weak heroine - 48

799 143 8
                                        

⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-

000


Ruang perawatan rumah sakit itu sunyi, hanya suara detak jantung dari monitor yang memecah keheningan. Seoyeon terbaring lemah di tempat tidur, pikirannya berkecamuk. Ia masih memikirkan Humin dan ke mana perginya, serta apa yang akan dia lakukan.

Seoyeon merasa sangat khawatir.

Tiba-tiba, pintu terbuka, dan Na Baekjin masuk. Wajahnya dingin dan datar seperti biasa, tetapi ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya. Seoyeon merasakan aura yang berbeda dari cowok ini.

Dia berhenti di ambang pintu, menatap Seoyeon sambil menyeringai.

"Jadi, lihatlah dirimu," kata Baekjin, suaranya datar, tetapi ada nada sarkasme yang tersembunyi. "Rupanya, rencanamu untuk menjatuhkanku harus ditunda, karena kau malah terbaring lemah di sini."

Seoyeon menatap Baekjin dengan tatapan kesal. Ia tidak suka dengan nada bicara Baekjin, tetapi ia juga tidak punya tenaga untuk berdebat.

"Apa maumu?" tanya Seoyeon, suaranya lemah.

Baekjin duduk di kursi di samping tempat tidur Seoyeon, menatapnya dengan tatapan intens. "Aku hanya ingin melihat bagaimana keadaan musuhku," katanya, suaranya dingin. "Dan aku harus mengatakan, kau terlihat sangat lemah."

Seoyeon mengepalkan tangannya, menahan amarah. Ia tahu bahwa Baekjin sedang mencoba memprovokasinya, tetapi ia tidak akan memberinya kepuasan.

"Aku akan baik-baik saja," kata Seoyeon, suaranya datar. "Dan ketika aku sembuh, aku akan menjatuhkanmu."

Baekjin tertawa sinis. "Kau terlalu percaya diri," katanya. "Kau bahkan tidak bisa mengalahkan Jo Seungjin."

Mendengar nama Jo Seungjin, mata Seoyeon berkilat marah. "Jo Seungjin nggak ada hubungannya," katanya, suaranya tajam. "Kau adalah targetku yang sebenarnya."

Baekjin terdiam, menatap Seoyeon dengan tatapan menilai. Ada sesuatu dalam tatapan Seoyeon yang membuatnya merasa tidak nyaman.
Seoyeon, meskipun merasa lemah, menatap mata Baekjin dengan tatapan tajam. Ia menyadari sesuatu yang aneh. Ada kelelahan yang tersembunyi di mata Baekjin, kelelahan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Mungkin, karena dia kurang memperhatikan sebelumnya.

"Kau terlihat lelah," kata Seoyeon, suaranya pelan.

Baekjin tersentak, terkejut dengan komentar Seoyeon. Ia menatap Seoyeon dengan tatapan curiga.

"Apa maksudmu?" tanyanya, suaranya dingin.

"Nggak ada," jawab Seoyeon, mengalihkan pandangannya. "Aku hanya mengatakan apa yang kulihat."

Baekjin terdiam, menatap Seoyeon dengan tatapan intens. Ia merasa ada sesuatu yang aneh tentang percakapan ini.

"Aku akan pergi," katanya, berdiri. "Geum Seoyeon. Aku masih akan menunggumu."

Baekjin berbalik dan berjalan keluar dari ruang perawatan, meninggalkan Seoyeon sendirian. Seoyeon menatap pintu yang tertutup, pikirannya berkecamuk. Ia merasa ada sesuatu yang aneh tentang Baekjin, sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan.

Setelah kepergian Na Baekjin, Seoyeon terbaring di tempat tidurnya, pikirannya masih berputar-putar. Ia tidak bisa melupakan tatapan lelah di mata Baekjin. Ada sesuatu yang mengganggunya, sebuah teka-teki yang belum terpecahkan.

Seoyeon tahu bahwa Na Baekjin adalah sosok yang kuat dan tak tergoyahkan. Baekjin selalu menampilkan aura dingin dan dominan, membuat semua orang takut dan tunduk padanya.

Namun, Seoyeon melihat sesuatu yang berbeda. Ia melihat kelelahan, beban yang tersembunyi di balik tatapan tajam Baekjin. Ia merasa ada sesuatu yang salah, sesuatu yang tidak beres.

"Kenapa dia terlihat lelah?" gumam Seoyeon, menatap langit-langit kamar. "Apa yang membuatnya begitu terbebani?"

•••

Setelah meninggalkan ruang perawatan Seoyeon, Baekjin berjalan menyusuri koridor rumah sakit dengan langkah mantap. Namun, di balik wajah datarnya, pikirannya berkecamuk. Ia tidak bisa melupakan tatapan Seoyeon, tatapan yang seolah menembus pertahanannya.

Selama ini, tidak ada yang berani menatap matanya secara langsung, apalagi melihatnya tanpa gentar. Ia selalu menjaga citra dirinya sebagai sosok yang tak terkalahkan, tanpa emosi, dan tanpa rasa takut.

Namun, Geum Seoyeon berbeda. Ia tidak takut padanya. Dia menatapnya dengan tatapan tajam, seolah-olah dia bisa melihat menembus jiwanya. Dan yang paling mengganggu Baekjin, Seoyeon melihat kelelahannya.

Baekjin memasuki lift dan menekan tombol ke lantai paling atas rumah sakit, menuju roftoop. Ia merasa perlu menyendiri, menjernihkan pikirannya.

Saat pintu lift terbuka, Baekjin berjalan menuju roftoop dengan langkah berat. Ia berhenti dibalik pagar pembatas, menatap ke arah kota yang ramai.

Angin berhembus, menerpa wajahnya.

Ia memikirkan tentang Seoyeon, tentang tatapannya, dan tentang kelelahan yang dilihatnya. Ia tahu bahwa ia tidak bisa membiarkan siapa pun melihat kelemahannya, tetapi ia juga tahu bahwa ia tidak bisa terus-menerus menyembunyikan perasaannya.

Tapi, dari semua orang, Geum Seoyeon adalah orang yang menyadarinya.

Baekjin menghela napas berat. Ia merasa terbebani oleh tanggung jawabnya, oleh harapan yang dibebankan padanya. Ia adalah pemimpin, dan ia harus kuat. Tetapi terkadang, ia merasa seperti akan runtuh di bawah beban itu.

Ia teringat pada masa lalunya, pada masa-masa sulit yang telah ia lalui. Ia teringat pada orang-orang yang telah ia sakiti, pada pengorbanan yang telah ia lakukan.

"Apakah semua ini sepadan?" gumam Baekjin, suaranya pelan.

Ia tahu bahwa ia tidak bisa mundur. Ia tahu bahwa ia harus terus berjuang. Tetapi terkadang, ia merasa lelah, sangat lelah. Sampai rasanya ingin berhenti dan kemudian menghilang.

Baekjin mengerang. Meraung pada angin, dia menatap ke arah kota yang berkilauan, mencoba mencari jawaban. Tetapi kota itu hanya menatapnya kembali, tanpa memberikan jawaban apa pun.

Baekjin menghela napas lagi, mencoba kembali pada ketenangan mutlak. Memasang topeng benggis yang dikenali orang-orang, sebagai dirinya yang sebenarnya. Lalu, dia berbalik, beranjak pergi dari roftoop, dari rumah sakit dan dari Geum Seoyeon.

To Be Continued

A/n

Up lagi!!!

Akhirnya bisa nulis part nya Baekjin yang gini. Lebih detail soal perasaanya.

Jadi, menurut kalian gimana?

Jangan lupa vote dan komentarnya.

ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang