weak heroine - 50

767 128 2
                                        

⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-

000


Pertarungan sengit antara Seongje dan Jo Seungjin terus berlanjut. Pukulan dan tendangan saling beradu, teriakan dan erangan memenuhi ruangan. Seongje, dengan tekad yang membara, terus menyerang Jo Seungjin, meskipun tubuhnya sudah babak belur.

Di sisi lain ruangan, Jihoon, Jeongyeon, dan Wooyoung berhasil melumpuhkan anggota Manwol yang tersisa. Mereka mengalihkan perhatian mereka ke pertarungan antara Seongje dan Jo Seungjin, mengamati dengan cermat.

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka dengan keras. Dua sosok tinggi dan berotot memasuki ruangan, aura mengancam mereka memenuhi udara. Mereka adalah Duo Mokha, Do Seongmok dan Baek Dongha.

Mata Dongha berbinar-binar melihat pertarungan di depan mereka. Dia menyeringai lebar, menantikan "permainan" ini. Seongmok, di sisi lain, mengamati pertarungan dengan tatapan dingin dan analitis.

"Lihat apa yang kita punya di sini," kata Dongha, suaranya riang. "Pertarungan yang menarik."

Seongmok mengangguk singkat.

Dongha menoleh ke Seongmok, alisnya terangkat. "Apakah kita akan ikut campur?" tanyanya.

"Kita akan menunggu," jawab Seongmok. "Kita akan melihat bagaimana pertarungan ini berakhir."

Mereka berdua berdiri di dekat pintu, mengamati pertarungan dengan cermat. Mereka tidak terburu-buru untuk ikut campur, tetapi mereka siap untuk bertindak jika diperlukan.

Seongje, yang menyadari kehadiran Duo Mokha, tidak mengalihkan perhatiannya dari Jo Seungjin. Ia tahu bahwa mereka adalah musuh yang berbahaya, tetapi ia tidak peduli. Ia hanya fokus pada satu tujuan: mengalahkan Jo Seungjin.

"Kau akan membayar untuk apa yang kau lakukan pada adikku," geram Seongje, melayangkan pukulan keras ke wajah Jo Seungjin.

Jo Seungjin terhuyung ke belakang, tetapi segera pulih. Ia menyeringai sinis, menatap Seongje dengan tatapan meremehkan.


Seongje tidak mempedulikan ejekan Jo Seungjin. Ia terus menyerang, melupakan rasa sakitnya. Ia hanya fokus pada satu tujuan: membuat Jo Seungjin membayar.

Pertarungan terus berlanjut. Seongje dan Jo Seungjin saling bertukar pukulan, sementara Duo Mokha mengamati dengan cermat. Mereka berdua menunggu kesempatan untuk ikut campur, siap untuk menghabisi Jo Seungjin jika perlu.

Pertarungan mencapai puncaknya. Seongje, dengan sisa-sisa tenaga dan amarah yang membara, melayangkan pukulan terakhirnya. Pukulan itu mengenai wajah Jo Seungjin dengan keras, membuatnya terhuyung ke belakang dan jatuh ke lantai.

Jo Seungjin terbaring tak berdaya, pingsan. Namun, Seongje belum puas. Ia terus melayangkan pukulan demi pukulan, melampiaskan amarahnya yang tak terkendali.

"Ini untuk adikku!" teriak Seongje, setiap pukulan yang mendarat di wajah Jo Seungjin.

Wooyoung, Jihoon, dan Jeongyeon menyaksikan pemandangan itu dengan ngeri. Mereka tahu bahwa Seongje sangat marah, tetapi mereka tidak menyangka ia akan bertindak sebrutal ini.

Duo Mokha, yang berdiri di dekat pintu, juga terkejut dengan keganasan Seongje. Mereka saling bertukar pandang, terkesan dengan tekad dan amarah cowok itu.

"Dia benar-benar ingin membunuhnya," gumam Dongha, matanya berkilat kegembiraan.

"Kita harus menghentikannya," kata Jeongyeon, suaranya khawatir. "Dia akan membunuhnya."

Wooyoung mengangguk, melangkah maju untuk menghentikan Seongje. "Seongje, cukup!" serunya, meraih lengan Seongje.

Seongje menoleh ke Wooyoung, matanya merah dan penuh amarah. "Lepaskan aku!" teriaknya, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Wooyoung. "Aku akan membunuhnya!"

"Seongje, ini sudah cukup," kata Wooyoung, suaranya tegas. "Dia sudah kalah."

Seongje menatap Jo Seungjin yang terbaring tak berdaya di lantai. Ia melihat wajahnya yang babak belur, darah mengalir dari hidung dan mulutnya.

Perlahan, amarah Seongje mulai mereda. Ia menghela napas berat, menyadari apa yang telah ia lakukan.
"Kau benar," gumam Seongje, suaranya serak. "Ini sudah cukup."

Wooyoung menarik Seongje mundur dari Jo Seungjin. Mereka berdua berdiri di sana, terengah-engah, menatap Jo Seungjin yang terbaring tak berdaya.

Jihoon dan Jeongyeon mendekati mereka, wajah mereka pucat. Mereka tidak menyangka Seongje akan bertindak sebrutal ini.

Duo Mokha, yang masih berdiri di dekat pintu, mengangguk singkat. Mereka telah menyaksikan pertarungan yang brutal, dan mereka terkesan dengan tekad dan amarah Seongje.

Seongmok melihat tas yang terletak di sudut ruangan. Tanpa banyak berpikir, langsung menghampirinya. Membuka tas itu dan melihat uang dan berkas di dalamnya.

"Kita sudah selesai di sini," kata Seongmok, suaranya datar. "Mari kita pergi."

"Ah, tidak seru," ungkap Dongha, merasa kecewa karena tidak memiliki siapa pun yang harus dia lawan karena Jo Seungjin sudah ditumbangkan.

"Hei," panggil Dongha, membuat keempat cowok itu menoleh padanya. Tatapan Dongha yang nakal tertuju pada Seongje. "Kau Geum Seonje kan?  Jo Seungjin itu tidak ada apa-apanya loh. Ayo bertarung denganku lain waktu dan akan kuajari kau bagaimana jadi orang yang kalah." Dongha terkekeh licik, sebelum berbalik dan berlalu menyusul partnernya. "Dah, para pecundang!"

Mereka berdua berbalik dan berjalan keluar dari ruangan, meninggalkan Seongje, Wooyoung, Jihoon, dan Jeongyeon bersama Jo Seungjin yang tak berdaya.

"Ayo pergi," ajak Seongje pada Wooyoung, yang membantunya berjalan.

Tidak memperdulikan Jihoon dan Jeongyeon yang masih tinggal dalam ruangan.

Tangan Jihoon terkepal kuat saat dia menatap Jo Seungjin yang tidak sadarkan diri di lantai. Orang yang katanya kuat dan tidak terkalahkan itu dijatuhkan oleh Geum Seongje.

Jihoon merasa tidak terima. Semua orang tampaknya membuat peningkatan. Tapi dia, masih berjalan di tempat. Reputasinya hancur setelah Park Humin mengalahkannya, apa yang dia punya sekarang, hanya harga diri sebagai eksekutif aliansi.

Sementara itu, di luar gedung. Seongje melepaskan diri dari rangkulan Wooyoung. Energinya mulai pulih, tapi luka-luka di tubuhnya tidak bisa bohong bahwa dia baru saja melewati pertarungan besar.

"Seoyeon akan membunuhku," gumam Seongje. Wooyoung mengangguk setuju.

"Kurasa kau jangan mengunjunginya untuk beberapa saat, sampai lukamu pulih."

"Tidak," tolak Seongje. Dia melepas kacamatanya yang retak dan memasukannya ke dalam saku. "Karena sudah selesai, tidak akan jadi masalah lagi. Ayo kembali ke rumah sakit."

"Wah, kau serius?" kata Wooyoung, kaget. "Karena kau, aku pasti bakal ikutan kena semprot juga."

"Yah, kau tanggung resikonya," balas Seongje acuh.

"Bangsat!"

To Be Continued

ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang