3

322 26 0
                                        

Happy reading guys!

__________________________________________________

Keesokan paginya di meja makan, suasana semakin mencekam seiring kehadiran keluarga Halilintar yang serba canggung. Meski banyak dari mereka yang ingin berbicara atau bertanya, tak satu pun yang berani mengusik keheningan pagi itu.

"Hali, tadi malam kamu... tidur nyenyak?"

Halilintar hanya mengangguk pelan, pandangannya tak berpaling dari piringnya. Pertanyaan itu sekadar basa-basi yang terasa hambar, tapi bagi Taufan, itu adalah upaya kecil untuk menjangkau kakaknya.

"Lihat deh, Ayah malah diam aja. Semalam jelas banget ada yang salah." Blaze membisik pelan pada Thorn yang duduk tepat di sebelah kanan.

"Ssst, jangan bicara terlalu keras Kak Blaze" jawab Thorn, pandangannya sekilas melirik Amato yang duduk dengan wajah tegang di ujung meja.

Amato, meskipun tidak mengatakan apa pun, pandangannya jelas menunjukkan ketidaksabaran. Dia menatap Halilintar dengan mata penuh tekanan yang tak terkatakan. Di matanya, Halilintar adalah ancaman yang tak dia sadari tumbuh di dalam rumahnya.

"Halilintar." Ucap Amato dengan nada dingin "Apa kau punya sesuatu yang ingin dikatakan?"

Halilintar terdiam sejenak, merasakan tatapan tajam ayahnya yang memaksa. Di dalam hatinya, ia ingin menjerit, menuntut penjelasan kenapa semua kesalahan seolah-olah selalu tertuju padanya. Namun, dia tahu, apa pun yang dia katakan hanya akan memperburuk suasana.

"Tidak, Ayah." Jawabnya dengan nada datar. "Hali tidak melakukan apa pun."

"Sikapmu itulah yang membuatku selalu kecewa, Halilintar! Kau selalu merasa tak perlu menjelaskan atau menunjukkan penyesalan." Amato sedikit emosi dengan balasan anaknya itu telah menggebrak meja dengan keras.

Gempa, adik ketiga yang biasanya ceria, menyusut di tempat duduknya, tampak bingung dengan ketegangan yang terjadi. Dia melirik Taufan seolah meminta jawaban, tapi Taufan hanya bisa menggelengkan kepala.

"Kenapa Ayah marah sekali sama Kak Hali?" Bisik Gempa pada Ice yang berada bersebelahan dengannya.

"Gue juga nggak ngerti, Kak Gem. Tapi diam saja, nanti kita malah kena semprot juga." Balas Ice disertai dengan helaan nafas.

Halilintar merasa darahnya mendidih, namun ia tetap berusaha menahan diri. Tangannya gemetar, dia mencoba untuk tak peduli, meskipun dadanya terasa sesak.

"Hali sudah mencoba untuk membuat Ayah bangga. Aku sudah melakukan yang terbaik." Suaranya lirih namun tegas. "Jika itu masih salah di mata, Ayah... Hali tidak tahu lagi harus berbuat apa."

Sejenak, ada ketegangan yang tak terkatakan di antara mereka. Solar, yang sibuk dengan makanan di depannya, tiba-tiba menyahut, suaranya terkesan serius.

"Ayah, mungkin ini bukan hanya tentang Kak Hali. Kita semua mungkin tidak sempurna di mata Ayah, tapi kita berusaha. Dan mungkin sudah waktunya Ayah juga mencoba mengerti kami."

Semua orang terdiam, terkejut dengan keberanian Solar. Amato menatap Solar dengan pandangan tajam, namun anak itu mencoba tidak gentar.

"Kau berani berbicara seperti itu kepadaku, Solar?"

Solar mengangguk, meskipun raut wajahnya menunjukkan sedikit keraguan. Namun, dia tak ingin lagi membiarkan Halilintar sendirian menghadapi semua ini.

"Ya, Ayah. Kami ingin dipahami terutamanya kak hali, sama seperti Ayah yang ingin dihormati."

Halilintar merasakan ada dorongan keberanian dari adiknya yang lain. Ia menyadari bahwa meskipun selama ini mereka tidak selalu bersama-sama, mereka tetap satu keluarga. Namun, ayahnya tampak semakin marah.

"Kalian berpikir kalian tahu segalanya? Kalian tidak tahu apa-apa tentang apa yang telah aku lalui!"

Semua anak-anak memandang satu sama lain, bingung dengan pernyataan Amato yang tiba-tiba. Mereka sadar ada sesuatu yang lebih dalam di balik amarah ini, namun mereka tidak tahu apa.

Di ujung meja, Aisyah, ibu mereka, yang sedari tadi hanya memperhatikan dengan penuh cemas, akhirnya angkat bicara.

"Amato, mungkin sudah saatnya kamu berhenti membandingkan Halilintar dengan... bayangan yang ada di pikiranmu."

Kalimat Aisyah membuat Amato tercenung, namun hanya sekejap. Ia kembali bersikap keras, meskipun hatinya terasa terhimpit.

"Tidak ada yang bisa memahami perasaanku."

Aisyah menatapnya dalam-dalam, tahu bahwa ada luka yang selama ini Amato sembunyikan. Halilintar dan saudara-saudaranya tetap duduk dengan pandangan bingung, belum memahami apa yang terjadi antara ayah dan ibu mereka.

"Amato, kalau kau terus begini, kita tidak akan pernah punya keluarga yang utuh." Aisyah melirik Halilintar dengan tatapan penuh kasih. "Halilintar berhak mendapatkan kasih sayangmu, bukan rasa benci yang seharusnya sudah lama kau tinggalkan."

Suasana di ruang makan semakin tegang, namun ada harapan kecil dalam ucapan Aisyah. Semua anak, termasuk Halilintar, menunggu bagaimana respon ayah mereka.

Amato mengepalkan tangan, terlihat jelas pertempuran batin di wajahnya. Kenangan lama tentang seseorang muncul lagi di benaknya, membuatnya sulit untuk menerima kenyataan di hadapannya.

"Halilintar..." suara Amato akhirnya melemah, sedikit bergetar. "Ayah..."

Namun, sebelum kata-kata itu selesai, dia memilih untuk bangkit dari kursinya dan meninggalkan meja tanpa sepatah kata lagi, meninggalkan keluarganya dalam keheningan yang membisu. Halilintar hanya bisa menatap punggung ayahnya yang pergi, sementara hatinya masih bertanya-tanya, apakah dia akan pernah mengerti alasan sebenarnya di balik kebencian itu.

__________________________________________________

Tbc...





Cerita ini Ris revisi semula walaupun gak terlalu banyak, maybe? Yahh mungkin saja akan ada perubahan alur sedikit dari yang asal.

Kebelakangan ni Ris lihat yang lain kek diam banget gitu. Pasti sibuk ya di rl? Sampai" wattpad jadi sunyi, sedih dong.

Tapi walau gitu Ris happy karna masih ada yg setia dgn ni fanfic, kayak :
  R0ss14n4intansalsabila378 & Ilythien
Kalian jan lupa jga yaa mampir di fanfic ke-2nya Ris. Lopyu guys!

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang