensi suci ini. Rasa panik sempat melintas di manik rubynya, dan dia hanya bisa menatap sosok bercahaya itu dengan pandangan penuh tanda tanya.
Sosok bercahaya itu tidak memberikan jawaban atas kebingungan Halilintar. Dia tidak mengatakan apa-apa lagi untuk menjelaskan ke mana arah takdir baru Halilintar. Pendar keemasan di sekujur tubuhnya hanya berayun semakin hangat, mengalirkan rasa damai yang perlahan mengikis rasa panik di hati sang pemilik manik ruby itu.
Dalam keheningan mutlak yang terasa lambat, sebuah kalimat terakhir berdengung lembut, langsung meresap ke dalam kesadaran Halilintar sebagai salam perpisahan sekaligus penyambutan.
"Selamat menjalani kehidupan barumu. Ingatlah... sambutlah dengan hati yang terbuka pada takdir yang akan kamu jalani."
Tepat setelah kalimat itu selesai menggema, tangan bercahaya yang terulur di depan Halilintar memancarkan kilatan oranye yang teramat megah. Sinar itu meluas dengan cepat, menelan habis dimensi putih dan pandangan Halilintar, membungkus jiwanya dalam kehangatan yang membutakan-membawa Halilintar masuk ke dalam pelukan sosok bercahaya itu.
__________________________________________________
THE END
Ris saja sih buat ending tergantung gini. Jadi menurut kalian apa endingnya memuaskan atau engga ni? Ini udah real ending ya guyss, jadi ceritanya udah sampe sini aja.
Makasih Ris ucapkan pada para readers yg selama ini udah setia menemani Ris dari awal. Pada mereka yg udah lama ama fanfic ini juga para readers yg baru menyelami fanfic Ris ini. Ris bangga sama diri Ris karna udah nyiapin semuanya sampe selesai walau agak tergantung sih endingnya.
Tapi gapapa yah guys, jangan sedih disebabkan ceritanya sampe sini saja karna Ris ada khabar gembira buat kamu semua nih. Dalam masa terdekat, Ris akan usahakan utk nyelesain alur cerita utk fanfic baru Ris. Jadi ditunggu aja yaa.
Dan last sekali Ris ucapkan selamat karna udah abis baca fanfic pertamanya Ris! Kamu hebat banget udah sesabar ini nunggu updetan dari cerita ini. So, bye bye semuanya!
ANDA SEDANG MEMBACA
SISA HUJAN LUKA [end]
FanfictionCtass! Ctass! Ctass! "Ayah, sakit Yah, badan Hali sakit..hiks..hiks!" Bugh! "Akhh!" Suara jeritan kesakitan terkeluar begitu sahaja dari mulut anak kecil itu. Dirinya ditendang oleh orang yang dia sayang tanpa terbesit sedikit pun rasa bersalah dala...
![SISA HUJAN LUKA [end]](https://img.wattpad.com/cover/379880814-64-k984467.jpg)