14

167 21 4
                                        

Happy reading guys!

__________________________________________________


Malam semakin larut, tetapi Amato tetap terjaga. Duduk di tempat kemudi mobil hitamnya, ia melajukan kendaraan menuju sebuah tempat tersembunyi di pinggiran kota. Pikirannya penuh harap agar rakannya itu dapat membantunya. Karena kalaupun ia yang melakukannya sendirian, itu akan lebih merepotkan.

Di sampingnya, seorang pria berambut pendek dengan bekas luka di pelipis menyalakan sebatang rokok, menghembuskan asapnya dengan santai.

"Kau yakin ingin melakukan ini, Amato?" tanya pria itu, suaranya berat dan dalam.

"Aku tidak punya pilihan lain, Dhaka," jawab Amato tegas, "Anakku ada di tangan Aqsa. Aku harus membawanya pulang."

"Kau sendiri tahu bagaimana Aqsa sebelum ini," kata pria di sebelahnya sekilas melihat sesaat.

Dhaka, seorang informan yang sudah lama berkecimpung di dunia bawah, menyeringai kecil, "Aqsa bukan orang bodoh. Jika dia menculik anakmu, berarti dia sudah menyiapkan jebakan."

"Aku tahu," gumam Amato, matanya tetap fokus ke jalanan gelap di depan, "itu sebabnya aku membutuhkan informasi sebanyak mungkin sebelum bergerak."

Mobil berhenti di depan sebuah gudang tua di kawasan industri. Pintu besi terbuka sedikit, cukup untuk mereka masuk. Amato dan Dhaka melangkah masuk dengan hati-hati.

Di dalam, seorang pria berperawakan tinggi dengan jaket kulit hitam sudah menunggu. Matanya tajam, tubuhnya berotot, dan ada luka gores di lehernya yang masih samar terlihat.

"Kalian terlambat," ucap pria itu.

"Santai, Gibran," Dhaka menepuk bahunya. "Kami harus memastikan tidak ada sesiapa di belakang kami."

Gibran mengangguk dan meletakkan sebuah peta besar di atas meja kayu reyot, "ini lokasi persembunyian Aqsa," katanya sambil menunjuk sebuah titik merah di peta, "tempat ini adalah sebuah vila tua di pinggir kota. Dijaga ketat oleh anak buahnya, dan ada sistem keamanan di sekelilingnya."

Amato meneliti peta dengan saksama, "berapa banyak orang yang berjaga?"

Gibran menghela napas, "setidaknya ada sepuluh orang di luar, bersenjata lengkap. Kamera pengawas ada di beberapa titik strategis, dan satu jalan masuk utama yang selalu dijaga."

Amato menyipitkan mata, "tidak ada jalan lain untuk masuk?"

Gibran menyeringai kecil, "ada satu... tapi sangat berisiko."

Dhaka mengangkat alis, "apa itu?"

Gibran mengetuk bagian belakang vila di peta, "terowongan bawah tanah. Dulu, vila ini milik seorang pengusaha kaya yang membangun jalur rahasia sebagai jalur pelarian jika terjadi keadaan darurat. Jalur itu masih ada, tapi tidak ada yang tahu kondisinya sekarang."

Amato berpikir cepat, "jika kita bisa masuk melalui terowongan, kita bisa mengejutkan mereka dari dalam."

Gibran mengangguk, "itu rencana yang bagus, tapi tetap berisiko. Jika jalurnya runtuh atau ada jebakan, kita bisa saja terperangkap dalam sana."

"Aku akan ambil risiko itu," kata Amato mantap, "aku tidak akan membiarkan anakku tetap di sana lebih lama lagi."

Dhaka membuang puntung rokoknya dan menatap Amato dengan serius, "kalau begitu, kita harus bergerak cepat. Aqsa bukan jenis orang yang akan menunggu terlalu lama."

Gibran menggulung kembali peta dan memasukkannya ke dalam jaketnya. "Kita kumpulkan perlengkapan dulu. Persiapkan diri untuk menghadapi orang licik itu."

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang