31

146 17 7
                                        

Happy reading guys!

__________________________________________________



Pagi hari di rumah keluarga Amato dipenuhi dengan kesibukan persiapan sekolah. Kesibukan pagi tersebut dihiasi oleh suara menggema Blaze yang sibuk mencari kaos kakinya di seluruh rumah, sementara Ice dengan santainya makan sarapannya.

"Santai dong. Kayak bakal ada ujian nasional lo," kata Taufan.

"Santai gimana? Gue ga mau kena hukuman karena telat datang!" seru Blaze. Hampir seluruh tempat sudah dia periksa tapi tetap tidak ketemu.

"Kayak ga biasa aja," sarkas Solar di sebelah Thorn.

Halilintar yang baru saja keluar dari kamar dengan ranselnya di punggung, terkekeh melihat kepanikan Blaze. Dia sudah siap sejak tadi, tapi memilih untuk duduk dan melihat kekacauan pagi itu.

"Udah deh, Blaze. Kalau ga ketemu juga, pinjem aja punyaku. Ukuran kita kan sama."

"Makasih, Gem!"

Sementara itu, Aisyah berdiri di ambang pintu dapur setelah selesai menyiapkan sarapan untuk keluarganya,  dia memperhatikan anak-anaknya dengan senyum kecil. Kemudian menatap anak tertuanya.

"Hali, kamu udah sarapan?"

Halilintar beralih menatap ibunya, "belum bu."

"Iya udah, sarapan yuk," ajak ibunya.

Setelah semua siap, mereka pun berangkat ke sekolah dengan diantar oleh Amato. Awalnya Halilintar tidak ingin ikut, tetapi karena dipaksa dia akhirnya pasrah.

Perjalanan ke sekolah cukup ramai, dengan Taufan dan Blaze sedikit berisik yang disertai oleh Thorn, sementara Gempa hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat betapa berisiknya ketiga saudaranya.

Begitu sampai di sekolah, suasana cukup ramai karena ini adalah hari pertama setelah libur sekolah seminggu. Banyak siswa yang saling menyapa dan berbincang, berbagi cerita tentang liburan mereka.

Halilintar berjalan menuju kelasnya dengan santai, lagi pula dia tidak terlalu tertarik dengan keramaian. Dia meninggalkan mereka di belakang. Namun, saat dia masuk ke dalam kelas, bunyi berisik dari teman kelasnya terdengar. Tapi dia tidak ambil pusing tentang itu. Langkahnya kakinya hanya tertuju pada kerusi yang berada di pojok paling belakang dekat dengan jendela.

"Gila! Empat siswa baru sekaligus? Pasti seru!"

"Ada guru baru juga. Aku harap ga galak..."

Di papan tulis, ada sebuah pengumuman besar yang ditulis dengan spidol merah. Taufan, Gempa, Blaze, Ice, Thorn dan Solar yang baru sampai terpinga-pinga.

"Weh weh! ada apa ini?" tanya Blaze pada teman sekelasnya.

"Kamu ngapain juga berisik banget tau, suara kalian udah kek kambing," kata Taufan dengan wajah buat orang-orang di kelas kesal. Tapi anak itu malah tersenyum tengil di tempat.

Mau ditabok tapi mereka semua tidak berani. Gimana tidak berani kalau saudara tertua anak itu saja buat orang merinding takut. Jadi hasrat itu mereka tahan.

"Toh ada pengumuman di papan, kalian baca sendiri," ucap salah satu teman kelas mereka yang sekali gus merupakan penolong ketua kelas di situ.

"Eh, serius nih?!" seru Blaze yang sudah lebih awal membaca pengumuman itu.

"Ada apa blaze?" tanya Solar.

"Itu, kita kedatangan pelajar baru di kelas kita," jawab Blaze.

"Benar, ada empat pelajar nanti," kata Ice yang tengah menatap pengumuman itu.

"Bagus deh kalau gitu, mana tau ada siswi cantik kan?" kata Taufan. Dia menyiku Blaze yang berada tepat di sebelahnya. Mereka saling tatap seterusnya tersenyum penuh erti.

Tidak lama kemudian bunyi bel masuk kelas berbunyi, dan tidak lama setelah itu, seorang guru masuk ke dalam kelas. Namanya Pak Damar, wali kelas mereka. Dia tersenyum kepada seluruh siswa sebelum mulai berbicara.

"Selamat pagi, anak-anak. Seperti yang kalian sudah tahu, hari ini kita akan kedatangan empat siswa baru. Mereka akan segera masuk. Harap kalian semua menyambut mereka dengan baik."

Beberapa detik kemudian, pintu kelas dibuka dari luar dan masuklah empat orang siswa baru. Mereka berdiri di hadapan kelas. Taufan, Blaze dan Thorn menepuk dahi mereka, manakala Gempa tersenyum dan Solar menatap sedikit kesal pada salah satu pelajar di hadapan mereka. Halilintar dan Ice hanya diam memandang mereka.

"Astaga, mereka rupanya," kata Taufan. Dia mengurungkan keinginannya untuk menggoda anak kelas baru nanti.

Yang pertama adalah seorang pemuda tinggi dengan rambut hitam pendek dan ekspresinya kelihatan angkuh.

"Silakan perkenalkan diri kalian."

Pemuda itu melangkah maju. "Nama gue Fang."

Yang kedua adalah seorang gadis dengan rambut pendek dikuncir dua ke bawah dan memakai kaca mata bulat. Terlihat imut.

"Aku Ying. Mohon bantuannya."

Yang ketiga adalah seorang laki-laki dengan bertubuh gempal. "Aku Gopal. Semoga kita bisa berteman."

Dan yang terakhir adalah seorang gadis dengan tudung warna merah jambu. Matanya berwarna cokelat. Dia tersenyum.

"Hai semuanya! Aku Yaya, Senang bertemu kalian!"

Seluruh kelas langsung mulai berbisik-bisik, membicarakan para siswa baru ini.

"Kayaknya mereka keren-keren, ya?"

"Aku penasaran mereka kayak gimana..."

Pak Damar tersenyum. "Baik, silakan kalian duduk di tempat yang kosong."

Empat siswa baru itu pun mengambil tempat duduk masing-masing. Halilintar melihat mereka tanpa rasa tertarik. Taufan dan yang lain malah melambai mereka antusias, dan itu dibalas lambaian tangan dari Gopal.

Setelah sesi perkenalan selesai, Pak Damar kembali membuka bicara. "Selain siswa baru, kita juga akan kedatangan guru baru hari ini. Dia akan mengajar mata pelajaran sejarah dan juga akan menjadi wali kelas kalian."

Kelas kembali menjadi heboh.

"Wali kelas baru?" ucap Taufan.

"Bapak mau berhenti jadi wali kami?" tanya Gempa yang mewakili kelasnya.

"Iya, jadi bapak harap kalian hormat dengan wali kelas baru kalian," katanya lagi.

Beberapa detik kemudian, pintu kembali terbuka. Masuklah seorang wanita dengan rambut panjang hitam yang tergerai indah. Wajahnya cantik, dengan netra cokelat dan bulu mata lentik yang memukau.

"Silakan perkenalkan diri, Bu," ucapnya. Wanita itu tersenyum. Suaranya lembut tapi tegas saat berbicara.

"Selamat pagi, anak-anak. Nama ibu Miss Leila. Saya akan menjadi guru sejarah kalian mulai hari ini. Saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik."

Seluruh kelas langsung terdiam sejenak, lalu mulai berbisik-bisik lagi.

"Gila... Wali kelas kita cantik cok!" bisik Blaze pada Taufan.

"Kayak mahasiswa!"

Kelas kembali berisik. Halilintar juga terlihat terkejut. Netranya menelisik wajah wali kelas baru mereka dan entah kenapa dia merasa familiar dengan wajah itu. Namun karena fokus memperhatikan wali kelasnya, tanpa sengaja mereka berdua kontak mata. Lantas Halilintar memutus kontak mata lebih dulu. Sedikit berdehem untuk hilangkan canggungnya.

"Ahh! Miss senyum sama gue tuh!" bisik salah satu siswa.

Miss Karina tersenyum lembut. "Baik, ayo kita mulai pelajaran hari ini."

"Bapak harap kalian patuh pada Miss Leila, wali kelas baru kalian," ucap Pak Damar.

"Baik Pak!"

"Baiklah kalau begitu, Miss boleh mula mengajar sekarang, mau kenal-kenal dulu juga boleh" ucap Pak Damar.



__________________________________________________

Tbc...

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang