Happy reading guys!
__________________________________________________
Miss Leila tersenyum lembut. "Baik, ayo kita mulai pelajaran hari ini."
Waktu pelajaran Miss Leila pun dimulai, Halilintar tidak bisa menghilangkan perasaan aneh dalam dirinya. Dia memerhatikan Miss Leila dengan seksama. Wali kelasnya itu membuat Halilintar entah kenapa dia merasa... familiar.
Kepalanya ia gelengkan cepat. "Mirip banget lagi," bisiknya dalam hati dengan lirih. Tiba-tiba perasaan itu melandanya lagi.
Tetapi dia cepat mengalihkan fokusnya pada jendela di sebelah kirinya. Tangan satunya memangku dagu dan netra merah itu memandang pemandangan padang yang luas menghijau. Memasang wajah datar khas miliknya.
Tanpa Halilintar sedari, wali kelasnya itu memandang ke arahnya. Miss Leila mengernyit heran dengan tingkah laku anak muridnya yang satu itu.
"Apa tadi anak itu perhatiin aku yah? aneh banget tu anak," bisiknya di dalam hati.
Netra cokelatnya memandang semula anak-anak muridnya yang lain, dia terlupa sesuatu. Tangannya terangkat menepuk tangan untuk mengambil perhatian semua muridnya dan itu berhasil.
"Baiklah, oleh sebab hari ini adalah hari pertama Miss masuk, jadi Miss mau kita saling kenalin diri, boleh?" katanya. Senyuman anggunnya masih terpatri di wajah putih mulusnya.
"Boleh Miss!" sahut mereka yang lain.
"Oke, kalau begitu kita mulakan dari sebelah kanan di paling depan dahulu," ucapnya. Ia mempersilakan siswa yang tepat berada di depannya untuk mulakan sesi perkenalan. Murid itu pun berdiri.
"Selamat pagi semua. Nama saya Gempa. Saya berasal dari kota ini dan sangat senang bisa berada di kelas ini. Saya harap kita bisa saling mendukung dalam belajar. Terima kasih!" ucap Gempa.
Wajah tenangnya dihiasi dengan senyuman ramah yang membuat siswi di kelas pada cair.
"Aduh meleleh aku lama-lama deh," ucap salah satu siswi pada teman sebangkunya.
"Iya,"
"Sama-sama Gempa. Teman sebelah kenalkan diri," ucapnya tersenyum lembut dan menawan.
"Nama aku Ice. Asal sini dan suka kedamaian," ucapnya.
Wajah mengantuknya tidak membuat ketampanannya berkurang. Malah, membuat ramai siswi yang beratur panjang untuknya. Seterusnya giliran Solar yang berada di meja belakang.
"Halo semua! Aku Solar, juga asal sini. Aku adalah orang tertampan dan terpintar di sekolah ini. Salam kenal semua!" ucapnya narsis. Walau begitu, sesiapa pun tidak dapat membantah apa yang ia ucapkan tadi semuanya benar tentang dirinya. Udah tampan, pintar lagi.
Thorn berada di sebelah berdiri. "Salam kenal kepada teman-teman dan Miss. Aku Thorn dan aku senang kenal dengan kalian semua!" ucapnya sambil tersenyum manis.
"Ihh, kamu anak siapa yah? pengen Miss culik, mana mukanya manis lagi," ucapnya dalam hati. Tangannya gatal mau mencubit pipi bakpao Thorn tapi dia tahan hasratnya.
"Terima kasih, manis," ucapnya pada Thorn.
Seterusnya giliran Taufan. Ia berdiri dengan senyum riang. "Hey teman-teman! Aku Taufan. Semoga nanti kita bisa akrab yah. Kalau butuh teman ngobrol atau bercanda, cari aku!" ucapnya dengan ramah dan jangan lupakan senyuman yang paling lebar yang pernah ada di sekolah ini.
Taufan merupakan sosok yang periang dan mudah akrab dengan orang lain. Itu membuat dirinya ramai yang menyukainya karena sangat ramah dengan sesiapa saja. Namun, ia juga bikin orang-orang pada kesal dengan kejahilan dirinya. Apalagi kalau Blaze dan Thorn sudah ikut serta.
"Halo semua! Aku Blaze, datang dari sini. Aku orangnya suka tantangan. Yuk, kita bikin kelas ini jadi tempat yang asyik buat belajar bareng!" katanya dengan senyum lebar yang menampakkan gigi.
Blaze juga antara salah satu dari mereka yang sangat aktif dalam non-akademik begitu juga Taufan. Keterlibatannya dalam olahraga membuatkan sosok dirinya menjadi terkenal, bahkan wajahnya juga sangat menyokong.
Kini semua pasang mata di kelas tertuju pada satu sosok yang berada di pojok-pojok kelas, menanti sosok itu buka bicara. Halilintar menghela napas kasar sebelum berdiri dari duduknya.
"Halilintar," ucapnya singkat dan padat. Netranya menatap tepat pada netra cokelat Miss Leila.
Netra cokelat milik Miss Leila terpaku memandang netra tajam milik pemuda itu. Namun, yang membuat jantung berdegup kencang adalah karena dirinya tidak sengaja terpandang senyum tipis dari anak muridnya satu ini. Secepatnya dia mengalihkan pandangan pada yang lain.
"Aduhh, tuh anak ngapain juga tampan banget," bisiknya pada diri sendiri.
"Hebat banget orang tuanya lahirkan mereka semua, udah kembar tujuh, tampan lagi semua," teriaknya di dalam batin.
Netranya semula menatap sosok Halilintar yang mulai duduk. Wajah dengan rahang yang tegas terbentuk. Netra semerah darah dengan bulu mata panjang dan lentik membuat sesiapa saja yang larut tenggelam dalam pandangan dingin pemuda itu. Malah tinggi tubuh pemuda itu dengan saudaranya boleh dikatakan tinggi dari anak seumuran mereka. Sungguh-sungguh tampan.
Dan untuk pengetahuan kalian, Halilintar antara pemuda most wanted di sekolah bahkan di luar sekolah oleh siswi-siswi dan wanita-wanita di luar sana. Namun, siswi di sekolahnya semua pada tahu jika pemuda itu sangat dingin dan galak. Jadi mereka hanya mampu memendam perasaan mereka, walau begitu, masih ada yang mengejar-ngejar untuk mendapatkan perhatian dari pemuda itu. Dan wanita-wanita yang bergelar isteri dan sudah bergelar ibu saja terpesona dengan ketampanan Halilintar, dan Miss Leila mungkin akan termasuk salah satu dari mereka. Waduh!
"Err Miss?" panggil salah satu siswi.
"Hah! yah kenapa?" Lamunannya segera sirna karena pertanyaan siswi itu.
"Kita semua sudah perkenalkan diri, giliran Miss lagi."
"Astaga, aku udah kenapa coba!" kesalnya dalam hati namun di luar masih menunjukkan senyum anggunnya. Menjaga imejnya.
Kakinya melangkah ke tengah di depan semua muridnya. Berjalan dengan postur tubuh yang anggun. Badannya menghadap anak muridnya "Kalian boleh panggil ibu, Miss Leila atau Miss saja," ucapnya.
Tiba-tiba, Taufan mengangkat tinggi tangannya. "Umur Miss berapa sekarang?" tanyanya.
"Ouh, Miss udah empat puluh satu tahun," ucapnya dengan nada tenang.
Namun, reaksi dari mereka yang lain malah sangat terkejut.
"AAPAAA!! EMPAT PULUH SATU TAHUN?!!" teriak mereka bersamaan.
Di sisi lain, Amato dan temannya memasuki sebuah rumah sederhana yang dipenuhi tumbuh-tumbuhan berbunga karena pemilik rumah menyukainya. Belum sempat mereka mengetuk pintu, seseorang sudah membukakan pintu dari dalam.
"... " Amato terdiam di tempat apabila melihat wajah orang itu, tiba-tiba bulu kuduknya meremang.
"Ah maaf, silakan masuk dulu," wanita itu menjemput mereka berdua duduk di ruang tengah. Dia tidak mahu tamunya berdiri lama di depan rumahnya.
Pemilik rumah masuk ke ruang dapur untuk menyediakan mereka berdua minuman. Setelah duduk, Amato lantas menatap temannya untuk meminta penjelasan.
Orang sebelahnya menghela napas, "aku ceritain nanti."
__________________________________________________
Tbc...
ANDA SEDANG MEMBACA
SISA HUJAN LUKA [end]
Fiksi PenggemarCtass! Ctass! Ctass! "Ayah, sakit Yah, badan Hali sakit..hiks..hiks!" Bugh! "Akhh!" Suara jeritan kesakitan terkeluar begitu sahaja dari mulut anak kecil itu. Dirinya ditendang oleh orang yang dia sayang tanpa terbesit sedikit pun rasa bersalah dala...
![SISA HUJAN LUKA [end]](https://img.wattpad.com/cover/379880814-64-k984467.jpg)