29

147 21 2
                                        

Happy reading guys!

__________________________________________________


Angin malam bertiup lembut, mengayun dedaunan kelapa yang tinggi menjulang. Ombak terus berdesir ke bibir pantai, menciptakan keindahan alam yang menenangkan.

Di tempat yang jauh dari pantai, terlihat salah satu dari tiga deretan tenda terbuka pintunya, di dalam tenda, seorang remaja tetap terjaga.

Matanya menatap langit-langit tenda, pikirannya melayang jauh. Kemudian tangannya menyentuh lengan kirinya. Menyelak lengan bajunya, dia lantas menangkap bekas luka yang panjang. Helaan napas dihembus, dia terpaksa menutup luka itu, tidak mau keluarganya mengetahui perkara ini.

Perlahan-lahan, dia bangkit dari tempat tidurnya, berusaha tidak menimbulkan suara. Dia sekilas menatap Gempa dan Taufan masih tertidur nyenyak, dada mereka naik turun dengan tenang. Halilintar menghela napas sebelum merangkak keluar dari tenda.

Begitu dia berada di luar, angin laut langsung menyambutnya, membelai surainya dengan lembut. Api unggun yang sebelum ini menyala, kini telah padam, menyisakan abu dan arang yang menghitam. Kakinya melangkah mendekati pinggir pantai, membiarkan air laut yang dingin menyentuh ujung kakinya.

"Dasar ga waras," gumamnya dengan kesal apabila mengetahui seluruh bajunya basah. "Lo kalo mau mandi ya tukar dulu baju sebelum tidur. Sengajakan mau kenain gue?" tanya Halilintar entah pada dirinya atau orang lain.

Tanpa dirinya ketahui, dia tidak sadar bahwa seseorang sedang memperhatikannya dari jauh. Amato, yang masih setengah sadar setelah mendengar suara sedikit berisik dari tenda sebelah, dia membuka sedikit celah dan melihat punggung putranya berdiri di tepi pantai.

Namun, alih-alih menyusul, Amato memilih membiarkan Halilintar sendirian. Dia tahu, ada banyak hal dalam pikiran anak itu. Setelah beberapa saat, Halilintar akhirnya kembali ke dalam tenda. Matanya masih sulit terpejam, jadi dia ambil keputusan untuk tidak tidur sekalian.

Di tenda, setelah selesai menukar baju, Halilintar kini beralih ke tempatnya untuk berbaring namun langsung bangun semula. "Bangke, tilam gue juga basah oleh lo," kesal Halilintar lagi.


Matahari pagi muncul perlahan dari ufuk timur, menyinari pantai dengan cahaya keemasan. Burung camar beterbangan di langit biru, menyambut hari yang cerah.

Keluarga Amato sudah mulai bangun dan bersiap-siap untuk aktivitas pagi. Aisyah sedang menyiapkan sarapan sederhana dan dibantu oleh Gempa, sementara yang lain menggeliat dan menguap lebar.

"Mau ngapain hari ini?" tanya Blaze sambil menggaruk kepalanya yang masih kusut.

"Gue kepikiran kalo kita main bola tampar!" seru Taufan dengan semangat. "Pasirnya lembut, jadi kalau jatuh ga akan sakit juga."

Semua setuju dengan ide itu. Setelah sarapan, mereka mulai membentuk tim.

Tim A yang  diisi oleh Amato, Gempa, Thorn, dan Ice. Manakala, tim B diisi oleh Taufan, Halilintar, Blaze, dan Solar. Aisyah pula sebagai wasit.

"Siap kalah, Ayah?" Taufan menggoda Amato sebelum permainan dimulai.

Amato tertawa kecil. "Kita lihat nanti!" ucapnya.

Permainan pun dimulai. Solar langsung melakukan servis pertama, mengirim bola tinggi ke arah Gempa. Melihat itu, Gempa segera bersiap untuk menangkap bola tersebut, kemudian memantulkannya ke arah Amato, yang kemudian mengoper ke Ice.

"Awas!" seru Blaze, berusaha menangkap bola.

Tapi terlalu terlambat, bola sudah melewati batas dan menghasilkan poin pertama untuk Tim A.

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang