56

60 10 4
                                        

Happy reading guys!

__________________________________________________




Suasana bangsal bersalin rumah sakit itu terasa begitu hangat. Aroma khas antiseptik bercampur dengan bau bedak bayi yang menenangkan. Di dalam sebuah kamar privat, Aisyah terbaring lemah namun wajahnya memancarkan kebahagiaan yang tak terlukiskan. Di sampingnya, terdapat barisan box bayi yang berisi tujuh nyawa kecil yang baru saja menyapa dunia.

Amato berdiri di dekat jendela, menggendong salah satu dari mereka dengan tangan yang sedikit gemetar karena haru.

Pintu kamar terbuka pelan, menampakkan sepasang lansia yang melangkah masuk dengan senyum haru. Mereka adalah kedua orang tua Amato, kakek dan nenek dari anak-anak mereka.

"Amato... Aisyah..." ucap Mama Amato sambil mendekat ke arah tempat tidur, matanya berkaca-kaca melihat cucu-cucunya. "Luar biasa. Tujuh pahlawan kecil sekaligus."

Ayah Amato, sang kakek, berjalan mendekati Amato yang masih menggendong Halilintar. Ia menatap wajah bayi mungil yang sedang tertidur lelap itu dengan tatapan yang sangat dalam, seolah sedang mencari sesuatu di balik garis wajah bayi yang baru lahir tersebut.

"Siapa namanya, Amato?" tanya kakek dengan suara rendah.

"Halilintar, Pa. Dia yang pertama lahir," jawab Amato bangga.

Kakek menyentuh jemari kecil Halilintar yang menggenggam erat selimutnya. Untuk sekejap, ekspresi wajah kakek berubah, ada kilasan kesedihan yang lewat begitu cepat di matanya, sebelum akhirnya ia memaksakan sebuah senyum tipis.

"Wajahnya... sangat mirip dengan garis wajah keluarga kita," gumam kakek.

Mama Amato yang sedang menggendong Gempa menoleh. "Iya, dia mirip sekali denganmu waktu bayi dulu, Amato. Tapi kalau diperhatikan lagi, matanya yang merah itu... mengingatkan Mama pada seseorang."

Amato yang sedang fokus menatap Halilintar tidak menyadari perubahan atmosfer di sisi tempat tidur. Namun, jika ada yang memperhatikan Mama Amato lebih dekat saat itu, mereka akan melihat jika ekspresinya tidak seharusnya.

Senyum haru yang tadi menghiasi wajah wanita tua itu perlahan memudar, seolah-olah ditarik paksa oleh ingatan kelam yang mendadak muncul. Matanya yang berkaca-kaca kini menyipit tajam saat menatap lekat-lekat pada wajah Halilintar yang sedang menatapnya polos.

Entah kenapa timbul rasa benci di benaknya bila melihat mata yang persis seperti putra sulung ada pada cucunya. Kakak saudara Amato yang telah dieksekusi mati dahulu.

Rahang Mama Amato mengeras. Genggamannya pada kain bedung Gempa mengerat tanpa sadar. Rasa benci yang telah ia pendam rapat-rapat selama bertahun-tahun mendadak meluap kembali, hanya karena melihat garis wajah dan sorot mata bayi yang tak berdosa ini. Baginya, Halilintar bukanlah sosok cucu tetapi Halilintar seperti reinkarnasi dari putra sulungnya yang telah menghancurkan nama baik dan kebahagiaan keluarganya.

"Kenapa wajah itu harus kembali lagi ke keluarga ini?" batin Mama Amato dengan penuh kebencian.

Ia membuang muka dengan cepat, tidak sanggup lagi menatap Halilintar. Ekspresi bencinya tertutup rapat ketika Aisyah memanggilnya untuk melihat bayi yang lain, namun di dalam hatinya, sebuah stigma sudah tertanam. Sejak detik pertama Halilintar menghirup udara dunia, neneknya sendiri sudah tidak melihatnya sebagai seorang bayi, melainkan sebagai ancaman terhadap keluarga mereka.

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang