weak heroine - 19

1.2K 225 12
                                        

⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-

000

Seoyeon sedang duduk dibalik meja belajarnya, fokus mengerjakan soal ketika konsentrasinya buyar oleh suara ketukan dari pintu luar kamarnya.

Kemudian, suara berat Seongje yang memanggilnya menyusul "keluar, aku mau bicara."

Seoyeon kontan memutar bola mata malas, lantas menanggapi dengan setengah hati, "malesin banget. Kau saja yang masuk," pintanya.

Pintu kemudian dibuka dan Seongje mendelil datar ke arah Seoyeon yang memutar kursi ke arahnya dengan sikap bossy. Gadis itu bersedekap dada, mengamati Seongje dengan kecurigaan sampai saudaranya tersebut duduk di ujung tepian tempat tidurnya.

"Ada apaan?" Tanya Seoyeon sengsi.

"Kau, apa yang sudah kau lakukan kali ini?" Tidak ada nada kemarahan dari kalimat itu, dan terkesan datar. Tapi ekspresi kemarahan yang tertahan saat Seongje mengucapkan kalimat itu, Seoyeon bisa merasakan intimidasi yang kuat.

Seoyeon tanpa sadar menelan ludah. Sudah beberapa minggu berlalu sejak kejadian Hyungshin dan Eunjang, dan Seongje tidak pernah menyinggung soal keterlibatan Seoyeon. Hampir setiap kali dia bersinggungan dengan saudaranya, Seoyeon selalu was-was akan omelan Seongje, dia menunggu kapan kakak laki-lakinya itu akan mengintrogasinya. Tidak ada tanda-tanda, sampai hari ini tiba.

"Kupikir kau mungkin sudah tahu tanpa aku harus mengatakannya..." Seoyeon menunduk resah. Kalimatnya belum selelsai saat Seongje langsung menyerobotnya.

"Kau, kenapa si brengsek Na Baekjin sampai memintaku membawamu ke Yeoinaru?" Seongje mengerang keras seakan mengeluarkan rasa frustasinya. Imaje semberononya langsung menguap  seketika.

Namun berbeda dengan sikap Seongje, Seoyeon meresponnya dengan keterkejutan yang luar biasa. Matanya membelakak dengan ekspresi super cengo.

"Apa maksudmu Na Baekjin ingin bertemu denganku? Na Baekjin si berandal? Ketuanya Aliansi?"

"Siapa lagi?" Seongje memutar bola mata malas. "Aku sudah repot dengan macam-macam hal. Kenapa kau malah menambah bebanku? Sial. Rencanaku akan kacau kalau begini" Seongje meracau lagi, tampak sangat geram.

Seoyeon mencibir kesal sambil mendelik. Dia dan Seongje jadi saling adu tatapan kesal.

"Siapa yang menyuruhmu masuk organisasi berandal itu? Sumber masalahmu itu ya dari organisasi sialan itu. Dasar, kenapa jadi menyalahkan aku."

Seongje menghembuskan napas berat. "Cih. Pokonya aku akan bicarakan lagi soal ini pada Na Baekjin. Feelingku dia mau ngajak kau gabung jadi anggota Aliansi..."

"Tidak mau," seru Seoyeon, langsung menyerobot ucapan Seongje karena sudah sengsi duluan.

"Pokonya, akan ku urus. Hanya saja kau..." Seongje bangkit berdiri dan menatap Seoyeon dengan tatapan lamat dan mata menyipit, mewanti-wanti, "diam dan jangan terlibat masalah."

Seoyeon mencabikan bibirnya dengan ekspresi merajuk. "Namaku masuk rangking shuttle patch," katanya, seakan mengadu.

"Abaikan saja. Nanti juga hilang," kata Seongje tenang. Kemudian bergerak hendak keluar dari kamar Seoyeon.

Sampai Seoyeon memanggilnya, "apa maksudmu dengan rencana? Apa yang sedang berusaha kau lakukan?"

Seongje berbalik untuk menatap Seoyeon. Tatapan dan ekspresinya telah melunak, membuat Seoyeon turut terpaku. Setelah sekian lama, Seongje menatapnya selayaknya seorang saudara yang menyayanginya.

"Kau akan tahu nanti. Hanya tunggu sebentar lagi," katanya. Sebelum keluar dari kamar Seoyeon dan menutup pintu.

Sementara Seoyeon masih terpaku. Dia tertengun akan sikap Seongje dan dia bersumpah bahwa dia sempat melihat saudaranya tersenyum kecil meski hanya sebentar.

"Mencurigakan," gumam Seoyeon.

Setelah mengobrol dengan Seongje, fokus Seoyeon untuk belajar jadi hilang begitu saja. Dia merutuk dengan kesal sambil bergerak gelisah seperti cacing kepanasan.

"Masalah, masalah, masalah. Apa aku harus pergi ke dukun untuk buang sial? Menyebalkan."

Dia kemudian memperbaiki posisi duduknya menjadi anggun, berusaha untuk menenangkan diri. Dia harus fokus belajar hanya belajar. Jadi dia mengambil satu buku diantara deretan buku belajarnya.

Membuka lembar pertama, sebuah tulisan dalam kolom dibawah salah satu soal menarik perhatiannya.

|  TERPILIH DARI PEMBERI
    SOAL SMA YEOIL, ***JIN NA.
    HADIAH: 3 JUTA WON
    BIAYA SOAL TERPISAH          |

Seoyeon menghentakan tangannya tepat diatas tulisan itu. Dia kemudian memejamkan mata lama dengan pikiran yang berkecamuk.

Na Baekjin ingin bertemu dengannya. Sekujur tubuh Seoyeon tiba-tiba merinding.

Dari rumor yang beredar soal pemimpin Aliansi Na Baekjin adalah seorang petarung handal yang pada saat kemunculannya sudah membuat banyak gebrakan luar biasa.

Meski sering mendengar namanya, Seoyeon sama sekali belum pernah melihat secara langsung orang seperti apa Na Baekjin itu. Orang-orang bilang, dia adalah pemimpin yang ditakuti, kuat, perkasa, cerdik dan sangat jenius. Dia mengumpulkan para pentolan dari sekolah-sekolah di Yeongdeungpo, dan membuat mereka berada di bawah kepemimpinannya. Dengan kekuatan yang dimilikinya, semua orang tunduk padanya.

Bukankah menakutkan bahwa seorang anak SMA memiliki power sebesar itu?

Apa yang diinginkan Na Baekjin dari Geum Seoyeon?

Mengajaknya bergabung ke dalam Aliansi? Seoyeon meragukannya.

•••

Dua laki-laki itu saling bertatapan. Yang satu terkesan santai dan yang satu, ada keengganan yang terselip dibaliknya, seolah-olah dirinya tidak menginginkan keberadaan dirinya sendiri di ruangan itu.

Kantor Aliansi, Yeoinaru.

Na Baekjin duduk dibalik meja kerjanya dengan dagu bertumpu. Matanya yang tajam memandang remeh ke arah Geum Seongje yang datang sendirian, tidak sesuai dengan apa yang diminta dan seharusnya dia lakukan.

"Dimana saudarimu, Geum?"

"Dia tidak bisa datang," jawab Seongje.

Baekjin terkekeh ringan. "Tidak bisa datang, atau kau yang tidak ingin mempertemukannya denganku?" Dia terkekeh lagi, meremehkan.

Tangan Seongje sudah terkepal karena menahan amarah atas tatapan dan sikap superior Baekjin, membuat Seongje merasa seolah-olah berada dibawah kuasanya, dan dia tidak bisa melakukan apa-apa untuk melawannya.

"Tidak kusangka kau adalah kakak yang penyayang," kata Baekjin. "Jadi, kau datang ke sini untuk membantah perintahku? Mau jadi Jo Seungjin berikutnya?"

Kata-kata Baekjin mempengaruhi Seongje, ada rasa takut dalam dirinya terhadap laki-laki yang duduk dibalik meja dihadapannya. Baekjin memiliki aura intimidasi yang sangat kuat, seperti tidak normal. Padahal, mereka sama-sama masih anak SMA biasa.

Namun, harga diri Seongje lebih kuat dibanding rasa takutnya. Dia sudah muak harus menuruti segala perintah Na Baekjin.

"Adikku tidak akan pernah kubiarkan masuk dalam lingkaran setan ini," kata Seongje tegas.

Dan suara tawa Na Baekjin menggema di seisi ruangan.

To Be Continued

ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang