13

151 20 6
                                        

Happy reading guys!

__________________________________________________


Aisyah menatap layar ponselnya yang sudah gelap. Tangannya gemetar, pikirannya bertambah kalut.

Amato yang melihat istrinya terduduk lemas segera menghampiri, "Aisyah, ada apa? siapa yang menelepon?"

Aisyah mengangkat wajahnya, matanya basah oleh air mata, "Hali... dia ada bersama Aqsa."

Mendengar itu, seluruh tubuh Amato menegang. "Apa?!"

"Aqsa bilang dia baik-baik saja, tapi... aku tahu dia pasti menyembunyikan sesuatu," lanjut Aisyah, "dia bilang akan membebaskan Halilintar jika kita memenuhi permintaannya."

Amato mengepalkan tangannya. Matanya memerah karena marah. "Sial! seharusnya aku tahu Aqsa adalah dalang dari semua ini!"

Gempa, Solar, Blaze, dan Taufan yang menguping pembicaraan orang tua mereka saling berpandangan. Mereka menganggukkan kepala serentak.

"Ayah, kita harus ambil Kak Hali sekarang juga!" seru Blaze.

"Iya, kak Hali butuh kita!" Solar menambahkan, matanya masih berkaca-kaca.

Amato menarik napas dalam, mencoba berpikir jernih, "aku akan mencari tahu di mana Aqsa menyembunyikannya."

"Aku ikut!" kata Aisyah tegas.

"Tidak, kau harus tetap di sini bersama anak-anak," jawab Amato.

Aisyah menatap suaminya tajam, "Aku tidak akan tinggal diam. Ini anak kita, Amato! Aku akan ikut, entah kau setuju atau tidak!" Namun begitu, dia tidak dapat menyembunyikan nada suaranya yang bergetar. Dirinya tidak tenang karena memikirkan anaknya yang hilang.

Amato menghela nafas. Dia menghampiri isterinya dan segera memeluk tubuh wanita itu. Tangannya terangkat mengelus surai hitam panjang milik isterinya dengan sayang. Kemudian kedua tangannya menangkup wajah isterinya dengan lembut, wajah cantik itu ia tatap.

Aisyah yang diperlakukan begitu terdiam, apalagi melihat senyum hangat dari sang suami.

"Aku janji akan bawa Halilintar pulang."

"Tapi–"

"Yang perlu kau lakukan sekarang adalah menemani anak-anak kita yang lain. Jaga dan hiburkan mereka selagi aku mencari keberadaan Halilintar. Mereka perlu dukungan, apalagi Thorn. Iya?"

Aisyah terdiam, terpikir soal itu ia pun mengangguk setuju, "baiklah."



Di tempat lain…

Halilintar duduk di tempat tidurnya, menatap langit-langit kamar dengan mata sayu.

Tiba-tiba, pintu terbuka. Seorang wanita masuk membawa nampan berisi makanan dan obat-obatan.

"Tante…" gumam Halilintar, mengenali wajah wanita itu. Wanita yang sebelum ini kerap datang membawa obat untuknya.

Leisya tersenyum tipis, "kau harus makan dan minum obatmu, Halilintar."

Anak itu menatap pil-pil di atas nampan dengan ragu, "kenapa Hali harus minum ini?"

Leisya menggigit bibirnya. Ia menunduk, tidak sanggup menatap mata polos Halilintar. "Ini... hanya untuk membantu tubuhmu kembali sihat."

"Tapi Hali tidak sakit."

Leisya terdiam. Ia ingin mengatakan yang sebenarnya, tetapi ia tahu risikonya terlalu besar. Aqsa mengancam keluarganya, dan ia tidak bisa membahayakan mereka. Dia sangat sayangkan keluarganya.

"Hali, tolong makan, ya?" bujuknya lembut.

Dengan enggan, Halilintar mengambil sendok dan mulai makan. Namun, ia tetap tidak menyentuh obatnya.

Leisya menghela napas lega. "Bagus, sekarang istirahatlah."

Saat ia beranjak pergi, Halilintar memanggilnya.

"Tante…"

Wanita itu menoleh, "ya?"

Halilintar menggenggam selimutnya erat, "apa paman Aqsa benar-benar akan membawa Hali pulang?"

Leisya terdiam sesaat, lalu memaksakan senyum. "Tentu saja. Kau hanya butuh istirahat sedikit lagi. Setelah sihat, kau akan dihantar pulang."

Namun, dalam hatinya, ia tahu itu tidak benar.



Malam itu…

Amato menghubungi seorang kenalannya, seorang informan yang biasa mengumpulkan informasi di dunia bawah tanah. Setelah menunggu beberapa jam, ia akhirnya mendapatkan pesan balasan.

"Aqsa berada di sebuah rumah persembunyian di luar kota. Lokasinya dijaga ketat. Akan sulit masuk tanpa rencana matang."

Amato menatap layar ponselnya dengan ekspresi serius.

"Aku tahu di mana Aqsa menyembunyikan Halilintar."

Aisyah yang duduk di seberangnya langsung menatapnya penuh harap, "di mana?"

"Di luar kota. Tempat itu dijaga ketat."

Aisyah menggigit bibirnya, "bagaimana bisa menyelamatkannya?"

Amato menatap istrinya dalam-dalam, "kami tidak bisa menyerang langsung. Tapi kami bisa menggunakan cara lain."

Aisyah menatap suaminya penuh tanya. "Maksudmu?"

Amato menyeringai tipis. "Aqsa ingin sesuatu dari kita. Kita buat dia berpikir dia akan mendapatkannya."



Sementara itu…

Aqsa duduk di ruangannya, menatap layar komputer yang menampilkan rekaman CCTV. Ia melihat Halilintar yang tertidur.

Leisya berdiri di belakangnya dengan ekspresi ragu. "Tuan, saya rasa ini tidak perlu dilakukan lagi. Anak itu masih kecil…"

Aqsa meliriknya dengan tajam, "kau mulai berani mempertanyakan perintahku, Leisya?"

Leisya menunduk. "Tidak, Tuan. Saya hanya…"

"Jangan lupa siapa yang bisa menyelamatkan keluargamu dari masalah mereka."

Leisya menggigit bibirnya, lalu mengangguk. "Saya mengerti."

Saat Leisya keluar dari ruangan, Aqsa tersenyum licik. "Mari kita lihat, Amato... seberapa jauh kau bisa pergi untuk menyelamatkan anakmu."



__________________________________________________

Tbc...

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang