35

145 13 4
                                        

Happy reading guys!

__________________________________________________


Leisya kini duduk berhadapan dengan Amato dan Gibran setelah selesai membuatkan mereka berdua air. Dia sudah bersedia untuk menceritakan perkara sebenar.

Gibran menarik napas panjang, jemarinya mengetuk-ngetuk map cokelat yang masih tertutup di atas meja yang remang itu. Di sebelahnya, Amato tampak gelisah, sebuah pemandangan langka bagi pria yang biasanya selalu tenang. Namun, ketika topiknya adalah Halilintar, putra sulungnya yang penuh misteri dan luka, Amato hanyalah seorang ayah yang merasa gagal.

"Kau yakin ingin mendengar ini sekarang, Amato?" tanya Gibran dengan nada rendah, matanya menatap tajam sahabat lamanya itu. "Sebentar lagi kau akan mengetahui semuanya."

Amato mengangguk mantap, meski hatinya berdegup kencang. "Aku harus tahu, Gibran. Istriku, Mara, dia merasa ada orang lain di dalam tubuh Halilintar. Dan anak itu... dia sangat terobsesi dengan benda tajam yang pernah kusita. Aku perlu tahu apa yang dilakukan Aqsa padanya selama Hali di sana."

Gibran menghela napas, dia sempat melirik Leisya agar menceritakan semuanya sekarang.

"Amato, sebelum itu aku mahu minta maaf atas apa yang telah terjadi pada Halilintar. Kalau saja aku lebih dahulu membawanya keluar, mungkin Halilintar telah tumbuh seperti anak-anak lainnya." Leisya tertunduk dengan sedikit menggigit bibirnya.

"Itu bukan salahmu punca anak aku jadi begitu. Aku tahu dirimu juga diancam oleh Aqsa waktu itu. Jangan rasa bersalah."

Biarpun Amato mengatakan itu, Leisya tetap masih merasa bersalah. Karena waktu itu dialah yang ada di dekat Halilintar kecil. Dia mengangkat kepalanya untuk menatap Amato, bapa kepada Halilintar. Akhirnya ia menceritakan apa yang terjadi waktu itu.

"Aqsa, brengsek yang sudah menyebabkan aku begini. Aku benci bahkan ga akan maafkan dia sekalipun dia bangkit dari kubur untuk merayu-rayu padaku meminta maaf. Dan Hali, karna orang itu... Halilintar tersiksa."

 

Flashback...

Ruang Bawah Tanah Kediaman Aqsa, 15 Tahun Lalu

Bau amis darah dan pengapnya udara menyelimuti ruangan sempit itu. Cahaya lampu bohlam yang redup berayun pelan, menciptakan bayangan panjang yang menakutkan di dinding beton. Di tengah ruangan, seorang wanita muda bernama terikat kuat di sebuah kursi kayu. Wajahnya lebam, sudut bibirnya pecah, dan air mata telah mengering di pipinya yang pucat.

Di hadapannya, berdiri Aqsa dengan seringai dingin yang mengerikan. Namun, yang membuat pemandangan itu jauh lebih memuakkan adalah sosok kecil yang berdiri di samping Aqsa. Seorang bocah laki-laki berusia lima tahun. Halilintar.

Tangan mungil bocah itu gemetar hebat saat Aqsa memaksa jemarinya menggenggam sebuah pisau belati perak yang tajam.

"Ayo, Hali," bisik Aqsa, suaranya lembut namun jelas tersirat paksaan. "Tunjukkan pada Paman kalau kamu berani. Dia hanya sampah, Hali. Kalau kau ga melenyapkannya, dia akan menyakitimu. Kau harus kuat agar dapat jumpa keluargamu semula."

Aqsa menunjuk wanita di depannya, "sekarang, tikam dia."

Halilintar kecil menggeleng ribut. Matanya yang merah karena tangis menatap wanita di depannya dengan penuh ketakutan dan rasa iba. "Enggak mau, Paman... Tante Leisya baik. Hali gamau..."

Plak!

Satu tamparan keras mendarat di pipi mungil Halilintar, membuatnya tersungkur ke lantai dingin. Pisau itu terlepas dari genggamannya, berdenting nyaring di atas jubin.

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang