34

132 15 1
                                        

Happy reading guys!

__________________________________________________


Setelah kejadian perkenalan diri antara wali kelas dan kelasnya yang heboh, suasana kelas kembali normal... atau setidaknya, hampir normal.

Miss Leila mulai mengajar dengan tenang, kekadang dia menoleh pada sudut kelas, tetapi setiap kali dia menoleh ke pojok kelas, dia selalu menangkap pandangan Halilintar yang tertuju padanya. Pemuda itu tidak banyak bicara dan bereaksi.

“Kenapa nih bocah kayak ngelihatin gue terus sih?” pikirnya sambil berusaha mengabaikannya.

Sementara itu, di sudut lain kelas, Blaze dan Taufan mulai perasan akan tindak-tanduk kakak tertua, mereka saling pandang antara satu sama lain.

"Eh lo sadar ga Kak Hali kek dari tadi ngelihatin wali kelas kita?" bisik Blaze pada Taufan yang hanya bisa mengangkat bahu.

"Apa jangan-jangan dia ngecrushin Miss yah?" tambah Taufan, matanya berbinar jahil.

Blaze terkekeh. "Kalau beneran, wah, drama banget nih. Bayangin aja, anak sekolahan jatuh cinta sama walinya. Kelas ini bisa jadi sinetron njir!"

Ucapan Blaze diangguki oleh Taufan dan Thorn yang entah tiba-tiba muncul di antara mereka berdua.

"Njir ngekagetin lo!" kaget Taufan apabila melihat si bontot hijo ikut serta.

"Hehehe, maap dong." Thorn terkekeh.

Halilintar memandang ke arah Taufan dan yang lain, sebenarnya dia mendengar apa yang saudaranya bicarakan. Tapi Halilintar tidak peduli dengan candaan mereka. Ada sesuatu tentang Miss Leila yang terus mengusik ingatannya. Cara wanita itu berbicara, senyumannya, bahkan ekspresi saat melihatnya tadi, semuanya sama dengan seseorang yang ia kenal dulu.

Bel istirahat sudah berbunyi beberapa menit lalu, tapi suasana kelas masih dipenuhi suara bisik-bisik murid yang terlalu antusias dengan wali kelas baru mereka. Miss Leila menghela napas, merapikan beberapa buku di mejanya. Sejujurnya, dia sudah terbiasa dengan murid-murid yang sedikit berisik, tapi entah kenapa hari ini terasa berbeda.

Tatapannya melayang ke pojok kelas.

Di sana, Halilintar masih duduk tenang, seperti tidak terusik dengan keributan di sekelilingnya. Tapi ada sesuatu dalam sorot mata pemuda itu yang membuat dia tidak nyaman.

"Apa dia naksir sama gue?" pikirnya.

"Ini gila, kalo sampai itu terjadi gimana?" dia tanpa sedar senyum-senyum sendiri sambil tangannya cekatan mengemas beberapa buku di mejanya.

Beruntung, dirinya sedikit membelakangi anak-anak muridnya. Kalau tidak, sudah dipastikan dirinya dipandang aneh oleh anak muridnya.

Setelah habis mengemas, badannya berbalik menghadap mereka semua. "Okey semuanya, jangan lupa untuk siapkan kerja yang Miss berikan yah?" katanya.

"Iya Miss!"

Dia tersenyum pada mereka semua lalu kakinya melangkah keluar dari kelas tersebut. Tak lama kemudian, kelas itu kembali berisik semula.

"Woi kalian!" seru Taufan pada teman baru mereka, teman lama maksudnya.

Gopal, Fang ,Yaya dan Ying menghampiri Taufan dan yang lain.

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang