Happy reading guys!
__________________________________________________
Mobil Amato perlahan memasuki halaman rumah. Suasana sore itu terasa lebih tenang bagi Amato dan Halilintar, namun ketenangan itu langsung pecah saat mereka melangkah masuk ke dalam rumah.
Di ruang tengah, Taufan dan yang lain sudah berkumpul dengan wajah yang dipenuhi tanda tanya. Mereka tampak gelisah, terutama Taufan yang sejak tadi mondar-mandir di depan pintu. Sementara itu, Gempa berdiri di tengah dengan ekspresi khawatir, di tangannya terdapat beberapa lembar dokumen.
"Baru pulang, Yah? Kak Hali?" tanya Taufan. "Kalian dari mana aja sih seharian? HP Kak Hali juga ga aktif."
Amato hanya menghela napas panjang, mencoba mencari kalimat yang pas. Namun, belum sempat dia menjawab, Gempa melangkah maju. Sebagai ketua OSIS yang selalu menjunjung tinggi kedisiplinan, Gempa tidak bisa menyembunyikan kekhawatirannya pas mendapat khabar buruk terkait Kakaknya.
"Ayah... ada masalah besar di sekolah," buka Gempa, suaranya terdengar berat. Matanya tertuju langsung pada Halilintar yang tampak.
Halilintar yang baru saja merasakan sedikit kedamaian kembali menegang. "Masalah apa, Gem?" tanya Halilintar pelan.
Gempa menyerahkan surat panggilan dari kepala sekolah kepada Amato. "Tadi pagi, sesaat setelah Ayah jemput Kak Hali, pihak sekolah heboh. Siswa yang Kak Hali serang tempo hari di lorong belakang, kondisinya memburuk. Dia sekarang kritis dan orang tuanya menuntut penjelasan."
Taufan dan yang lain kini hanya terdiam, menatap kakaknya dengan pandangan ngeri. Ice dan Solar juga tampak membeku di tempat duduk mereka.
"Kepala sekolah memanggil Kak Hali dan Ayah untuk menghadap besok pagi," lanjut Gempa lagi. "Kasusnya bukan sekadar perkelahian biasa lagi, Yah. Ini masuk kategori penganiayaan berat. Pihak sekolah bilang kalo Kak Hali ga bisa kasih alasan yang masuk akal... Kak Hali bisa di DO. Atau bahkan lebih buruk."
Suasana ruang tengah itu mendadak mencekam. Taufan menatap Halilintar dengan tatapan yang seolah bertanya 'Apa yang sebenarnya terjadi, Kak?'
Halilintar menunduk dalam, tangannya mulai menggigil kembali. Dia tahu bukan dia yang melakukannya, tapi Lintar. Dan Lintar, yang tadi sempat melunak di depan Leisya, kini kembali merasa terpojok.
"Hali?" panggil Amato, memegang bahu putranya yang gemetar.
Halilintar mengangkat wajahnya, menatap adik-adiknya satu per satu. Ada ketakutan, kebingungan, dan keraguan di mata mereka. Halilintar tahu kalau kejadian ini sudah pernah ia lalui namun mungkin kali ini pihak sekolah mulai waspada dengannya, apalagi orang tua murid.
Amato menatap anak-anaknya yang lain. Dia sadar, rahasia tentang Lintar tidak bisa lagi disembunyikan dari saudara-saudaranya. Jika mereka ingin menyelamatkan Halilintar dari jeratan hukum dan pemecatan sekolah, adik-adiknya harus tahu kebenarannya.
"Masuklah ke kamar dan istirahat, Hali," perintah Amato pelan. "Biar Ayah yang bicara dengan adik-adikmu."
Halilintar mengangguk lemah dan berjalan gontai menaiki tangga. Di ruang tengah, Amato mengumpulkan keenam anaknya yang lain. Dia sempat menatap sekilas sosok Halilintar yang menghilang di balik dinding.
Amato terdiam sejenak, memandang wajah keenam putranya yang menanti jawaban dengan penuh kecemasan. Suasana ruang tengah kini terasa dingin dan mencekam. Amato menarik napas panjang, lalu mengisyaratkan mereka semua untuk duduk.
"Duduklah," suara Amato rendah namun tegas.
Gempa, Taufan, Blaze, Ice, Thorn, dan Solar saling berpandangan sebelum akhirnya melabuhkan diri di sofa. Mereka bisa merasakan beratnya atmosfer yang dibawa sang ayah.
"Masalah di sekolah... Ayah sudah tahu. Dan Ayah ga akan menyalahkan Kakak kalian atas apa yang terjadi," buka Amato, membuat Solar mengerutkan kening.
"Tapi Yah, korbannya masuk rumah sakit. Luka-lukanya ga wajar untuk ukuran perkelahian pelajar. Itu seperti... dilakukan oleh orang yang berniat menghabisi nyawa," sela Solar dengan logisnya.
Amato mengangguk pelan. "Itu karena yang melakukan itu bukan Halilintar."
Semua tertegun. Gempa yang memegang surat panggilan itu meremas kertas di tangannya. "Maksud Ayah?"
"Bukan orang lain... tapi sisi lain Halilintar," Amato menatap satu per satu anaknya. "Kakak kalian, mengalami kondisi psikis yang sangat berat akibat trauma masa kecilnya. Di dalam dirinya, ada sosok pelindung yang lahir untuk menanggung semua rasa sakit yang ga sanggup dia pikul. Namanya Lintar."
Keheningan menyelimuti ruangan. Thorn tampak bingung, matanya berkedip-kedip mencoba mencerna istilah yang asing baginya. Sementara Ice yang biasanya acuh, kini menatap lurus ke arah tangga tempat Halilintar baru saja naik.
"Maksud Ayah... kepribadian ganda?" tanya Taufan, suaranya nyaris berbisik.
"Iya. Dan Lintar adalah sosok yang agresif. Dia muncul saat Hali merasa terancam atau tertekan. Kejadian di sekolah itu... itu adalah cara Lintar melindungi Hali dari perundungan, meski caranya sangat salah dan berbahaya," jelas Amato.
Blaze menelan ludah. "Pantas saja... tempo hari aku lihat Kak Hali bicara sendiri di taman belakang. Tatapannya tajam banget, sampe aku merinding mau nyapa."
"Jadi selama ini orang lain yang hidup bersama kita?" suara Gempa bergetar. Sebagai adik yang paling dekat dan sering membantu urusan rumah, dia merasa gagal karena tidak menyadari perubahan kakaknya selama ini.
"Dia gamau kalian takut padanya, Gem," sahut Amato lembut. "Tadi kami baru saja menemui seseorang yang pernah rawat Halilintar, Tante Leisya. Keberadaannya memberikan sedikit ketenangan bagi Hali dan juga Lintar. Besok, Ayah akan membawa bukti medis dan hasil konsultasi ke sekolah. Ayah akan pastikan Hali mendapatkan perawatan dan bukannya hukuman."
Amato menyandarkan punggungnya ke sofa, menatap langit-langit ruang tengah sejenak sebelum kembali menatap putra-putranya yang masih terpaku. Ada satu hal lagi yang harus mereka ketahui agar mereka tidak merasa asing saat berada di sekolah besok.
"Satu hal lagi," ujar Amato, membuat atensi keenam anaknya kembali terfokus. "Kalian kenal Miss Leila, kan? Wali kelas kalian?"
Gempa mengangguk cepat. "Iya, Yah. Miss Leila yang tadi pagi bantu Ayah jemput Kak Hali di sekolah. Miss memang kelihatan sangat khawatir."
Amato mengulas senyum tipis yang getir. "Itu karena Miss Leila bukan orang asing bagi Halilintar. Dulu, saat kejadian traumatis itu menimpa Hali belasan tahun lalu, Miss Leila adalah salah satu yang menjaga Hali setelah Leisya."
Mata Taufan membulat mendengar itu. "Jadi... Pantes saja Miss Leila akrab dengan Kak Hali, rupanya mereka sudah kenal lebih dulu?"
"Benar," jawab Amato.
Taufan mengusap wajahnya, merasa sedikit bodoh karena selama ini menganggap Miss Leila hanya guru yang pilih kasih. "Pantas saja... waktu Kak Hali mendadak izin ke UKS tempo hari tanpa alasan jelas, Miss Leila langsung izinin tanpa banyak tanya."
"Miss Leila akan membantu kita besok di ruang kepala sekolah," lanjut Amato. "Dia punya catatan observasi selama ini yang bisa memperkuat bukti bahwa tindakan Hali tempo hari dipicu oleh kondisi psikologisnya, bukan murni niat jahat."
Thorn menunduk, memainkan ujung bajunya. "Jadi, Miss Leila itu orang baik ya, Yah? Dia sayang sama Kak Hali?"
Amato mengangguk perlahan. Iya... Memang benar kedua wanita tersebut menyayangi Halilintar karena merekalah yang menjaganya dahulu, anak kecil yang sangat periang namun kini tertutup. Amato menatap anaknya satu persatu. Kalau boleh, dia dan isterinya ingin anak-anak mereka kembali seperti dulu lagi, terutama Halilintar.
__________________________________________________
Tbc...
ANDA SEDANG MEMBACA
SISA HUJAN LUKA [end]
FanfictionCtass! Ctass! Ctass! "Ayah, sakit Yah, badan Hali sakit..hiks..hiks!" Bugh! "Akhh!" Suara jeritan kesakitan terkeluar begitu sahaja dari mulut anak kecil itu. Dirinya ditendang oleh orang yang dia sayang tanpa terbesit sedikit pun rasa bersalah dala...
![SISA HUJAN LUKA [end]](https://img.wattpad.com/cover/379880814-64-k984467.jpg)