Happy reading guys!
__________________________________________________
Halilintar terdiam cukup lama, membiarkan angin sepoi-sepoi di parkiran sekolah menerpa wajahnya. Pertanyaan sang ayah dan tatapan tulus dari adik-adiknya, terutama Thorn, menimbulkan getaran halus di benaknya. Bukan getaran amarah atau ketakutan seperti biasanya, melainkan sesuatu yang lebih lembut.
"Gue... gue ga keberatan," jawab Halilintar pelan, hampir berbisik. "Selama ini gue selalu anggep Lintar itu sesuatu yang asing yang muncul secara tiba-tiba. Tapi denger Thorn manggil dia kayak gitu... kayaknya dia juga berhak dapet kasih sayang kalian."
Halilintar sedikit menunduk, menyembunyikan senyum tipis yang tidak ia perlihatkan. "Sebenernya, di dalam sini... Lintar lagi diem banget. Kayaknya dia juga kaget dipanggil 'Kakak' sama Thorn."
Mulut Thorn terlopong mendengar itu, "hah! K–kak Lintar dengar semuanya?"
"Nah, gitu dong!" seru Taufan sambil menepuk-nepuk pundak Halilintar. "Berarti mulai sekarang kalo dia keluar, kita panggilnya Kak Lintar ya? Biar dia semangat!"
"Tapi Kak Hali," Solar menyela dengan wajah seriusnya, "gimana caranya kita tahu kapan harus manggil 'Kak Hali' dan kapan harus manggil 'Kak Lintar'? Apa ada tanda-tandanya? Kayak hal kecil yang sering ia lakukan?"
Blaze ikut menimpali dengan antusias, "iya, kayak terlihat lebih cool?"
Halilintar mendengus geli. "Ga gitu juga. Biasanya kalo dia yang keluar, tatapannya jauh lebih tajam dan cara bicaranya lebih... ya, lebih kasar dikit. Tapi dia denger kok apa yang kalian omongin sekarang."
Mendengar itu, Blaze langsung berteriak ke arah wajah Halilintar, "WOI KAK LINTAR! DENGER YA, JANGAN GALAK-GALAK SAMA KAMI. KALO KELUAR TU, YA BAGITAU DONG KALO ITU LO!"
"Berisik, Blaze! Malu-maluin dilihatin orang," tegur Gempa sambil menarik kerah baju Blaze agar menjauh. Gempa kemudian menatap kakaknya. "Ayo pulang, Yah, Kak. Miss Leila, terima kasih banyak atas bantuannya hari ini. Kami benar-benar terbantu."
Miss Leila tersenyum manis. "Sama-sama, Gempa. Halilintar, ingat pesan Miss dan Tante Leisya ya? Kamu ga sendirian. Kamu punya keluarga."
"Iya Miss, makasih udah sejauh ini bantu aku."
Amato membuka pintu mobil, mengisyaratkan anak-anaknya untuk masuk. "Sudah, ayo masuk semua." Amato menatap Miss Leila, "terima karna sudah bantu kami, kami sangat hargainya." Leisya membalas dengan menganggukkan kepala serta senyum terpatri di wajahnya.
Di dalam mobil yang mulai melaju, suasana rame disebabkan Taufan dan Blaze. Thorn duduk di samping Halilintar, menyandarkan kepalanya di bahu sang kakak.
"Kak Hali... nanti kalau sampai rumah, boleh nggak Thorn ngobrol sama Kak Lintar sebentar? Thorn mau bilang makasih karena udah jagain Kak Hali selama ini," bisik Thorn.
Halilintar hanya bisa mengangguk pelan sambil mengelus rambut Thorn. Di dalam hatinya, ia merasakan sebuah getaran emosi yang bukan miliknya. Itu adalah rasa haru dari Lintar, yang untuk pertama kalinya merasa bahwa kehadirannya bukan lagi sebuah rahasia, melainkan bagian dari sebuah keluarga Halilintar sendiri.
Sesampainya di halaman rumah, Taufan langsung melompat keluar dari mobil. "OKE SEMUANYA! MARI ADAKAN PENYAMBUTAN KAK LINTAR! GEMPA, MASAK SUP YANG ENAK YAH!"
"Taufan, jangan aneh-aneh!" teriak Gempa dari dalam mobil, sementara yang lain hanya tertawa melihat tingkah konyol Taufan.
Malam itu, suasana di ruang dapur sedikit rame seperti biasanya. Aisyah dan Gempa sibuk di dapur menyiapkan sup ayam hangat dan jagung bakar, permintaan khusus dari Thorn untuk menyambut ahli baru di keluarga mereka. Amato duduk di ujung meja, memperhatikan keenam anaknya yang tampak tegang namun juga terlihat antusias.
Halilintar duduk di kursinya, namun ia tampak sangat gelisah. Matanya sesekali terpejam rapat juga tangannya meremas pinggiran meja.
"Kak Hali? Kakak gapapa?" tanya Gempa lembut sambil meletakkan semangkuk sup di depannya.
Halilintar mendongak, napasnya sedikit memburu. "Gapapa kok, Gem. Ya... cuman si Lintar bilang dia sedikit aneh berhadapan langsung."
"Yah, bilangin ke dia dong Kak," sahut Taufan sambil mengunyah kerupuk. "Ga usah malu-malu. Kita kan udah tahu. Lagian gue pengen nanya, beneran dia yang smash bola voli tempo hari sampai pecah?"
Tiba-tiba, tubuh Halilintar menegang. Kepalanya tertunduk dalam selama beberapa detik. Suasana meja makan mendadak senyap. Blaze sampai berhenti mengunyah, sementara Solar membetulkan letak kacamatanya, mengamati setiap gerak-gerik kakaknya.
Saat Halilintar mengangkat wajahnya kembali, auranya berubah total. Tatapan matanya yang biasanya tenang kini menjadi tajam, dingin, dan menusuk. Sudut bibirnya tertarik membentuk seringai tipis yang terlihat angkuh.
"Berisik banget sih kalian," suara itu keluar dari mulut yang sama, tapi nadanya lebih berat, serak, dan penuh penekanan.
Semua orang di meja makan terkesiap. Thorn adalah yang pertama bereaksi. Matanya berbinar cerah. "Kak Lintar?! Ini Kak Lintar ya?"
Sosok itu melirik ke arah Thorn. Seringainya memudar, digantikan oleh ekspresi canggung yang dipaksakan. "Iya, ini gue. Puas lo?"
Blaze langsung berdiri dari kursinya. "WAH! Beneran beda! Tatapannya kayak ngajak baku hantam njir! Kak Lintar, beneran lo yang makan jagung bakar Thorn sampai habis waktu di pantai?"
Lintar mendengus, ia menyandarkan punggungnya ke kursi dengan gaya yang lebih santai dan angkuh daripada Halilintar. "Jagungnya enak. Siapa suruh dia cuma liatin doang? Ya gue habisin lah."
Taufan tertawa meledak. "Gila! Lo jujur banget! Kak Hali mah biasanya bakal minta maaf kalo ga sengaja makan punya orang."
"Gue bukan dia," potong Lintar tajam, namun tidak ada nada benci di sana. Ia menatap piring di depannya, lalu menatap Amato yang sejak tadi memperhatikan dengan senyum tipis. "Kenapa lo semua ga takut? Gue udah bikin orang masuk ICU."
Gempa meletakkan tangan di atas meja, menatap Lintar dengan berani walau sedikit takut. "Karena kami tahu lo lakuin itu buat lindungin Kak Hali. Caranya emang salah, tapi niat lo... lo cuma pengen Kakak kami aman, kan?"
Lintar terdiam. Ia memalingkan wajah, tampak tidak nyaman dengan suasana emosional itu. "Gue cuma jalanin tugas gue. Ga usah dilebay-lebayin."
Thorn tiba-tiba menyodorkan sebuah jagung bakar yang masih panas ke arah Lintar. "Ini buat Kak Lintar! Makasih ya udah jagain Kak Hali selama ini. Thorn sayang Kak Hali, berarti Thorn juga sayang Kak Lintar!"
Lintar terpaku menatap jagung itu, lalu menatap Thorn. Untuk pertama kalinya, tatapan tajam itu melunak. Ia mengambil jagung itu dengan kaku. "Lo... aneh. Semuanya aneh."
"Tapi lo suka kan?" goda Taufan sambil menyenggol lengan Lintar.
Lintar tidak menjawab, ia justru mulai menggigit jagung itu dengan lahap, mengabaikan godaan Taufan. Meskipun sikapnya kasar dan bicaranya ketus, semua orang di sana bisa merasakan bahwa sosok disosiatif Kakak mereka mulai sedikit terbuka dengan mereka.
"Yah," panggil Ice pelan ke arah Amato. "Kayaknya kita butuh belanja makan lebih banyak kalau Kak Lintar sering keluar. Dia makannya lebih banyak dari Kak Hali."
"Hah! Gue denger yah, gemuk!" sahut Lintar sambil menunjuk Ice dengan bonggol jagung, memicu tawa di seluruh ruang makan.
__________________________________________________
Tbc...
ANDA SEDANG MEMBACA
SISA HUJAN LUKA [end]
FanficCtass! Ctass! Ctass! "Ayah, sakit Yah, badan Hali sakit..hiks..hiks!" Bugh! "Akhh!" Suara jeritan kesakitan terkeluar begitu sahaja dari mulut anak kecil itu. Dirinya ditendang oleh orang yang dia sayang tanpa terbesit sedikit pun rasa bersalah dala...
![SISA HUJAN LUKA [end]](https://img.wattpad.com/cover/379880814-64-k984467.jpg)