Happy reading guys!
__________________________________________________
Suasana di dalam mobil terasa riuh rendah oleh suara tawa dan celoteh Taufan dan yang lain. Saat itu usia kami baru lima tahun, masih polos dan selalu berusaha sekuat tenaga untuk disukai semua orang, terutama Oma. Hari itu adalah hari yang seharusnya menyenangkan, kami semua diajak ke pusat perbelanjaan besar oleh Oma, katanya untuk membelikan kami baju baru dan mainan.
Aku duduk di kursi belakang, di antara Taufan dan Gempa. Mataku berbinar-binar melihat pemandangan di luar jendela, namun hatiku sedikit cemas. Aku berjanji pada diriku sendiri hari itu, aku akan menjadi anak yang paling sopan, paling penurut, dan paling baik agar Oma senang padaku.
Sesampainya di pusat perbelanjaan yang ramai, tangan-tangan kecil adik-adikku segera digenggam erat oleh Oma. "Ayo sayang, mari ikut Oma. Kita cari baju yang paling bagus buat kalian," ucapnya dengan lembut dan manis, senyumnya merekah lebar hingga matanya menyipit gembira.
Aku pun segera mengulurkan tanganku, berharap ia juga akan menggenggamnya kayak yang ia lakukan pada mereka. Namun, tanganku melayang di udara saat Oma berjalan melewatkanku begitu saja seolah-olah aku hanyalah sepotong udara di hadapannya.
"Cepatlah ikut di belakang, jangan lambat," ucapnya singkat dan dingin tanpa sekalipun menoleh padaku, matanya tetap tertuju pada Taufan dan yang lain yang sedang tertawa riang.
Hatiku terasa sedikit perih, tapi aku ga mau menyerah. Aku ngejar mereka dari belakang, berusaha tetap berada di dekat Oma. Di dalam toko pakaian yang luas dan berhawa sejuk, suasana menjadi sangat ceria. Oma sibuk memilihkan baju-baju yang berwarna-warni untuk Taufan, Gempa, dan yang lainnya. Ia mengangkat-angkat baju itu, menempelkan ke tubuh mereka, memuji betapa tampannya mereka nanti, serta tertawa mendengar celotehan polos mereka.
"Yang ini bagus ya? Oma yakin kalian pasti keren banget pakai ini," ujarnya berseri-seri.
Aku berdiri ga jauh dari sana, menatap mereka dengan mata berbinar dan berharap banget. Saat melihat baju berwarna biru tua yang menarik perhatianku, aku memberanikan diri. Walau ragu, aku tetap berharap, aku mengambil baju itu dan mendekatinya perlahan.
"Oma... lihat deh, Hali suka baju ini. Bagus kan? Hali juga pengen beli ini, bisa nggak?" tanyaku pelan sambil mengangkat baju itu ke hadapannya, mataku menatapnya penuh harap.
Namun, senyum di wajah Oma seketika lenyap. Ia menoleh padaku dengan tatapan yang tajam dan dingin, matanya menyipit seolah-olah aku baru saja melakukan kesalahan besar. Ia menepis tanganku yang memegang baju itu dengan kasar hingga baju itu jatuh ke lantai.
"Kamu mau beli? Uang ada? Nggak ada bukan?!" bentaknya dengan nada suara yang tajam dan menusuk.
Aku mengangguk. Memang aku ga bawa uang, tapi kenapa yang lain ga ada uang tetap dibeliin?
"Makanya jangan minta macam-macam sama aku!" ujar Oma lagi.
Suaranya cukup keras hingga beberapa penjaga toko menoleh ke arah kami. Adik-adikku terdiam sejenak, menatapku dengan bingung, sebelum akhirnya kembali sibuk dengan pakaian masing-masing.
ANDA SEDANG MEMBACA
SISA HUJAN LUKA [end]
FanfictionCtass! Ctass! Ctass! "Ayah, sakit Yah, badan Hali sakit..hiks..hiks!" Bugh! "Akhh!" Suara jeritan kesakitan terkeluar begitu sahaja dari mulut anak kecil itu. Dirinya ditendang oleh orang yang dia sayang tanpa terbesit sedikit pun rasa bersalah dala...
![SISA HUJAN LUKA [end]](https://img.wattpad.com/cover/379880814-64-k984467.jpg)