63

54 11 4
                                        

Happy reading guys!

__________________________________________________




Suasana rumah menjadi sunyi ketika jarum jam menunjukkan pukul satu dini hari. Di tengah kegelapan dapur, hanya lampu kecil di atas kompor yang menyala, memberikan cahaya remang-remang.

Di sana, terlihat sosok Halilintar sedang duduk di kursi makan. Namun, dari cara duduknya yang santai dan lahapnya ia menyuap nasi goreng sisa makan malam, jelas itu bukan Halilintar. Itu adalah Lintar yang sedang makan lewat malam karena perutnya terasa sangat keroncongan.

Lintar benar-benar fokus pada makanannya. Sesekali ia menggumam senang setiap kali kunyahannya terasa nikmat. Ia sama sekali tidak menyadari ada langkah kaki pelan yang menuju ke arah lorong kamar tamu.

Omanya, yang baru saja keluar dari toilet dan hendak kembali ke kamar, tiba-tiba menghentikan langkahnya. Matanya memicing tajam melihat sosok cucunya yang sedang makan dengan begitu lahap di jam yang tidak wajar.

"Dasar anak maruk," ucapnya dengan sinis. "Padahal sudah makan tadi malam, kayak nggak makan sehari."

Lintar masih tidak bergeming. Ia sedang asyik mengunyah kerupuk yang bunyinya cukup nyaring, sehingga suara Omanya itu seolah hanya lewat begitu saja di telinganya. Baginya, makanan di depannya adalah prioritas nomor satu saat ini.

Melihat ucapannya sama sekali tidak digubris, amarah Oma memuncak. Ia merasa dilecehkan oleh sikap cuek cucunya yang dianggapnya tidak tahu sopan santun itu. Dengan langkah cepat dan penuh emosi, ia mendekat ke meja makan.

"Kamu ini tuli ya?! Orang tua bicara malah asyik makan!" bentaknya.

Tanpa peringatan, tangannya terayun kasar menyentuh pinggiran piring nasi goreng yang sedang dinikmati Lintar. Dengan satu dorongan kuat, piring berisi sisa nasi goreng dan kerupuk itu terlempar dari meja.

Prang!

Suara piring pecah menghantam lantai dapur yang dingin bergema memecah kesunyian malam. Nasi goreng yang masih hangat itu kini berserakan di atas lantai, bercampur dengan pecahan keramik yang tajam.

Lintar terdiam. Tangannya yang masih memegang sendok menggantung di udara. Ia menatap kosong ke arah lantai di mana makanannya baru saja mendarat dengan tragis. Suasana yang tadinya penuh kenikmatan kini berubah menjadi tegang dan mencekam.

"Itu tempat yang cocok buat makanan kamu! Di lantai, kayak binatang!" ujar Oma dengan puas. "Jangan harap kamu bisa makan enak lagi kalau terus-terusan bersikap kurang ajar di depanku!"

Lintar perlahan menurunkan tangannya. Pandangannya yang tadi kosong kini berubah menjadi gelap juga penuh amarah yang meluap-luap. Di dalam benaknya, ia merasa sangat terhina. Bukan hanya karena makanannya dibuang, tapi karena kata-kata binatang yang diucapkan wanita tua di depannya benar-benar menyulut hati.

Genggamannya pada sendok di tangannya mengerat. Entah sejak kapan, jempolnya mengusap ujung sendok yang terbuat dari besi itu, seolah sedang menguji ketajamannya.

Melihat cucunya terdiam, dia mencoba mendekat namun tanpa suara, Lintar bergerak maju satu langkah. Matanya yang merah menyala menatap lurus ke arah leher Omanya. Dengan gerakan yang sangat cepat, ia mengangkat tangannya, mengarahkan ujung sendok itu tepat ke arah tenggorokan wanita tua di hadapannya.

Oma terkesiap, tubuhnya membeku. Ia bisa merasakan dinginnya ujung besi sendok itu nyaris menyentuh kulit lehernya. Ia melihat kegilaan di mata Halilintar, sebuah tatapan yang mengingatkannya pada seseorang.

"Lo... benar-benar mau mati ya?" bisik Lintar, suaranya terdengar sangat parau dengan nada rendah. "Gue bisa aja bikin lo ga bisa bicara lagi detik ini juga."

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang