55

57 12 2
                                        

Happy reading guys!

__________________________________________________



Sentuhan lembut di bahu Amato membuyarkan lamunan kelam yang telah membawanya kembali ke lorong pengadilan puluhan tahun silam. Ia tersentak kecil, napasnya sedikit memburu, dan telapak tangannya terasa dingin.

"Amato... ayo istirahat. Sudah malam," bisik Aisyah lembut. Wajah istrinya memancarkan kelelahan yang sama, namun matanya tetap menunjukkan ketegaran demi anak-anak mereka.

Amato mengerjapkan mata, menatap sekeliling ruang tengah yang kini sunyi. Bayangan jeruji besi dan suara denting rantai kakaknya perlahan memudar, digantikan oleh kehangatan lampu rumah yang remang-remang. Namun, perasaan sesak itu tidak ikut pergi.

"Iya, sebentar lagi," jawab Amato parau. Ia bangkit dari kursi, mengikuti langkah Aisyah menuju kamar mereka.

Sepanjang langkahnya, pikiran Amato tetap tertahan di pintu besi besar itu. Punggung kakaknya yang menjauh, tatapan dingin dan gerakan bibir yang tak sempat mengeluarkan suara. Sampai hari ini, saat ia sudah menjadi seorang ayah dengan tujuh anak, rahasia di balik tatapan terakhir kakaknya tetap menjadi teka-teki yang menghantuinya.

"Apa yang mau kamu sampaikan sebenarnya, Kak?" batin Amato sambil merebahkan tubuh di samping Aisyah.

Ia menatap langit-langit kamar yang gelap. Apakah tatapan itu sebuah peringatan? Kakaknya divonis mati karena kegilaan yang tak terkendali, sebuah penyakit yang membuat manusia kehilangan kemanusiaannya. Dan kini, melihat Halilintar yang mulai menunjukkan gejala serupa, Amato merasa seolah sejarah sedang mengulang dirinya sendiri.

"Jangan sampai... jangan sampai apa yang kamu alami menular pada putraku," gumam Amato dalam hati, tangannya mengepal erat di balik selimut.

Di bawah temaram lampu kamar, Amato membiarkan dirinya tenggelam kembali ke masa di mana semuanya masih terasa sederhana. Sebelum noda darah merusak segalanya, sebelum nama kakaknya menjadi aib yang harus dikubur hidup-hidup.

Ia memejamkan mata, dan seketika bayangan padang rumput di belakang rumah lama mereka muncul. Ia melihat dua bocah laki-laki berlari berkejaran dengan tawa yang lepas. Kakaknya, berhenti sejenak untuk menunggunya yang tertinggal di belakang.

"Ayo, Amato! Kejar aku kalau bisa!" teriak kakaknya sambil melambaikan tangan, senyumnya begitu lebar dan tulus.

Amato ingat betapa ia sangat memuja sosok itu. Kakaknya adalah pahlawannya, pelindungnya dari gangguan anak-anak nakal di sekolah, dan teman berbagi rahasia di bawah selimut setiap malam. Dia seorang kakak yang akan memberikan mainan terbaiknya hanya untuk melihat Amato berhenti menangis. Kasih sayang itu nyata, dan Amato sangat menyayanginya lebih dari apa pun.

Namun, dalam sekejap, memori manis itu terdistorsi. Bayangan padang rumput berubah menjadi gudang yang gelap dan pengap. Aroma bunga berganti menjadi bau besi yang menyengat. Bau darah.

Wajah kakaknya yang tertawa kini berubah menjadi dingin dan kosong, berdiri di tengah kekacauan yang ia ciptakan sendiri. Amato ingat rasa mual yang menghantamnya saat ia pertama kali menyadari bahwa tangan yang dulu membelai kepalanya dengan lembut, kini berlumuran darah.

"Kenapa, Kak? Kenapa melakukan itu semua?" bisik Amato pelan di tengah kegelapan kamarnya.

Rasa sayang dan benci itu bergejolak di dalam dada Amato seperti api dan es yang bertemu. Ia membenci fakta bahwa kakaknya telah merenggut nyawa orang-orang yang tak berdosa. Ia membenci bagaimana kakaknya menghancurkan masa depan keluarga mereka dan meninggalkan luka permanen di hati orang tua mereka. Tapi di sisi lain, ia tidak bisa mematikan bagian dari dirinya yang masih merindukan sosok kakak yang dulu pernah menggendongnya saat ia terjatuh.

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang