42

109 18 7
                                        

Happy reading guys!

__________________________________________________



Leisya menatap dalam ke mata Halilintar, seolah-olah dia sedang melihat menembus lapisan kesadaran remaja itu untuk menemukan sosok lain yang bersembunyi di balik netra rubynya.

"Hali... Tante tahu dia ada di sana," bisik Leisya lembut. "Lintar... kamu dengar Tante, kan?"

Seketika, tubuh Halilintar menegang. Getaran emosi yang hebat terpancar dari dadanya. Halilintar bisa merasakan di dalam kepalanya, Lintar sedang meringkuk, berusaha menutup telinganya rapat-rapat. Sosok yang biasanya angkuh dan haus darah itu kini tampak begitu kecil dan rapuh.

"Gue nggak mau, Hali... jangan suruh gue keluar," suara Lintar bergetar hebat di pikiran Halilintar. "Gue yang buat dia kayak gitu... tangan ini, tangan yang lo pakai sekarang, adalah tangan yang pernah menusuknya."

Halilintar tersentak dalam hati. Jadi ini alasannya? Ini alasan kenapa Lintar begitu agresif setiap kali nama Leisya disebut? Bukan karena benci, tapi karena rasa bersalah yang teramat dalam.

"Hali?" panggil Amato yang menyadari perubahan raut wajah anaknya.

Halilintar menatap ayahnya, lalu kembali menatap Leisya. "Tante... dia malu. Dia takut Tante benci sama dia karena kejadian dulu."

Leisya tersenyum sedih. Air mata kembali mengalir di pipinya yang pucat. "Lintar, Sayang... Tante nggak pernah benci kamu. Tante tahu itu bukan kemauanmu. Aqsa yang memaksamu, kan? Dia yang memegang tangan kecilmu dan mengarahkan pisaunya ke Tante agar kamu tidak disiksa lebih parah."

Mendengar itu, pertahanan Lintar runtuh. Perlahan, sorot mata Halilintar berubah. Ketajaman yang dingin mulai muncul, namun kali ini disertai dengan air mata yang mengalir deras. Lintar mengambil alih, namun bukan untuk menyerang, melainkan untuk menghadapi wanita yang menjadi rasa bersalahnya.

"T-Tante..." suara yang keluar dari mulut Halilintar kini terdengar lebih berat dan serak.

Lintar melepaskan pelukannya dari pinggang Leisya. Dia menunduk dalam, tidak berani menatap wajah wanita yang pernah hampir ia renggut nyawanya itu. Tangannya menggigil hebat di atas pangkuannya sendiri.

"Aku... aku hampir membunuhmu," bisik Lintar dengan suara penuh penyesalan. "Setiap kali aku menutup mata, aku melihat darah Tante di tanganku. Aqsa bilang... kalau aku nggak melakukannya, dia akan memotong lidah Halilintar. Aku nggak punya pilihan..."

Leisya meraih tangan Halilintar, tangan yang dikendalikan Lintar dan menggenggamnya erat. Dia tidak merasa takut sedikitpun pada sosok yang ditakuti semua orang itu.

"Tante tahu. Tante ada di sana, Lintar. Tante melihat betapa hancurnya matamu saat itu. Kamu melakukan itu untuk melindungi Halilintar, bukan karena kamu ingin menyakiti Tante," ujar Leisya dengan nada yang sangat menenangkan. "Lihat Tante, Lintar. Tante masih hidup. Tante sehat."

Lintar perlahan mengangkat kepalanya. Melihat senyum tulus Leisya, beban berat yang selama bertahun-tahun menghimpit dadanya seolah terangkat sedikit demi sedikit. Isak tangis yang tertahan selama ini akhirnya tumpah. Sosok pelindung yang kejam itu kini menangis tersedu-sedu di pangkuan korbannya sendiri.

Leisya tidak melepaskan genggamannya. Dia justru menarik tubuh tegap itu ke dalam pelukannya, membiarkan kepala Lintar bersandar di bahunya yang rapuh. "Tante di sini. Kamu nggak perlu lari lagi. Semuanya sudah selesai."

Suasana di ruangan itu mendadak hening, hanya menyisakan suara isak tangis yang menyayat hati. Amato yang berdiri di kejauhan memalingkan wajah, tidak sanggup melihat betapa hancurnya sang putra sulung yang selama ini dia kira hanya bersikap kasar tanpa alasan. Gibran pun hanya bisa terdiam, menyadari bahwa luka yang ia selamatkan belasan tahun lalu ternyata masih basah di dalam diri Halilintar dan Lintar.

Setelah beberapa saat, tangisan Lintar mulai mereda. Dia menjauhkan sedikit wajahnya, menatap Leisya dengan mata sembab yang masih berkilat merah. "Tante... nggak marah? Benar-benar nggak benci aku?"

Leisya tersenyum, jemarinya yang pucat mengusap air mata di pipi Lintar. "Kalau Tante benci, Tante nggak akan muncul di depan kalian. Tante mau kalian tahu, kalau Tante bangga sama kamu karena sudah menjaga Halilintar sampai sekarang."

Lintar tertegun. Kata "bangga" adalah sesuatu yang asing baginya. Di bawah pengaruh Aqsa dulu, dia hanya mengenal kata "berguna" atau "sampah". Mendengar itu, sorot matanya yang tajam perlahan melunak, berubah menjadi pandangan seorang anak yang rindu akan kasih sayang.

"Tante... lapar?" tanya Lintar tiba-tiba, suaranya masih serak. Perubahan topik yang mendadak itu membuat Leisya tertawa kecil.

"Tante baru saja mau minta tolong ambilin buah di atas meja itu," tunjuk Leisya lembut.

Tanpa membuang waktu, Lintar segera berdiri. Gerakannya cepat, dia mengambil apel dan mengupasnya dengan mahir. Keahlian yang dulu ia gunakan untuk memegang pisau sebagai senjata, kini ia gunakan untuk mengupas buah.

Seharian itu, mereka menghabiskan waktu bersama. Lintar tidak lagi menunjukkan wajah dinginnya. Dia justru duduk di lantai di samping kursi roda Leisya, mendengarkan cerita-cerita tentang masa kecil Halilintar sebelum kejadian Halilintar diseksa. Sesekali, kesadaran Halilintar muncul kembali, menyahut cerita Leisya dengan senyum tipisnya yang khas, lalu kembali bergantian dengan Lintar yang lebih banyak bertanya tentang kabar Leisya selama ini.

Amato dan Gibran hanya memantau dari kejauhan, membiarkan momen itu menjadi obat bagi jiwa yang terluka.

"Yah," panggil Halilintar pelan saat matahari mulai condong ke barat, menandakan mereka harus segera pulang.

Amato mendekat. "Kenapa, Hali?"

"Aku... aku mau ikut konsultasi itu," ujar Halilintar mantap. "Lintar juga setuju."

Leisya yang mendengar itu mengangguk setuju. "Itu keputusan yang bagus, Hali. Tante akan tunggu kabar perkembangan kalian, ya?"

Saat mereka berpamitan, Lintar sempat mengambil alih kendali sekali lagi. Dia menggenggam tangan Leisya, menatapnya dengan serius. "Nanti... kalau aku sudah lebih baik, aku boleh ke sini lagi kan?"

"Pintu rumah ini selalu terbuka untukmu, Lintar. Untuk kalian berdua," jawab Leisya dengan tulus.

Sepanjang perjalanan pulang, Halilintar lebih banyak terdiam menatap ke luar jendela.
Amato yang mengemudi sesekali melirik melalui spion tengah, mengulas senyum kecil melihat anaknya yang mulai bisa memejamkan mata dengan damai. Dia bisa menghela napas lega karena Lintar juga memberi kerjasama dalam perawatan Halilintar nanti.



__________________________________________________

Tbc...

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang