50

104 16 3
                                        

Happy reading guys!

__________________________________________________


Perjalanan pulang di dalam mobil dipenuhi dengan ocehan Taufan dan Blaze yang masih belum puas membahas kelucuan Lintar saat mengunyah biskuit seperti hamster. Halilintar hanya menyandarkan kepalanya ke kaca jendela, membiarkan pemandangan kota yang mulai temaram oleh senja berlalu begitu saja. Tangannya diam-diam memegang jari-jemarinya

Sesampainya di rumah, mereka makan malam seperti biasanya tanpa kehadiran Lintar, setelah itu Halilintar segera masuk ke kamarnya dengan alasan karena ngantuk. Di kamar, ia mendudukkan diri di tepi tempat ranjang, melepaskan jaket merahnya dan meletakkannya di samping bantal.

Baru saja ia hendak merebahkan diri, sebuah suara berat tiba-tiba bergema di dalam kepalanya. Begitu jelas, seolah-olah pemilik suara itu sedang duduk tepat di sampingnya.

"Cuman tiga puluh ribu rupiah? Serius, Li? Murah banget harga diri gue di mata adek lo."

Halilintar tersentak. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan, namun kamar itu kosong. Ia menghela napas panjang, menyadari bahwa itu adalah Lintar.

"Lo harusnya bersyukur, Tar. Taufan itu pelitnya minta ampun. Dikasih segitu itu sudah keajaiban dunia," balas Halilintar bicara sendiri pada keheningan kamar.

"Cih. Minimal kasih gue soto dua porsi dong. Segininya dapet apaan? Cuma dapet kerupuk sama es teh manis doang," gumam Lintar lagi dalam pikiran Halilintar. Nada bicaranya tetap ketus.

Halilintar tersenyum tipis, hampir tidak terlihat. "Taufan benar. Lo memang matre."

"Gue nggak matre. Gue realistis," suara Lintar mendadak merendah, terdengar sedikit lelah. "Tapi... ya udahlah. Simpen aja uangnya. Buat beli biskuit besok. Yang rasa cokelat, jangan yang kelapa. Gue ga suka."

"Iya, tahu," jawab Halilintar pelan.

Keheningan sesaat menyelimuti kamar itu. Halilintar kembali merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar yang mulai gelap.

"Li," panggil Lintar lagi, kali ini tanpa nada ketus. Suaranya terdengar jauh lebih lembut, hampir seperti bisikan yang bergetar di sudut kesadaran Halilintar.

"Hmm?"

"Tadi waktu di sana... rasanya aneh," gumam Lintar. "Gue cuman potongan memori yang hidup di kepala lo. Pas Taufan sama Blaze ketawa-ketawa gara-gara gue... pas mereka berebut mau bayar upeti buat gue..."

Lintar terdiam sejenak, seolah sedang mencari kata yang tepat. Halilintar tetap diam, memberikan ruang bagi sosok di dalam pikirannya itu untuk berbicara.

"Gue ngerasa nyata, Li. Gue ngerasa punya tempat. Selama ini gue pikir kehadiran gue cuman bakal jadi beban atau sesuatu yang harus lo sembunyiin dari mereka. Tapi ternyata... mereka beneran nganggep gue ada, bahkan sebagai bagian dari keluarga ini," lanjut Lintar. Ada nada haru yang berusaha ia tutupi dengan deheman kecil.

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang