Happy reading guys!
__________________________________________________
Masa istirihat Halilintar gunakan untuk bersantai-santai di bawah pohon rendang dekat belakang sekolah. Sunyi menyelimuti tempat karena kawasan tersebut jarang dilalui oleh pelajar di sana.
Beberapa minit kemudian bel masuk kelas berbunyi, Halilintar masih duduk menikmati suasana alam, dia berniat untuk tetap di situ. Dia menatap daun-daun yang gugur satu-persatu di depannya, merenungi tentang pagi tadi.
"Dia marah ga ya hadiah yang dia kasih ke aku dirampas? Tsk!" Halilintar mencak-mencak rambutnya frustasi.
Dia duduk tegak, rambutnya sudah serabut karena ulahnya. "Gue yakin pasti marah besar tuh orang," ucapnya sendiri.
"Kalau marah udah pasti dia buat masalah lagi. Arghh! Gue mau gimana?" Halilintar berteriak frustasi.
Hadiah yang diberikan padanya itu sangat berharga baginya. Karena yang bikinnya dibuat sendiri dengan penuh perhatian. Pisau itu sudah hampir 3 tahun ia simpan dan hari ini malah dirampas oleh ayahnya.
"Maaf sebab hadiah dari lo sudah diambil," ucapnya entah pada siapa.
Halilintar memandang ke depan dengan pandangan kosong. Pikirannya kini menuju di beberapa tahun ketika dia mendapatkan hadiah tersebut.
Flashback...
Langit tampak cerah dengan dihiasi pelangi indah memukau setelah hujan gerimis turun dengan lembut, membasahi jalanan kota yang ramai.
"Dek? Dek?" panggil seseorang.
"Lah ni bocah ngapain nganggur di sini?" tanya temannya yang mendekat bersama kenderaan beroda duanya.
Halilintar tersadar dari tidurnya, dia menyentuh lehernya yang terasa pegal. Setelah merasa membaik, netranya memandang sekitar, dia terdiam sebelum lantas membelalak heran. "Gue ngapain sini njir?!"
"Woi bocah cepetan bangun, ngehalangin jalan lo!"
"Iya, kalo mau tidur sana di rumah noh bukannya malah telentang di jalan raya!"
Halilintar segera berdiri dan pergi menepi, dia menggaruk kepalanya dan tersengih malu bila ditatap oleh kedua orang yang menegurnya.
"Maaf mas, gue juga ga tau kenapa gue tiduran di sini," ucap Halilintar tak lupa meminta maaf.
"Masa sih, lain kali kalo mau istirihat itu langsung pulang, takutnya ketiduran di sini lagi. Untung jalanannya sepi," omel mas-mas yang pakai helm.
"Iya mas, gue mohon maaf sekali lagi," ujarnya dengan badannya bungkuk ke depan minta maaf.
"Iya-iya, lo langsung pulang aja sana. Ga ada kerjaan banget," kata mas-mas yang satunya lagi sebelum berlalu dari sana.
Setelah kepergian kedua mas-mas tadi, Halilintar melihat sekali lagi kawasan di mana dia berada sekarang. "Ini di mana?"
Beberapa minit berjalan untuk mencari tahu tempat tersebut, tiba-tiba ponselnya berdering tanda panggilan masuk. Dia segera mengangkat panggilan bila tahu ibunya menghubunginya.
"Ya ibu?"
Panggilan tersambung. "Kamu di mana Hali? Ini sudah lewat sore tapi masih ga pulang-pulang," tanya ibunya yang tersirat khawatir pada nada bicaranya.
"Aku sudah mau pulang ini," jawab Halilintar yang tidak mau ibunya khawatir.
"Ya langsung pulang dan jangan singgah-singgah lagi." Panggilan terputus secara sepihak setelah ibunya bicara.
ANDA SEDANG MEMBACA
SISA HUJAN LUKA [end]
FanfictionCtass! Ctass! Ctass! "Ayah, sakit Yah, badan Hali sakit..hiks..hiks!" Bugh! "Akhh!" Suara jeritan kesakitan terkeluar begitu sahaja dari mulut anak kecil itu. Dirinya ditendang oleh orang yang dia sayang tanpa terbesit sedikit pun rasa bersalah dala...
![SISA HUJAN LUKA [end]](https://img.wattpad.com/cover/379880814-64-k984467.jpg)