⚠️Warning⚠️
Kata-kata kasar dan tidak beradab
bertebaran, dimohon untuk tidak
meniru. Sekian-
000
Seoyeon mencoba menemui Sieun di rumah sakit, namun selalu gagal. Begitu pula saat ia ingin bertemu Humin, ia tidak pernah mendapatkan kesempatan. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk datang langsung ke Eunjang dan menunggu di sana. Namun, lagi-lagi ia hanya bertemu Hyuntak yang langsung menyuruhnya pergi. Hyuntak pasti sudah tahu, dan cowok itu kecewa.
Tidak tahu lagi harus pergi ke mana atau melakukan apa, Seoyeon akhirnya duduk sendirian di sebuah taman. Tiba-tiba, seseorang datang menyapanya. Seoyeon agak terkejut akan kedatangannya tapi kemudian dia segera menjadi santai lagi.
"Seoyeon, apa yang sedang kau lakukan di sini sendirian?"
Seoyeon menoleh dengan wajah muram. "Ah, Hakho... Aku nggak tahu lagi harus bagaimana."
"Ada apa? Ceritakan saja padaku," kata Hakho, penuh perhatian.
Seoyeon menghela napas berat, dia ragu untuk menceritakan masalahnya pada Hakho, karena masalah ini juga ada kaitannya dengan aliansi dan Hakho adalah bagian dari kelompok itu.
Ji Hakho. Siapa yang mengira bahwa Seoyeon dekat dengannya?
Seoyeon sudah mengenal Hakho sejak SMP, sebelum terbentuknya Aliansi. Itu sudah cukup lama, tapi mereka masih berhubungan, meski jarang bertemu.
Hakho pernah menyelamatkan Seoyeon dari salah satu anggota Manwol-geng yang sempat menguasai Yeongdeungpo sebelum Aliansi.
Sejak awal, Hakho sudah mengetahui identitas Seoyeon sebagai saudari kembar Seongje, tapi dia tetap diam dan tidak menggemakan tentang hal itu pada siapa pun.
"Aku merasa bersalah pada temanku dan ingin meminta maaf, tapi sulit sekali untuk menemuinya," kata Seoyeon, tidak benar-benar mengungkapkan keseluruhan.
Tapi Hakho sudah paham. Karena sebenarnya, Hakho melihat langsung apa yang terjadi hari itu. Perkelahian Seongje dengan Ular Putih Eunjang, dan bagaimana tindakan Seoyeon membuat Park Humin kecewa. Tapi Hakho tidak bisa mengatakan bahwa dia tahu pada Seoyeon.
Hakho menghela napas, "Aku mengerti. Ini pasti sulit buatmu." Dia menatap Seoyeon dengan tatapan lembut, mencoba menyembunyikan pengetahuannya tentang kejadian sebenarnya. "Apa kau sudah mencoba menghubunginya?"
Seoyeon menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku takut mereka tidak mau lagi berbicara denganku."
"Mungkin mereka hanya butuh waktu untuk menenangkan diri," kata Hakho, mencoba menenangkan Seoyeon. "Kau harus mencobanya lagi nanti. Jangan menyerah."
Seoyeon terdiam, memikirkan kata-kata Hakho. Dia tahu Hakho benar, tapi rasa bersalahnya terlalu besar untuk membuatnya berani menghubungi teman-temanya.
"Aku akan menemanimu," kata Hakho tiba-tiba. "Jika kau mau, kita bisa pergi menemuinya bersama."
Seoyeon menatap Hakho dengan terkejut. "Kau mau menemaniku?"
Hakho mengangguk, "Tentu saja. Aku nggak mau kau terus merasa bersalah begini. Aku akan membantumu."
Seoyeon meringis, "Terima kasih, Hakho. Tapi kurasa nggak perlu." Jika menemui Humin dan Sieun bersama anggota aliansi lainnya, entah apa yang akan terjadi.
"Kau nggak mau?"
Seoyeon hanya diam, tidak tahu harus memberi alasan apa.
"Nggak apa-apa," kata Hakho sambil tersenyum. "Aku mengerti. Tapi ingat, aku akan selalu ada untukmu. Jika kau berubah pikiran, jangan ragu untuk menghubungiku."
Seoyeon mengangguk, "Terima kasih."
Keduanya terdiam untuk beberapa saat. Seoyeon masih memikirkan kata-kata Hakho. Dia tahu dia harus meminta maaf kepada teman-temannya, tapi dia tidak tahu bagaimana caranya.
"Aku takut," kata Seoyeon tiba-tiba.
Hakho menatap Seoyeon dengan lembut. "Aku tahu," katanya. "Tapi kau nggak perlu takut. Kaukan nggak sendirian."
Seoyeon tersenyum, "Terima kasih, Hakho."
"Ayo kita pulang," kata Hakho. "Uudah larut malam."
Seoyeon mengangguk. Mereka berdua berdiri dan berjalan pulang bersama.
Dalam perjalanan, Seoyeon tiba-tiba memikirkan sesuatu, sesuatu yang membuatnya sangat penasaran hingga dia tidak tahan untuk segera mengeluarkannya.
"Kenapa kau bergabung dengan Na Baekjin dan aliansi?"
Sejenak, Hakho tertengun atas pertanyaan itu, tapi kemudian dia segera menguasai diri dan menjawab dengan tenang.
"Untuk balas budi."
Alis Seoyeon menekuk tidak paham. Hakho yang melihat ekspresi Seoyeon, terkekeh pelan, merasa gemas, membuatnya tidak tahan untuk mengajak-acak rambut gadis itu.
"Hei!" tegur Seoyeon, segera menata rambutnya kembali.
"Akan kuceritakan lain kali," kata Hakho. Seoyeon mengangguk pasrah.
"Baiklah," jawab Seoyeon singkat, meskipun rasa penasarannya masih belum terjawab.
Mereka melanjutkan perjalanan dalam diam, namun pikiran Seoyeon dipenuhi pertanyaan tentang alasan Hakho bergabung dengan Na Baekjin. Ia menatap Hakho dari samping, mencoba mencari petunjuk di wajahnya, namun Hakho terlihat tenang dan santai.
Sesampainya di depan rumah Seoyeon, Hakho berhenti. "Sampai jumpa besok," ucapnya sambil tersenyum.
Seoyeon membalas senyumnya. "Sampai jumpa," katanya. Sebelum berbalik, ia memberanikan diri bertanya lagi, "Apa ini ada hubungannya dengan masa lalumu?"
Hakho terdiam sejenak, menatap Seoyeon dengan tatapan yang sulit diartikan. "Mungkin," jawabnya akhirnya, "tapi bukan sesuatu yang perlu kau khawatirkan."
"Aku akan khawatir," bantah Seoyeon, "Karena kau temanku."
Hakho tersenyum mendengar perkataan Seoyeon. "Aku tahu," ucapnya lembut, "Terima kasih." Ia mengulurkan tangannya dan mengacak pelan rambut Seoyeon sekali lagi. "Aku harus pergi. Istirahatlah yang cukup."
Seoyeon mengangguk. Ia memperhatikan Hakho berjalan menjauh, punggungnya perlahan menghilang ditelan kegelapan malam.
Seoyeon menghela napas, sebelum berbalik dan masuk ke dalam rumahnya. Orang tuanya belum pulang, seperti biasa, mereka pasti akan pulang larut. Tapi tampaknya, Seongje sudah berada di rumah, sebab Seoyeon melihat motor saudaranya sebelum dia masuk.
Blazer merah Ganghak tersampir di lengan sofa, sementara Seoyeon mencari sosok Seongje dan menemukannya berada di kamarnya sedang memainkan game menggunakan VR Box, membuat Seongje tidak menyadari kehadiran Seoyeon di kamarnya.
Umpatan demi umpatan terlontar dari Seongje yang tampaknya sedang memainkan game pertarungan. Seoyeon menghela napas berat, dia hendak mengabaikannya sampai dia tidak sengaja melihat memar di bagian leher depan Seongje. Segera, Seoyeon menjadi khawatir.
Sesuatu telah terjadi.
Seoyeon menghentikan Seongje yang sedang bermain, tidak perduli protesan yang Seongje lemparkan, dia justru lebih terkejut dengan lebih banyak memar di wajah Seongje.
"Hei! kau berantem dengan siapa lagi? Sialan, lihat memar di tenggorokanmu, orang itu mau membunuhmu ya?" Mata Seoyeon sudah berapi-api karena kesal. Tapi Seongje menangapinya dengan acuh.
Melempar VR Box ke atas kasurnya, Seongje mengambil minuman kalengan dari kulkas mini di kamarnya. Membiarkan Seoyeon keluar dan masuk lagi membawa kotak p3k. Lalu mulai mengobati lukanya sambil mengomel.
Seongje yang tadinya diliputi amarah yang meluap-luap, perlahan-lahan menjadi lebih tenang dan santai. Untuk kali ini saja, omelan Seoyeon adalah hal yang membuatnya melupakan masalahnya.
To Be Continued
A/n
Ji Hakho akhirnya nongol juga. Sesuai manhwanya ya, Hakho munculnya setelah arc roftoop Sieun vs Seongje.
Kedepannya, Hakho bakal lebih sering muncul, ditunggu ya~
Seperti biasa, jangan lupa vote dan komentarnya~
KAMU SEDANG MEMBACA
ᴡʜᴄ: ᴡᴇᴀᴋ ʜᴇʀᴏɪɴᴇ ✓
FanfictionRumor itu menyebar dan dalam sekejap, kehidupan tenang Geum Seoyeon mulai terusik. Weak Hero Class | Fanfiction Geum Seoyeon ft All Char WHC Alternative
