33

160 18 5
                                        

Happy reading guys!

__________________________________________________





Miss Leila menghela napas dalam sambil mengusap telinganya yang masih berdengung akibat teriakan murid-muridnya. Dia mengerling tajam ke arah mereka yang masih ternganga, seolah-olah baru saja melihat keajaiban dunia.

"Heh, apaan sih ribut banget? Miss ga setua itu kali!" omelnya sambil mendelik mereka.

Taufan, yang masih ternganga malah mengedip-ngedipkan matanya tak percaya. "Miss, seriusan? Kok awet muda banget? Pakai skincare apa? Tolong kasih tahu kami yang masih berjuang lawan jerawat dong!"

Beberapa siswi langsung mengangguk setuju, mata mereka berbinar penuh harapan.

Miss Leila tertawa kecil, mengibas rambut panjangnya dengan anggun. "Rahasia perusahaan, Nak," katanya sambil berkedip iseng. Melihat itu mereka tak percaya wanita di depan mereka ini adalah seumuran dengan ibu-ibu mereka.

Di pojokan kelas, Halilintar diam dengan sambil netranya menatap wali kelas dengan sorot mata berkedip terkejut. Tapi jika dilihat wajahnya tetaplah datar.

"Awet muda yah," bisiknya dalam hati.

"Sekarang kalian sudah kenal Miss, jadi mari kita lanjut pelajaran hari ini," kata Miss Leila, mencoba mengalihkan perhatian.

Namun, sebelum dia sempat menulis sesuatu di papan tulis, suara Taufan kembali menggema.

"Miss, Miss, bentar deh! Gue masih kepikiran, nih..."

"Apa lagi, Taufan?" Miss Karina melipat tangannya, menatap pemuda itu dengan alis terangkat.

"Miss beneran umur 41? Kok muka Miss kayak umur dua puluh lima'an, sih?"

Blaze yang duduk di sebelahnya mengangguk-angguk. "Iya, sumpah gue kira Miss seumuran mahasiswa di luar sana."

Miss Leila menyipitkan matanya, menyandarkan satu tangan di pinggulnya. "Jadi kalian pikir Miss ini vampire apa gimana?"

Thorn, yang sedari tadi diam, malah mengangguk dengan serius. "Bisa jadi sih, Miss."

Seisi kelas langsung tertawa. Miss Leila mengusap wajahnya, merasa hampir menyerah dengan kelas ini. Tapi dalam hatinya, dia juga geli hati melihat betapa uniknya anak-anak ini.

Namun, Halilintar ikut tertawa dalam diam. "Vampire?" tanyanya dalam hati.



Paginya, setelah menghantar anak-anak, Amato berangkat dengan mobil menuju kota sebelah. Perjalanan memakan waktu beberapa jam.

Setelah tiba di lokasi yang telah disepakati, dia melihat seorang lelaki berdiri di dekat sebuah kedai kopi. Lelaki itu melambaikan tangan ke arahnya.

"Amato!"

Amato segera keluar dari mobil dan berjalan mendekat. "Kau bilang kau punya sesuatu untuk ditunjukkan?"

Lelaki itu mengangguk. "Iya, tapi lebih baik kita bicara di tempat yang lebih aman. Ikut aku."

Mereka masuk ke dalam kedai kopi dan memilih meja di sudut yang jauh dari orang lain. Setelah memesan minuman, lelaki itu mengeluarkan sebuah amplop cokelat dari dalam jaketnya.

"Di sini ada informasi tentang seseorang yang pernah terlibat dalam kes anak kau."

Amato mengambil amplop itu dengan hati-hati, membukanya, dan mengeluarkan beberapa lembar foto serta beberapa dokumen.

Matanya membelalak saat melihat salah satu foto itu. Seorang wanita berambut panjang, dengan tatapan mata lembut. Wajahnya sangat cantik dan anggun dihiasi dengan senyuman indah di wajah.

"Ini... "

"Namanya Leisya," kata lelaki itu.

"Iya aku juga tahu," potong Amato. Dia tahu kalau wanita inilah yang menjadi pengantara mereka ketika menyerbu mansion Aqsa ketika itu.

Amato mengepalkan tangannya. "Jadi, di mana dia sekarang?"

"... ," diam Gibran. "Aku sudah menghubunginya jadi aku akan bawa kau ke tempatnya."

Amato terdiam. Pandangannya lurus menatap Gibran. "Dia di mana sekarang?" tanyanya.

Gibran di depannya menghela napas kasar. "Aku... aku rasa lebih baik kau melihatnya sendiri."

"Maksud kamu?" tanya Amato.

"Aku dan temanku sudah menemuinya tetapi Leisya sendiri ingin mengatakan ini padamu sendiri. Jadi lebih baik kau datang menemuinya," ucap lelaki itu.

"Tapi, aku harap kau jangan pertanyakan lebih lanjut hingga buat Leisya ga nyaman," tambahnya lagi.

Amato mengangkat alis namun tetap menganggukkan setuju. "Baiklah."

Lelaki itu mengangguk. "Baguslah begitu, aku harap kau memahami perasaannya nanti bila kau sendiri lihat keadaannya."

Amato kembali menatap amplop cokelat itu yang masih dalam genggamannya. Jemarinya sedikit gemetar saat ia kembali menarik keluar dokumen-dokumen yang diberikan tadi.

Menarik napas dalam, ia mulai membaca halaman pertama.

Subjek: Halilintar bin Amato.
Status: Diculik pada usia 7 tahun, ditemukan kembali di tahun yang sama.
Lokasi penahanan: Lembah Derwana (Mansion Aqsa).
Kondisi saat ditemukan: Luka fisik dan trauma.

Amato mengepalkan tangan. Ia sudah jangka bahwa Halilintar mengalami hal buruk selama bertahun-tahun. Namun, ia tidak siap untuk membaca lebih lanjut tentang apa yang sebenarnya terjadi selama masa penculikannya.

Halaman berikutnya adalah catatan dari seseorang yang tampaknya seorang informan atau saksi mata.

"Anak itu ga seharusnya dapat bertahan."
"Dia sering dipukul karena melawan."
"Pertama kali bertemu, dia ga pernah bercakap dengan sesiapa."
"Gue ga berani melawan orang itu, tapi tangisan anak itu selalu menghantuiku."

Jantung Amato berdegup semakin kencang. Dadanya terasa sesak, ia tidak dapat bayangkan bagaimana kehidupan anaknya di sana.

Ia melirik salah satu foto di dalam amplop, terdapat foto seorang wanita dengan rambut panjang dan mata yang menatap dengan lembut, Leisya.

Amato berusaha memahami keterlibatan wanita ini dalam kehidupan Halilintar. Ia kembali membaca dokumen berikutnya, kali ini laporan yang lebih rinci tentang sosok Leisya.

Nama: Leisya.
Status: Bawahan Aqsa sebagai doktor peribadi.
Posisi: Tidak diketahui pasti, tetapi tampaknya bukan pelaku utama.
Kaitan dengan Halilintar: Salah satu orang yang diarahkan merawat Halilintar.

Amato mendengus dengan maklumat yang ia baca. Namun, semakin ia membaca, semakin ia menyadari bahwa tidak sesederhana itu.

Leisya bukanlah orang yang menculik Halilintar. Dia adalah seseorang yang pernah terjebak sebelum Halilintar. Tampaknya ia dipaksa untuk berada di dalamnya. Dan saat Halilintar diculik, dia mengambil risiko besar untuk melindunginya.

Amato membaca maklumat lain.

"Dia selalu memastikan anak itu makan."
"Dia pernah dipukul karena membiarkan anak itu melarikan diri."
"Pernah terlihat dia bersama Halilintar di sekitar mansion."

Mata Amato melebar. Leisya... adalah orang yang membuat Halilintar terawat di sana. Amato sangat berterima kasih dengan wanita itu.

Kalau sahaja wanita itu ada di depannya sekarang, sudah dia pastikan dirinya ucap beribu-ribu terima kasih. Tapi sekarang ni ia masih tidak mengetahui ke mana hilangnya wanita itu.



__________________________________________________

Tbc...

SISA HUJAN LUKA [end]Cerita yang buat anda obses. Terokai sekarang