66

67 12 4
                                        

Happy reading guys☺️

__________________________________________________

Suasana di sepanjang jalan terasa begitu sunyi dan menekan. Tidak ada satu pun di antara mereka yang bersuara. Taufan, Blaze, Ice, Gempa, Solar, maupun Thorn hanya berjalan mengikuti di belakang Lintar yang masih ambil alih kesadaran Halilintar dengan kepala menunduk.

Namun, hal yang membuat suasana semakin berat adalah tatapan orang-orang yang mereka lewati.

Jalanan yang biasanya ramai pada jam-jam seperti itu kini seolah menjadi panggung bagi mereka. Setiap orang yang lewat, entah itu pejalan kaki, pengendara sepeda motor, maupun pedagang di pinggir jalan, semuanya berhenti sejenak dan menatap ke arah mereka dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Dan sasaran utama tatapan itu bukanlah yang lain, melainkan Halilintar yang berjalan di paling depan.

Baju seragamnya yang putih kini sudah berubah menjadi merah kecokelatan, penuh noda darah yang kering maupun yang masih basah. Wajahnya, tangannya, bahkan rambutnya pun tidak luput dari noda merah itu. Luka di kepalanya masih terus mengeluarkan darah, menetes perlahan membasahi leher dan punggungnya, namun ia berjalan dengan tegak dan santai seolah-olah tubuhnya sama sekali tidak merasakan sakit. Netra merah itu menatap lurus ke depan, acuh tak acuh terhadap segala hal di sekelilingnya.

Orang-orang itu menatap dengan mata terbelalak, wajah mereka menunjukkan keterkejutan, rasa jijik juga takut. Bisik-bisik mulai terdengar di mana-mana, semakin lama semakin keras hingga bisa didengar jelas oleh telinga mereka.

"Ya Tuhan... lihat anak itu! Penuh darah dari kepala sampai kaki..." gumam seorang ibu sambil menarik tangannya anaknya menjauh seolah takut tertular.

"Anak sialan! Pasti dia baru saja berkelahi atau membunuh orang! Dasar anak nakal zaman sekarang!" bentak seorang bapak tua dengan kasar.

"Lihat tuh mukanya! Menyeramkan sekali... pasti dia anak yang jahat dan nggak punya hati," bisik seorang wanita lain sambil menutup hidungnya seolah bau darah itu mengganggunya.

"Dasar sampah masyarakat! Cuma bikin susah orang lain saja! Mending dia mati daripada bikin rusuh di sini!" seru seseorang.

"Lihat saja wajah datarnya... dia pasti orang yang nggak punya perasaan. Nggak tahu gimana didikan orang tuanya sampe jadi begini," tambah orang lain.

"Jangan dengerin mereka..." ucap Lintar tiba-tiba dengan suara rendah namun terdengar jelas, memecah kesunyian di antara mereka. Ia tidak menoleh sedikitpun ke belakang, matanya tetap menatap lurus ke depan. "Mereka cuman sampah yang ga tau apa-apa. Omongan mereka ga ada artinya buat gue. Jadi... jangan nangis atau sedih cuma gara-gara omongan kosong mereka."

Adik-adiknya saling berpandangan, lalu kembali menatap punggung kakaknya dengan perasaan haru yang mendalam. Meskipun suaranya terdengar dingin dan acuh tak acuh, mereka tahu bahwa ia berkata begitu hanya agar mereka tidak merasa sedih lagi. Ia ingin memastikan bahwa mereka baik-baik saja, meskipun ia sendiri sedang dihina dan dipandang rendah oleh semua orang.

Begitu sampai di depan rumah, pintu terbuka dan Amato serta Aisyah langsung menyambut kedatangan mereka. Namun senyum di wajah kedua orang tua itu seketika lenyap berganti rasa cemas yang mendalam saat melihat penampilan putra sulungnya yang mengenaskan. Tubuh Halilintar penuh darah, luka di kepalanya masih menetes pelan, dan wajahnya penuh memar serta debu. Meskipun ia berjalan tegak seolah tidak terjadi apa-apa, pemandangan itu cukup membuat hati kedua orang tuanya nyaris hancur.

"Halilintar! Ya Tuhan... apa yang terjadi padamu, Hali?!" seru Aisyah dengan suara gemetar, segera berlari mendekat dan memegang bahu putranya dengan lembut serta dipenuhi kekhawatiran. Matanya meneliti setiap inci luka di tubuh anaknya dengan air mata yang mulai menggenang. "Kenapa kamu bisa begini? Siapa yang melakukan ini padamu?!"

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang