69

62 11 6
                                        

Selamat ngesad guys!

__________________________________________________




Setelah Halilintar menghilang di balik pintu kamarnya, suasana di lantai bawah masih kacau. Oma terus meronta dalam dekapan Amato, teriakan histerisnya perlahan berubah menjadi tangisan pilu yang melemah. Beban duka yang teramat berat, ditambah rasa benci yang meluap-luap, membuat tubuh renta itu akhirnya tak sanggup lagi bertahan. Kesadarannya meredup, dan ia jatuh pingsan di pelukan anaknya.

"Mama! Mama!" Amato berseru panik. Dengan sigap, ia menggendong tubuh ibunya, dibantu oleh Aisyah yang membukakan jalan menuju kamar.

Setelah memastikan Mamanya berbaring dengan tenang dan meminta Taufan dan yang lain untuk menjaga Oma mereka, Amato dan Aisyah saling berpandangan. Mereka teringatkan Halilintar apalagi tentang kejadian tadi.

Keduanya berjalan perlahan menaiki tangga. Amato mengetuk pintu kamar Halilintar dengan pelan. "Hali? Ini Ayah dan Ibu. Boleh kami masuk?"

"Masuk aja," jawab Halilintar dari dalam.

Pintu tak kunjung buka akhirnya Amato membukanya sendiri dan ternyata pintu tidak dikunci. Amato perlahan membukanya. Di dalam, mereka menemukan Halilintar sedang duduk di pinggir ranjangnya, menatap kosong ke arah jendela. Bekas merah di pipinya masih kelihatan.

Aisyah mendekat, duduk di samping putranya dan menyentuh kedua bahunya lembut. "Apa pipinya masih perih?"

Halilintar diam sejenak sebelum netra ruby itu kini menatap wajah Ibunya. "Udah ga perih, Bu," jawabnya.

Amato duduk di kerusi menghadap Halilintar. "Hali, Ayah minta maaf. Ayah minta maaf atas nama Oma. Dia sedang sangat berduka atas Opamu, fikirannya kacau sampai bicara yang bukan-bukan. Ayah tahu kamu nggak mungkin melakukan itu."

Amato menatap lekat netra ruby anaknya, mencari percikan emosi di sana. "Kamu gapapa, Hali? Jangan masukkan kata-kata Oma ke dalam hati."

Halilintar perlahan mengalihkan pandangannya pada Amato. Sudut bibirnya terangkat tipis.

"Aku oke, Yah. Aku ngerti kok kenapa Oma jadi begitu. Oma pasti depresi berat karna baru aja kehilangan Opa," Halilintar berhenti sejenak, suaranya merendah. "Jadi aku ga ambil hati soal tadi."

Mendengar jawaban Halilintar yang begitu tenang, Amato dan Aisyah sempat merasa sedikit lega. Namun, kelegaan itu tidak bertahan lama. Keheningan yang menyelimuti kamar itu tiba-tiba terasa mencekam saat Halilintar kembali bersuara.

"Tapi Ayah... Ibu..." Halilintar menatap bergantian keduanya. "Misalkan... misalkan apa yang Oma katakan itu benar. Misalkan aku yang benar-benar menghabisi nyawa Opa... apa yang akan kalian lakuin?"

Pertanyaan itu meluncur begitu saja, membuat napas Amato dan Aisyah tertahan di kerongkongan. Suasana kamar mendadak terasa dingin.

"Apa Ayah akan memborgol tanganku dan melempar aku ke penjara? Atau..." Halilintar menjeda kalimatnya, senyum tipis kembali muncul. "Atau Ibu dan Ayah akan melakukan hal yang lebih buruk dari itu? Membuangku dari keluarga ini? Menganggap aku ga pernah ada, kayak sampah yang memang seharusnya dibuang?"

Aisyah merasakan tangannya gemetar. Ia memegang bahu Halilintar lebih erat.

"Hali, kenapa bicara begitu? Jangan pernah berpikir seperti itu," suara Aisyah bergetar sebak.

Amato pun terpaku. Ia melihat tidak ada keraguan di mata Halilintar saat menanyakan hal mengerikan itu. Seolah-olah bagi Halilintar, dibuang atau dipenjara oleh keluarganya sendiri adalah sebuah kemungkinan yang sudah ia terima sejak lama.

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang