Happy reading guys!
__________________________________________________
Suasana koridor sekolah yang tadi terasa sesak dengan ketegangan antara Halilintar dan alter egonya, Lintar, kini berubah menjadi hening yang mencekam saat Amato melangkah mendekat. Mata Amato tidak lepas dari sosok wanita di samping anaknya, Leila Safira. Wanita yang disebut oleh Leisya sebagai kunci untuk menyembuhkan Halilintar.
"Halilintar, masuk ke kelas dulu. Ayah ada urusan sebentar dengan wali kelasmu," ujar Amato dengan nada suara yang berat namun berusaha tetap tenang.
Halilintar memandang ayahnya, lalu beralih ke Miss Leila yang memberikan anggukan kecil padanya. Dengan langkah gontai dan kepala yang masih terasa berdenyut akibat Lintar tadi, Halilintar berjalan meninggalkan mereka. Dia sempat menoleh sekali lagi, merasakan ada sesuatu yang besar yang akan terungkap, sebelum akhirnya menghilang di balik pintu kelas.
Gibran menepuk bahu Amato, memberi isyarat agar mereka mencari tempat yang lebih privasi. Mereka kemudian bergerak menuju taman belakang sekolah yang sepi, jauh dari jangkauan telinga para siswa.
Setelah mereka duduk di sebuah bangku kayu di bawah pohon rindang, Leila menarik napas panjang. Dia menatap Amato dengan tatapan yang penuh dengan kesedihan yang telah dipendam bertahun-tahun.
"Jadi... Anda adalah ayah kepada Halilintar? Tuan Amato?" tanya Leila memulai percakapan.
"Ya. Dan saya baru tahu keberadaan kakakmu, Leisya, hari ini dari Gibran," jawab Amato. "Leisya bilang kau yang menjaga Halilintar dulu saat dia berada di bawah cengkeraman Aqsa."
Leila tersenyum getir. "Menjaga? Saya mencoba, Amato. Tapi kekuatan saya terbatas. Di tempat itu, Aqsalah yang berkuasa."
Amato mengepalkan tangannya di atas lutut. "Ceritakan semuanya. Jangan ada yang ditutupi. Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada anakku sampai dia memiliki kepribadian ganda seperti ini."
Mendengar itu, Leila lantas menatap lurus Amato. "Bagaimana— "
"Isteri aku, Mara. Sejak Hali kembali dia sudah mengetahuinya lebih dulu bahawa ada yang tidak kena dengan anak kami. Aku pada awalnya tidak percaya tapi lama-kelamaan beberapa hal yang sudah aku lihat pada Hali akhirnya membuka mataku bahawa memang anakku punya sisi lain. Anakku punya keperibadian ganda." Amato menunduk dengan tangan yang saling menggenggam.
"Aku fikir anakku tertutup dan dingin pada kami tapi nyatanya keperibadian ganda itulah penyebabnya. "
Leila menunduk, jemarinya saling bertautan dengan gelisah. "Anda mungkin melihat Halilintar sebagai anak yang tertutup dan dingin karena Lintar. Tapi Lintar lahir bukan karena keinginan Halilintar untuk menjadi jahat. Lintar lahir sebagai tameng. Dia lahir dalam tekanan Aqsa."
Gibran dan Amato terdiam, mendengarkan dengan napas tertahan.
"Aqsa ingin membuat anakmu menderita hingga tidak waras," lanjut Leila dengan suara bergetar. "Bahkan sampai sanggup memaksa anak sekecil itu melakukan hal yang mengerikan."
"Apa yang dilakukan Aqsa?" tanya Gibran rendah.
Leila memejamkan mata, seolah memori itu terlalu menyakitkan untuk divisualisasikan. "Dia memaksa Halilintar buat hal yang tidak pantas untuk dilakukan oleh manusia."
Amato dan Gibran mendengar dengan saksama.
"Lintar pernah cerita ke aku kalau dia sudah membunuh orang tua dan beberapa orang yang tidak bersalah karena dipaksa oleh Aqsa."
ANDA SEDANG MEMBACA
SISA HUJAN LUKA [end]
Fiksyen PeminatCtass! Ctass! Ctass! "Ayah, sakit Yah, badan Hali sakit..hiks..hiks!" Bugh! "Akhh!" Suara jeritan kesakitan terkeluar begitu sahaja dari mulut anak kecil itu. Dirinya ditendang oleh orang yang dia sayang tanpa terbesit sedikit pun rasa bersalah dala...
![SISA HUJAN LUKA [end]](https://img.wattpad.com/cover/379880814-64-k984467.jpg)